Bulan: Desember 2018

Mengurai Atmosfir Sekolah Pascazonasi

Harian Banjarmasin Post_Sabtu, 1 Desember 2018 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/12/01/mengurai-atmosfir-sekolah-pascazonasi)

OLEH: MOH. YAMIN, Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM)

Sudah dua tahun berjalan kebijakan zonasi sekolah dilaksanakan dimana para siswa dapat bersekolah di daerah terdekat dengan rumah, bermodalkan Kartu Keluarga (KK) sebagai syarat utama, yang dilengkapi dengan dokumen-dokumen lain. Ini berarti para siswa yang masuk lewat zonasi sudah berproses secara pendidikan di sekolah juga sudah dua tahun untuk angkatan pertama.

Hasil saya berdikusi secara mendalam dengan beberapa guru di beberapa sekolah menyebutkan bahwa karena keragaman siswa yang masuk ke sekolah begitu berwarna warni baik secara akademik, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan keluarga, maupun latar belakang ekonomi, maka ini berdampak kepada proses pendidikan itu sendiri di sekolah.

Ada siswa yang memiliki tingkat akademik yang rendah sehingga proses penerimaan pendidikan dan materi pelajaran juga lambat sehingga saat proses pembelajaran di kelas pun, mereka memiliki kemampuan daya serap pelajaran yang tidak sama.

Melakukan proses pendidikan dan belajar dalam kelas bagi anak didik yang rendah secara akademik menjadi sulit untuk menangkap penjelasan dan pemahaman yang disampaikan guru. Ada juga anak didik yang rendah akademik dan kehidupan keluarga yang tidak mendukung dalam proses pembelajaran dan pendidikan.

Ketiadaan orang tua mereka karena meninggal, ada juga yang broken home, ditinggal orang tua sehingga hanya tinggal dengan nenek juga menyebabkan proses pendidikan dan pembelajarannya menjadi terganggu.

Ada juga anak didik yang terlibat narkoba sehingga frekuensi kehadiran ke sekolah jarang masuk. Ternyata ketika diteliti secara lebih lanjut dan mendalam, kehidupan keluarganya juga mengalami broken home. Pada prinsipnya, begitu banyak sisi hidup dan kehidupan kelam para anak didik yang menyebabkan mereka tidak maksimal dalam mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Dengan kata lain, ternyata saat kebijakan zonasi diterapkan dan para siswa sudah belajar di sekolah, mereka ditemukan dengan pelbagai sisi kehidupan yang begitu memprihatinkan.

Pada awal belum dilakukan kebijakan zonasi sekolah, temuan tentang kehidupan anak didik yang berada di bawah garis kehidupan sejahtera tidak dan belum muncul ke ruang publik sehingga ini tidak menjadi bahan diskusi dalam konteks menyadarkan kita bersama tentang begitu banyaknya persoalan kehidupan anak-anak negeri.

Tampaknya, persoalan pendidikan masih berputar kepada sarana prasana pendidikan, bantuan pendidikan, dan lain sejenisnya. Padahal ketika masuk ke dunia sekolah dan memotret kehidupan internal sekolah mengenai kehidupan para anak didik, mereka memiliki cerita dan kehidupan tersendiri tentang tiadanya dukungan orang tua dan keluarga akibat persoalan ekonomi orang tua, kehidupan rumah tangga orang tua, dan begitu seterusnya.

Terlepas dari hal tersebut, mereka sesungguhnya mengalami masa-masa hidup dan kehidupan semacam itu, bukan mereka menghendakinya, namun keadaan yang menjadikan mereka seperti itu. Oleh karenanya, temuan-temuan di lapangan semacam itu setidaknya menjadi satu refleksi kritis bersama bahwa dengan diterapkannya kebijakan zonasi masuk sekolah, ini dapat membuka tabir tentang perlunya kebijakan baru dalam menyediakan layanan pendidikan yang lebih maksimal untuk semua, terutama bagi mereka yang dihadapkan kepada kehidupan keluarga, “yang sedang sakit”.

Setiap anak pasti memiliki mimpi yang sama, menginginkan keluarga yang utuh demi mengawal dan mendampingi mereka dalam proses belajar. Semua orang dan semua anak Indonesia dimanapun berada menginginkan dan menghendaki memiliki orang tua yang lengkap, mutu pendidikan orang tua yang baik, lingkungan keluarga yang baik, dan rumah tangga yang baik dalam konteks penguatan suasana belajar di rumah yang baik. Ketika kehidupan keluarga dan orang tua baik, ini setidaknya menjadi modal bagi proses pendidikan yang baik untuk para anak-anaknya sebelum dan saat mereka masuk sekolah. Ada dukungan penuh keluarga dalam proses belajar dan pendidikan mereka.

Kehadiran Negara

Kebijakan zonasi telah diterapkan dan mereka, para peserta didik yang berproses di sekolah terdekat dengan rumah kini sudah dan sedang belajar. Mereka menjalani kehidupan pendidikan dan pembelajaran di sekolah sesuai dengan atmosfir dan regulasi yang dijalankan di sekolah.

Bagi mereka yang lemah akademik, dimungkinkan akan tertinggal secara akademik namun sekolah dalam konteks ini terus berusaha melakukan yang terbaik dalam penyediaan layanan pendidikan karena pendidikan itu sendiri adalah untuk semua. Secara psikologis, saat awal zonasi diterapkan, sekolah sempat kaget dan tidak siap untuk melaksanakannya dengan pelbagai pertimbangan. Karena ini sebuah kebijakan, sekolah tetap harus siap dan menyiapkan diri secara lahir dan bathin untuk ikut menyukseskannya.

Pada prinsipnya, sekolah sudah bekerja keras dan maksimal untuk menjalankan amanah dari kebijakan zonasi. Kini, kehadiran negara sangat ditunggu untuk ikut memantau perkembangan pendidikan dan belajar para anak didik.

Mereka yang mengalami kehidupan “keluarga tidak sehat”, dihadapkan kepada kenyataan hidup yang tidak mendukung berproses di sekolah, dan begitu seterusnya menjadi dasar pertimbangan agar negara, terutama pemerintah daerah dapat mengambil sikap dengan melakukan pemantauan secara berkesinambungan dan terukur.

Apabila kebijakan zonasi dimaknai agar setiap sekolah secara merata memeroleh para peserta didik dengan latar belakang yang beragam baik secara kemampuan akademik, kehidupan keluarga, dan seterusnya; sekolah selanjutnya sudah melaksanakan amanah dari kebijakan zonasi, kini pemerintah, terutama dinas pendidikan setempat perlu merekap hasil perkembangan para peserta didik, mengevaluasi perkembangan belajar mereka, dan begitu seterusnya.

Pemerintah daerah juga melakukan komunikasi dengan sekolah terkait kesulitan dan kendala yang dihadapi sekolah untuk para peserta didik yang diterima melalui kebijakan zonasi. Salah satu hal mendasar yang menjadi harapan semua sekolah baik di pusat maupun di pinggiran kota adalah perlunya fasilitas yang semakin baik dalam menunjang proses pendidikan dan belajar bagi para peserta didik.

Semua peserta didik mendapatkan fasilitas belajar yang sama. Guru sebagai pengajar dan pendidik yang hadir di kelas-kelas sudah bekerja maksmial dan optimal untuk layanan pendidikan yang mencerahkan dan mencerdaskan. Apabila kita sebagai warga dan masyarakat menginginkan hal terbaik dalam prestasi, sudah semestinya dukungan negara dengan fasilitas pendidikan dan belajar di sekolah diperlukan. Ini bukan berarti tanpa fasilitas yang lengkap, para peserta didik tidak dapat belajar.

Pepatah bijak mengatakan, fasilitas, usaha, dan kerja keras akan menghasilkan hasil yang lebih maksimal ketimbang hanya usaha dan kerja keras saja. Dengan kata lain, menjadi penting untuk memperkuat atmosfir sekolah pasca zonasi dengan intervensi kebijakan negara, terutama daerah dalam konteks mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional. Semoga kita semua semakin menyadari pentingnya pendidikan untuk memanusiakan manusia, menaikkan derajat hidup manusia Indonesia agar menjadi bangsa yang beradab dan bermartabat. (*)

Iklan