Disorientasi Pendidikan Kita

Rabu, 13 Februari 2019 07:31 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2019/02/13/disorientasi-pendidikan-kita)

Oleh: MOH. YAMIN, Penulis buku-buku pendidikan

Preseden buruk dan ironi kembali menimpa dunia pendidikan kita. Berita ini datang dari kota Gresik, Jawa Timur, tepatnya di SMP PGRI Wringinanom. Dalam kronologi kejadian melalui video yang sempat viral tersebut, seorang siswa berinisial AA (15) ditegur sang guru, Nur Khalim (30) karena merokok dalam kelas. Merasa tidak terima atas teguran sang guru, AA kemudian melakukan perlawanan balik dengan menoyor kepala dan memegang leher guru. Itu dilakukan lebih dari satu kali.

Masih dalam video tersebut, tidak ada perlawanan sama sekali dari sang guru dan dia hanya diam serta terdiam, seolah secara sengaja membiarkan apa yang dilakukan si siswa kepada sang guru (02/02/18). Entah apa yang melandasi sikap diamnya itu, apakah khawatir ketika melakukan tindakan balik kepada si siswa, ini dapat mengubah posisi kejadian dari “siswa menganiaya guru” menjadi “guru menganiaya siswa”. Mungkin jawaban sementara adalah itu.

Terlepas setelah preseden buruk video itu menjadi viral dan jajaran pemerintah daerah setempat secara sigap mengambil sikap tegas, termasuk aparat kepolisian dengan cepat memanggil siswa AA, orang tua siswa, sang guru, didampingi perwakilan PGRI, Dinas Pendidikan dan pihak terkait untuk menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan yang berakhir dengan damai (http://jatim.tribunnews.com), ini tetap menjadi sebuah preseden buruk dalam dunia pendidikan kita.

Potret penyelenggaraan pendidikan bagi pembangunan karakter anak didik yang beradab tampaknya sedang mengalami anomali. Praksis pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan sikap hormat, tawadu, dan nilai-nilai bajik lainnya kepada anak didik tidak mampu dilakukan dengan sedemikian rupa.

Proses pendidikan yang mengenalkan kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan kebajikan dalam kehidupan anak didik mengalami kendala sangat luar biasa.

Apabila dimunculkan sebuah pertanyaan, siapakah yang bersalah dalam konteks sikap ketidakterpujian anak didik kepada sang guru di sekolah ini, maka jawabannya bisa beragam. Sekolah dimana guru dalam konteks ini bukan menjadi pihak yang harus bertugas sepenuhnya untuk menanamkan karakter baik dan bijak kepada para anak didiknya.

Sejumlah insiden buruk para guru yang berujung kepada hukum karena guru dianggap bertindak aniaya dan kasar kepada anak didik padahal niatnya adalah untuk membangun kedisiplinan dan nilai-nilai bajik lainnya menjadi fakta nyata mengapa guru kemudian menjadi lebih hati-hati dalam melakukan tugas pendidikan dan pendidiknya di sekolah.

Guru ke depan tidak mau masuk ke dalam jurang yang sama sebab harus berurusan dengan hukum. Guru lebih baik mundur dalam satu langkah untuk mengamankan “nasib dirinya”dengan tidak berlebihan berinteraksi dengan siswa dalam kelas agar tidak terjerat kasus hukum karena dipandang sudah melakukan kekerasan terhadap anak didiknya. Bertindak berlebihan kepada siswa dengan tujuan untuk membentuk kesadaran disiplin dan lain seterusnya adalah tindakan dan sikap yang perlu dijauhi oleh para guru.

Dalam konteks yang sudah menjadi kenyataan dimana AA bersikap tidak santun dan tidak terpuji kepada sang guru tidak bisa seutuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Kita setuju bahwa kehadiran sekolah bagi para anak didiknya menjadi ruang untuk berproses diri, melakukan penguatan kehidupan agar menjadi orang dewasa, pembangunan kemandirian, penciptaan kesadaran diri agar menjadi subjek-subjek diri yang beradab, dan begitu seterusnya.

Sekolah menjadi rumah kedua setelah keluarga, namun bukan berarti sekolah menjadi “rumah sakit” yang bertugas menyembuhkan kebiasaan-kebiasaan buruk para anak didiknya. Kehidupan pendidikan anak, terutama untuk pembangunan karakter bukan menjadi tanggung jawab seutuhnya para guru di sekolah, namun peran keluarga menjadi penting untuk dimaksimalkan.

Apabila ada anak didik dengan sikap dan pandangan hidupnya di sekolah yang mengalami penyimpangan secara sikap dan moral, ini perlu menjadi tanggung jawab orangtua yang dikerjasamakan penanganannya bersama sekolah. Pemaknaan dikerjasamakan dalam penanganan adalah orangtua bersama sekolah perlu membangun persepsi yang sama dalam konteks pendidikan dan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Ada pandangan sepihak yang dibangun sebagian walaupun tidak semua orang tua siswa, ketika anak sudah masuk sekolah, maka apapun dan aktivitas apapun yang dilakukan oleh mereka menjadi tugas dan pekerjaan guru bersama sekolah. Pandangan semacam ini adalah persepsi yang perlu diluruskan. Pasalnya, kebiasaan hidup dan perilaku anak didik yang dibawa dan terbawa selama berproses di sekolah bukan semata refleksi dari apa yang mereka dipelajari di sekolah.

Kehidupan anak didik di sekolah merupakan akumulasi dari hal apapun yang mereka jalani dan lalui. Di antaranya adalah apa yang mereka cerap dan internalisasi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di rumah bersama orang tua serta keluarga besarnya. Untuk itu, membangun karakter anak menjadi tanggung jawab kolektif antara orang tua dan sekolah.

Peran Orangtua Perkuat Posisi Sekolah

Potret kehidupan anak didik ke depan semakin berat dan penuh tantangan. Era abad informasi dimana informasi apapun baik positif maupun negatif dapat dengan mudah diakses dan ditonton oleh generasi anak muda yang masih duduk di bangku sekolah turut menjadi sumbangsih utama dalam kehidupan anak. Kehidupan kepribadian anak ke depan akan lebih banyak diwarnai oleh abad informasi.

Untuk itu, kehadiran orangtua dalam upaya membendung informasi-informasi tidak mendidik bagi anak-anak mereka menjadi taruhannya. Peran orangtua dalam konteks ini mendapat peran penting sebagai upaya memfilter informasi dan berita yang tidak mendidik, yang dapat mempengaruhi cara berpikir dan cara hidup anak-anak mereka.

Kita tidak dapat membiarkan mereka meniru apa yang dibaca dan ditonton. Sikap keingintahuan mereka sangat tinggi dan mencoba meniru yang mereka baca dan tonton juga sangat tinggi. Itulah pribadi dasar anak yang serba meniru dan meniru.

Oleh sebab itu, kemampuan menangkal informasi dan berita tidak mendidik selama mereka berada bersama orangtua perlu diperkuat. Dengan memperkuat peran ini, peran sekolah menjadi kuat untuk memberikan proses pendidikan yang memanusiakan anak-anak mereka di sekolah.

Sebaliknya, ketika peran orangtua di rumah bersama anak-anaknya menjadi lemah dan orangtua terkesan mengabaikan karena merasa sibuk dengan pekerjaannya, maka di sinilah kehancuran masa depan moral anak-anak mereka sedang berada di depan mata. Jangan berharap, mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi sikap hormat dan nilai-nilai bajik lainnya kepada orang lain, termasuk kepada gurunya di sekolah.

Para orangtua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah untuk dapat diarahkan dan dididik, sementara ketika mereka di rumah, orangtua tidak menjalankan perannya sebagai pendidik di keluarga, yang bertugas mengarahkan dan melanjutkan proses pendidikan yang sudah dijalankan di sekolah.

Oleh sebab itu, untuk dapat membenahi perilaku dan kehidupan anak, marilah kita semua mulai dari sekolah, terutama orangtua untuk berhenti memikirkan kepentingan masing-masing. Marilah untuk duduk bersama, menyamakan tujuan bersekolah itu sendiri bahwa berpendidikan bukan semata mencetak para robot manusia yang diukur dari prestasi angka, namun untuk melahirkan manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur.

Manusia berbudi pekerti luhur dapat dilahirkan dengan melakukan proses pendidikan yang dilakukan dan dimulai dari rumah ke sekolah, dari sekolah ke rumah, dan begitu seterusnya. Ketika anak-anak didik terjun ke dalam kehidupan masyarakat, mereka akan memiliki bekal mental yang kuat untuk melangsungkan kehidupannya. Waktu terpanjang dan terlama anak-anak kita belajar sesungguhnya berada di dua tempat: keluarga (rumah) dan sekolah. Memperkuat sekolah untuk pendidikan anak didik harus didukung oleh peran orangtua di rumah. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s