Ironi Penyelenggaraan Pendidikan Minus Fasilitas

Harian Banjarmasin Post_Kamis, 4 Juli 2019 (https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/07/04/ironi-penyelenggaraan-pendidikan-minus-fasilitas)

Cukup mengagetkan dan menyesakkan dada membaca tajuk harian Banjarmasin Post berjudul “Sekolah di Bangunan Tua” yang memberitakan bahwa ada sekolah dasar negeri di kota Banjarmasin yang masih menempati bangunan dengan usia yang sudah lebih 40 tahun.

Para siswanya yang sedang belajar sering terganggu debu dari lantai atas karena bangunannya mulai keropos dan sudah keropos. Ironisnya, sekolah tersebut padahal sudah menyandang sebagai sekolah berstandar nasional.

Yang lebih ironis lagi, ketika dilakukan cek dan recek, ternyata tidak hanya satu sekolah, ada banyak SD lain di Kota Banjarmasin yang memakai bangunan tua dari bahan papan yang melapuk (01/07/19).

Jika kemudian dimunculkan pertanyaan, apakah kondisi yang sama juga terjadi kepada sekolah-sekolah lain di luar kota Banjarmasin yang kebetulan belum terungkap ke ruang publik? Kita semua tidak tahu. Semoga ini tidak memberikan refleksi menyeluruh mengenai bangunan sekolah yang hancur dan tidak layak pakai di Kalimantan Selatan.

Jika harus menjadi refleksi atas realitas bangunan sekolah rapuh, barangkali itulah kondisi sejujurnya bahwa penyelenggaraan pendidikan di republik ini selalu mengalami karut marut. Itulah kenyataan pahit penyelenggaraan pendidikan di republik ini dimana masih banyak sekolah yang secara fasilitas tidak memadai dan belum layak disebut sebagai sekolah yang pantas untuk melakukan proses pendidikan dan pembelajaran.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Banjarmasin yang disebut sebagai pusat pendidikan, ibu kota provinsi, pusat peradaban, dan dimungkinkan dipandang jauh lebih maju ketimbang daerah-daerah lain masih menyisakan masalah dalam fasilitas bangunan-bangunan sekolah yang tidak layak untuk proses belajar.

Terlepas apapun jawabannya, selama situasi dan kondisi belajar selalu berada dalam kondisi memprihatinkan dan negara kemudian selalu absen dalam pelayanan pendidikan yang mencerdaskan, kejadian berulang ini akan terus muncul sebagai bagian dari keadaan bahwa itulah kondisi pendidikan ke depannya.

Upaya untuk secara serius menaikkan peradaban bangsa, mendorong pencerdasan dan peradaban akan selalu terhambat oleh minusnya fasilitas yang disediakan oleh negara bagi rakyatnya.

Agenda pembangunan untuk melahirkan dinamika pendidikan yang dapat mengangkat peradaban bangsa menjadi sebuah kemustahilan. Sampai kapanpun, kita tidak akan pernah naik kelas menjadi bangsa yang besar.

Ini berarti bahwa mereka yang sedang belajar dalam fasilitas apa adanya akan tetap menjadi masyarakat yang terbelakang, terabaikan hak dasarnya untuk memeroleh pelayanan pendidikan yang mencerdaskan sehingga dengan demikian mereka pun kehilangan masa depannya.

Matinya Energi Perubahan

Setiap kita yang hidup di setiap zaman menghendaki agar terjadi perubahan dalam rangka menjadi bangsa maju. Setiap kita menginginkan agar terjadi gerakan untuk berjuang demi menaikkan kelas kualitas dan kelas diri menjadi masyarakat terdidik.

Setiap kita yang berada di puncak sebagai pemimpin bertanggung jawab terhadap nasib masyarakat anak didik yang sedang bermimpi, memiliki harapan, membangun mimpi berjuang untuk masyarakat cerdas.

Persoalannya adalah realitas tentang adanya bangunan sekolah hancur dan tidak layak huni menjadi bukti bahwa itulah awal dari kehancuran penyelenggaraan pendidikan yang mencerdaskan dan mencerahkan. Awal kehancuran sebuah peradaban bukan karena sangat sedikitnya para akademisi, sangat sedikitnya para guru, dan sangat sedikitnya manusia suci yang berdoa untuk perubahan.

Ada yang lebih serius dan mengejutkan dimana ini terkait dengan matinya energi pendidikan. Itu dapat terjadi karena hilangnya tanggung jawab pemimpin dalam menjalankan mandatnya untuk melahirkan kebijakan-kebijakan pendidikan yang membangun, berorientasi kepada pengadaan fasilitas bangunan sekolah untuk mempermudah masyarakat anak didik belajar.

Para pemimpin yang gamang dalam memproduksi kebijakan pendidikan menjadi sumber dari matinya energi pendidikan di sekolah. Pasalnya, masyarakat anak didik harus belajar apa adanya dengan fasilitas sangat miskin dan mengenaskan, pada sisi lain, mereka dituntut untuk dapat belajar, menjadi orang berprestasi, meraih mimpi besarnya untuk menjadi orang-orang berhasil.

Ini sesungguhnya sebagai pintu masuk bagi hancurnya pendidikan, gagalnya penyelenggaraan pendidikan yang berpihak kepada kepentingan anak didik, dan suramnya masa depan mereka.

Itulah yang disebut sebagai awal yang membuka preseden-preseden buruk tentang kehidupan pendidikan sebab tidak dikelola dengan baik, dengan sempurna, dan dengan tujuan yang jelas serta terukur.

Bagaimana masyarakat anak didik dapat belajar dengan serius sementara fasilitas sudah tidak diperhatikan lagi. Bagaimana mereka sebagai pembelajar dapat menjadi peserta didik dengan antusiasme tinggi untuk berprestasi, sedangkan bangunan sekolahnya sangat tidak layak ditempati untuk proses pembelajaran yang bermakna.

Bukan Sebatas Komitmen

Mendorong agar masyarakat anak didik dapat menjadi berprestasi merupakan sebuah mimpi dan harapan besar. Memberikan motivasi yang tinggi kepada mereka merupakan langkah tepat. Memberikan fasilitas yang representatif kepada anak didik merupakan sebuah kewajiban.

Dengan kata lain, komitmen dalam penyediaan fasilitas pendidikan dan pelayanan pendidikan bukan semata dilisankan, namun dipraksiskan. Mempraksiskan komitmen tidak cukup dituangkan dalam usulan prorgam kerja dalam bentuk rehab bangunan, dan sejenisnya, namun harus diterjemahkan dalam kinerja yang membuahkan bukti nyata.

Oleh sebab itu, kita sebagai publik dan masyarakat menjadi kaget apabila masih ada sekolah yang tidak layak pakai untuk proses belajar mengajar di Banjarmasin. Seharusnya kota seribu sungai ini menjadi kota percontohan bagi daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan. Banjarmasin sebagai pusat kemajuan dan peradaban.

Kesadaran Baru Pendidikan

Apa yang sudah terjadi di hadapan mata kita sesungguhnya menjadi pelajaran berharga bahwa sesungguhnya berpendidikan menjadi amanat bersama untuk direalisasikan sebagai bentuk membangun peradaban bangsa.

Saat ini sudah terlalu banyak orang terdidik yang menjadi pejabat dan pengambil kebijakan baik di pusat maupun daerah. Mereka yang terdidik sebagai pelayan publik sudah semestinya melakukan redefinisi tanggung jawab dalam pelayanan pendidikan.

Tanggung jawab dalam pelayanan pendidikan adalah menyediakan fasilitas baik dalam perangkat lunak maupun perangkat keras agar para masyarakat anak didik menjadi nyaman belajar, aktif menuntut ilmu, antusias mengikuti proses pembelajaran, dan menjadi subyek-subyek kritis untuk menempa dirinya menjadi pribadi-pribadi mandiri dan kreatif.

Oleh sebab itu, pelayanan pendidikan yang melayani sudah seharusnya menjadi titik tolak untuk melahirkan kesadaran baru berpendidikan bahwa semua lini birokrasi menjadi berkewajiban menyediakan seluas-luasnya pelayanan pendidikan yang bisa diakses semua tanpa diskriminasi.

Kini saatnya menegaskan diri untuk bergerak, berjuang, dan bekerja dengan kesadaran baru demi masa depan pendidikan bangsa, bukan kepentingan pribadi dan golongan. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s