Pendidikan Tinggi, Tantangan Global, dan Tahun Ajaran Baru 2018

Harian Banjarmasin Post_Kamis, 30 Agustus 2018 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/08/30/pendidikan-tinggi-tantangan-global-dan-tahun-ajaran-baru-2018)

Oleh: MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, penulis buku-buku pendidikan

Penyelenggaraan pendidikan tinggi tahun ajaran baru 2018 ini sudah dimulai. Perguruan tinggi, terutama negeri sudah melakukan pengenalan kampus kepada para mahasiswa barunya yang disebut Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Selanjutnya, ada satu tema besar dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi yang kemudian perlu menjadi catatan bersama mengenai perubahan arah pendidikan tinggi ke depan yang disebut Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan turunannya. Sejumlah perguruan tinggi (tidak memandang status negeri atau swasta) sudah melaksanakan KKNI di perguruan tingginya, namun banyak juga yang tidak dan belum mengimplimentasikan dengan alasan belum siap, belum melakukan revisi kurikulum sesuai semangat KKNI, dan lain seterusnya.

Salah satu muatan penting disebutkan bahwa kurikulum pendidikan tinggi sudah saatnya merubah dan menggeser paradigma lama menuju paradigma baru. Dalam paradigma lama, kompetensi lebih terfokus kepada pengetahuan. Sementara dalam paradigma baru meletakkan pengetahuan, keterampilan, perubahan sikap dan perilaku mahasiswa dimana mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi sebagai modal hidup di abad 21. Dalam konteks proses, pembelajaran kemudian akan diarahkan pada upaya diri untuk mencari dan membentuk pengetahuan. Pengertiannya adalah dosen dan mahasiswa sama-sama bekerja dalam pembelajaran supaya terjadi sebuah dialog dalam kelas. Dosen sebagai pengajar tentu selanjutnya harus memiliki banyak strategi untuk menghidupkan kelas agar mahasiswa menjadi aktif dan pro aktif dalam kelas. Sementara dalam penggunaan media, maka hal apa pun bisa digunakan selama itu mampu mencapai kompetensi yang akan dicapai. Pada akhirnya, penilaian kemudian harus mampu mencakup banyak hal dan itu harus berkesinambungan. Dalam pendekatan multiple inteligence, penilaian tidak semata kepada kemampuan dan keberhasilan kognitif an sich.

Pertanyaannya adalah apakah beberapa poin yang cukup progresif tersebut mampu dilakukan banyak kampus atau mungkin para dosen? Kita semua mungkin belum bisa memberikan jawaban “iya atau tidak.” Pasalnya, yang mampu membangun kehidupan progresif dalam kelas adalah pengajar itu sendiri. Kendatipun mahasiswa sudah memiliki kemampuan luar biasa, namun itu tidak didukung oleh pengelolaan kelas yang baik, jangan harap akan terjadi sebuah pembelajaran yang menarik dan “memancing” mahasiswa untuk belajar secara kritis dan transformatif. Justru yang terjadi adalah dominasi pengajar dalam kelas. Mahasiswa yang kritis dianggap membangkang sehingga bisa diancam dengan sanksi tertentu yang bersifat akademis. Itulah yang dikatakan Paulo Freire, seorang pedagog dari Brazil. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah semua perguruan tinggi di republik ini sudah siap menerima kurikulum baru tersebut? Pasalnya, tidak semua perguruan tinggi mampu mengimplimentasikan hal tersebut. Alasannya adalah masih rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan itu biasanya terjadi akibat rendahnya minat baca dan banyak yang lain, selain itu juga sangat miskinnya buku-buku yang ada dalam perpustakaan (baca: realitas). Barangkali di kota-kota besar dimana perguruan tinggi baik negeri maupun swasta berada, ketersediaan buku sudah sangat terjamin sebab umumnya infrastruktur pendukung sudah kuat dan baik. Ini berbeda dengan sejumlah perguruan tinggi yang berada di daerah-daerah.

Kini terlepas dari pelbagai kelemahan yang barangkali dialami kebanyakan perguruan tinggi, keinginan pemerintah pusat untuk semakin memajukan pendidikan, termasuk pendidikan tinggi perlu diacungi jempol. Tentu, selain semakin menyempurnakan kurikulum kendatipun saya juga tidak begitu yakin bahwa kurukulum baru itu nanti akan bisa bertahan lama (umumnya akan berganti dan diganti pasca adanya rezim baru), ini selanjutnya membutuhkan respon sangat kritis dari banyak pihak. Dengan kata lain, pendidikan tinggi yang diorientasikan kepada pembangunan multi kecerdasan, kemampuan perguruan tinggi untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru, dan keberadaan perguruan tinggi sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat jangan sampai menjadi retorika belaka. Pasalnya, selama ini realitas menyebutkan bahwa sumbangsih perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan masih sangat minus. Kendatipun ada, itu pun hanya terjadi kepada segelintir kampus semata yang sudah memiliki nama besar atau  yang masih memiliki idealisme. Selain itu, hanya menjadi mesin yang memproduksi sarjana untuk kemudian bisa dipekerjakan. Perguruan tinggi untuk bisa berpikir dan bekerja idealis untuk pembangunan kehidupan bermasyarakat serta bisa menemukan formula—formula baru dalam keilmuan sangat sulit terjadi.

Renungan Bersama

Kita atau siapa pun yang memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap nasib pendidikan tinggi harus segera bekerja sangat keras dan kencang dalam rangka ikut mengawal perubahan kurikulum pendidikan tinggi. KKNI yang menjadi pedoman perlu dijadikan ruang bersama untuk memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan tinggi. Apabila kita kini sudah memasuki pendidikan 4.0, sudah saatnya pendekatan dan tujuan belajar lebih diarahkan pada penguatan life skill atau kurikulum yang berbasis kepada kehidupan nyata demi memberikan investasi pengalaman hidup kepada para mahasiswa agar mereka ke depannya mampu berkompetisi secara kualitas untuk survive. Mengutip pendapat Charles Darwin dengan teorinya yang dikenal the survival of the fittest, manusia yang mampu bertahan hidup bukanlah dia yang kuat, namun mampu adaptif serta beradaptasi terhadap perubahan. Sebetulnya ketika membaca KKNI secara mendetail (baca: KKNI), hal tersebut sudah menjadi catatan sekaligus renungan bagi perguruan tinggi untuk semakin memberikan dan menumbuhkan suasana baru bagi pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk melahirkan manusia Indonesia yang mampu adaptif dan responsif terhadap perubahan. Suasana akademis tentunya kemudian harus dihidupkan dengan sedemikian rupa. Mendukung setiap dosen yang kreatif dan produktif dalam rangka memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan adalah sebuah hal niscaya. Janganlah ada sebuah preseden buruk bahwa dosen diminta kerja produktif dan kreatif sementara dukungan perguruan tinggi terhadap dosen bersangkutan kemudian sangat minus. Pelajaran bersama mengenai banyaknya dosen yang aktif di luar kampus karena dipandang lebih bebas dalam melakukan aktualisasi diri dan pengembangan diri adalah sebuah hal penting untuk menjadi pedoman bersama, terutama para pemangku kepentingan di semua perguruan tinggi.

Perguruan tinggi perlu memberikan wadah sangat representatif bagi para dosen progresif dan produktif agar mereka semakin melambungkan institusinya, terutama dunia pendidikan tinggi sebagai kerja idealis. Kita selanjutnya perlu banyak belajar dari negara-negara lain yang memiliki perguruan tinggi hebat dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mengapa negara seperti Malaysia, Singapura, China atau mungkin negara-negara maju lainnya mampu menjadi penguasa dunia, maka ini karena pendidikan menjadi sebuah ujung tombak terakhir. Perguruan tinggi sebagai lokomotif gerakan pembangunan kehidupan berbangsa benar-benar dihidupkan. Penguatan dana dan lain sejenisnya untuk mengaktifkan para dosen dalam melakukan pengembangan ilmu pengetahuan benar-benar selanjutnya ditunaikan dengan sedemikian konkret dan praksis. Lebih baik mengalokasikan anggaran yang besar untuk pengembangan ilmu pengetahuan ketimbang memanjakan para pejabat negara yang lebih suka menindas kehidupan rakyat. Dengan ilmu pengetahuan semakin maju, maka ini akan mendukung keberlangsungan hidup bangsa. Tidak ada ilmu pengetahuan yang menyesatkan, kecuali disesatkan oleh para pelakunya. Semoga tahun ajaran baru ini menjadi ruh penggerak pembangun peradaban bangsa untuk menjawab tantangan global yang sedang dihadapi bangsa ini. Para pemangku kepentingan, terutama perguruan tinggi dan civitas akademika lainnya bertanggung jawab atas sukses dan tidaknya pendidikan tinggi yang menjawab tantangan global.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s