Jendela Kebenaran

Sepanjang Aku ada selama ini, Agama adalah segalanya. Karena Agama, Aku tetap bisa hidup dan mampu melakukan sebuah proses kehidupan lebih panjang dan bermanfaat. Aku kecil adalah sosok manusia yang masih kering dan nilai-nilai Agama. Aku kecil hidup di tengah gersangnya Agama sehingga ini pun meragukan identitas Aku sesungguhnya saat Tuhan menciptakan Ku lewat rahim Sang Ibu Ku.

Aku besar sudah mulai mengenal mana benar dan salah, haram dan dosa, dan begitu seterusnya. Aku besar semakin mengenal dan berkenalan dengan Agama saat Aku besar ditemani sekian banyak buku Agama. Memang benar kata teman ku, Agama adalah media mengenal Tuhan. Namun mengapa mereka yang merupakan alumni pesantren dan memiliki basis agama yang kuat kemudian melupakan Agama ketika belajar filsafat? benarkah Agama dan Filsafat tidak pernah bersahabat dan berjabat tangan demi sebuah pencarian kebenaran sejatinya?

Iklan

2 comments

  1. permisi, pak yamin

    ini mau berusaha menjawab pertanyaan di akhir tajuk di atas, kalau tidak tepat dibilang berdiskusi 🙂

    agama dan filsafat, dua dimensi inilah yang kita ketahui selalu memberikan inspirasi manusia, utamanya semenjak peradaban yunani dibongkar kembali oleh pemikir islam. meskipun jalan refleksi sebagai core dari filsafat kritis sudah dimulai jauh sebelum pemikir yunani berkhusuk-khusus mempertanyakan segalanya, menanyakan semua yang mereka temui dan hadapi. namun demikian, goresan sejarah hanya bisa menjelaskan bahwa tradisi filsafat pada kebudayaan yunani klasiklah yang kemudian sudah menaburkan benih-benih ilmu pengetahuan modern yang menjadi seperti saat ini. “mother of sciense”, katanya.

    aduh, maaf kalau bagian tadi malah menyuplik historisitas filsafat. bahwa sejak bapak adam dan ibu hawa yang dipercayai sebagai pangkal nafas kemanusiaan, dari sana sudah dapat kita lihat sifat kritis manusia yang menjadi perhatian filsafat. kisah samawi tentang pertanyaan-pertanyaan adam kepada sang penciptanya, tuhan itu, setidaknya memang mengingatkan bahwa kritis adalah kodratnya. dan agama, sebagai pendewasaan tak berkesudahan dari sang pencipta, menurut saya tak bisa menolak dasar kodrat itu. maka kaitan dengan pertanyaan soal persahabatan antara agama dan filsafat seperti pak yamin gelontorkan di awal, — menurut saya lagi — tentulah sesuatu yang secara kodrati menjadi tantangan. untuk apa? tentu juga untuk membawa pendewasaan yang saya maksud tadi kepada kebermaknaan yang hakiki.

    dan mengenai fenomena para santri (alumni pesantren) yang melupakan keyakinan (agama) lantaran masuk dalam dunia filsafat, saya kok melihatnya dari sisi proses. maminjam pikiran whitehead dengan filsafat organismenya, bahwa “menjadi” sebagai proses panjang dari potensi-potensi pengalaman yang disebutnya “entitas aktual” itu tak pernah selesai selama hidup itu berjalan. mungkin, teropongan semacam ini terlihat terlalu lebar dan luas, itu resikonya. dan kalau pandangan yang lebih detail dari proses panjang itu musti difragmentasikan ke dalam fase-fase (misal dinamika perubahan pemikiran seorang santri), tentu satu fase bisa diberikan identitas tetapnya. bahwa ia sedang lupa agama gara-gara larut dalam kegelisahan filsafat. yang begitu juga konsekuensi rasional.

    sedikit berbagi cerita, saya berminat belajar filsafat malah dari pembelajaran saya akan teks-teks agama (islam). dari kehausan saya juga kekaguman saya akan keindahan konsep beragama, maka tetesan penyegarnya malah saya temukan di pergulatan filsafat. ketika saya membutuhkan dukungan jawaban atas keisengan saya terhadap konsep agama, nalar saya mengharuskan untuk berpikir keras, dengan kritisisme filosofis itu.

    lantas, saya kembalikan ke pertanyaan pak yamin di atas: “benarkah Agama dan Filsafat tidak pernah bersahabat dan berjabat tangan demi sebuah pencarian kebenaran sejatinya?” dan saya yakin dalam teks ini terkandung jawaban dasarnya yang sudah terkonsep. kalau saya tertarik untuk menjawab, maka jawaban saya “tidak benar”, karena persahabatan itu ada, dan bahkan terbentang keluasan ruangnya. secara personal, di mana pilihan keimanan saya mensyaratkan untuk selalu berpikir (tafakkarun) saya pahami sebagai modal untuk janji persahabatan untuk menuju kebenaran sejati itu.

    (saya baru berkunjung ke blog pak yamin saat menulis komentar di atas. dan saya baru mengetahui karya-karya buku yang sudah dihasilkan pak yamin. kalau berkenan, saya ingin memiliki buku-buku dimaksud, he…he…he…)

    salam

  2. Yth Bapak Sumasno, filsuf progresif.

    Sangat salut atas ulasan panjjenengan yang begitu mantap. Terlepas dari sekian pendapat yang disampaikan, saya memang sangat setuju bahwa filsafat seharusnya mampu menopang agama dan begitu sebaliknya dalam pencarian kebenaran yang hakiki. Seorang nabi Ibrahim saat pencarian tuhan pun sebetulnya juga menggukan pola-pola soktrates dalam menanyakan sesuatu hal yang terjadi, namun apa yang dilakukan Ibrahim tidak semata kepada filsafat namun kepada agama yang diyakininya saat itu yang masih berada dalam hatinya paling dalam sebab agama itu sendiri berasal dari dalam hati. Kondisi ini tentu berbeda dengan teman-teman alumni pesantren yang berbeda dalam bersikap dan berpikir. Itulah yang saya alami ketika ada teman-teman dari pesantren yang kemudian mencoba melepaskan diri dari frame agama saat membicarakan tentang dunia.

    Terkait dengan buku-buku yang Pak Sumasno maksud, boleh saja kalau berkenan memilikinya dan saya sangat senang, sepertinya di Gramedia Veteran dan Duta Mall ada, he…3x. Sukses selalu untuk bapak filsuf muda dan progresif. Ajari saya berfilsafat jikalau Bapak Sumasno berkenan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s