Mewujudkan Wajah Sejuk Sekolah

Harian Banjarmasin Post_Selasa, 10 Juli 2018

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), penulis buku-buku pendidikan

Tahun ajaran baru pada pertengahan Juli ini (2018) dimulai. Ini berarti bahwa di semua jenjang pendidikan baik tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun sekolah menengah atas dan sederajat melangsungkan penyelenggaraan pendidikan bagi semua peserta didiknya.

Ada harapan bahwa penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan mampu membawa harapan bagi peningkatan mutu kehidupan peserta didik. Peningkatan mutu kehidupan peserta didik bukan hanya kemampuan akademik an sich, namun juga mampu memberikan warna dan kontribusi bagi pembangunan karakter anak.

Tujuan bersekolah dan belajar bukan semata menghasilkan peserta didik yang berprestasi secara akademik, namun mereka juga memiliki kapasitas diri untuk menghargai perbedaan di sekolah.

Menghargai perbedaan yang ada di sekolah berjalin-kelindan dengan perbedaan masing-masing teman-teman sebayanya yang berbeda secara latar belakang ekonomi, pendidikan orang tua, kemampuan masing-masing teman sebayanya dalam mengikuti proses pendidikan dalam kelas.

Ini berarti bahwa setiap di antara mereka yang berbeda secara kemampuan akademik kemudian tidak boleh terjadi saling merendahkan karena ada yang rendah secara akademik. Jangan ada kekerasan dalam sekolah yang mengakibatkan teman sebayanya merasa dikucilkan dan direndahkan, dan begitu seterusnya.

Karena setiap peserta didik memiliki kemampuan ekonomi lebih dari pada yang lain, mereka juga jangan memamerkan tampilan dan penampilan yang berlebihan. Sekolah bukan ibarat dunia fashion dimana masing-masing mereka kemudian berpenampilan sesuai dengan tingkat gaya hidup masing-masing karena tuntutan pasar.

Karena sekolah bukan dunia fashion, marilah berpenampilan sesuai regulasi sekolah dan tidak berlebihan. Karena setiap peserta didik berasal dari latar belakang pendidikan orang tua yang beragam baik dari pinggiran maupun perkotaan, menjadi penting untuk memegang komitmen bersama bahwa setiap peserta didik jangan dan tidak boleh menjustifikasi teman-teman sebayanya sebagai orang yang kampungan atau urban.

Membiarkan masing-masing mereka hadir dengan identitas dirinya sebagai pribadi yang dibesarkan dari latar belakang pendidikan orang tua yang berbeda adalah sebuah hal niscaya. Dengan begitu, semua mereka bisa melebur dalam kehidupan sekolah tanpa berbatas ruang dan waktu. Oleh sebab itu, tujuan belajar kemudian perlu didefinisikan sebagai kerja memahami. Konteks memahami selanjutnya harus dikontekstualisasi dengan segala bentuk aktivitas belajar dimana setiap peserta didik harus diajak untuk saling menghargai perbedaan dalam pelbagai hal. Mengajarkan mereka untuk belajar memahami perbedaan menjadi penentu bagi orientasi kehidupan peserta didik di sekolah. Setidaknya, yang mereka lakukan dengan belajar menjadi modal bagi pembangunan karakter diri mereka sebagai pribadi yang diajak terbuka dalam memandang realitas sekitar. Atas dasar itu, menjadikan suasana sekolah sebagai rumah yang menyenangkan merupakan sebuah hal niscaya. Dengan sekolah yang menyenangkan sebab di antara sesama teman sebayanya saling menghargai perbedaan, pelaksanaan pendidikan kemudian mampu memupuk kebersamaan di tengah perbedaan.

Sekolah adalah rumah yang dapat membangun peradaban ketika kegiatan berpendidikan dibangun dan dijalankan atas dasar pembangunan peradaban. Sekolah menjadi ruang untuk berproses (becoming, bukan being) menjadi manusia.

Sebetulnya, yang mereka pelajari dan alami secara langsung di sekolah menjadi bagian dari menjadikan dirinya sebagai manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya adalah ketika mereka sebagai peserta didik mampu belajar untuk menghilangkan kepentingan sektoralnya dan kemudian bisa menjadi pribadi yang membaur dan serta aktif sebagai pribadi yang mendorong interaksi kehidupan di sekolah yang dinamis.

Manusia seutuhnya adalah mereka yang menghadirkan sebagai pribadi yang berprestasi secara akademis dan kemudian mampu mendorong dengan penuh semangat kepada yang tidak berprestasi untuk bisa menjadi berprestasi. Manusia seutuhnya adalah mereka yang mampu bergerak dinamis untuk membangun lingkungan yang konstruktif sehingga di sekolah terjadi kebersamaan dalam belajar. Yang sudah maju secara akademis membantu dan mendorong yang belum maju secara akademis agar selanjutnya dapat bisa belajar bersama, dan begitu seterusnya.

Oleh sebab itu, ketika hal-hal demikian mampu dilakukan secara komprehensif dan holistik, sekolah akan membawa kebaikan dan kebajikan kolektif. Sekolah menjadi tempat berbagi pengalaman hidup di antara sesama teman sebayanya.

Berbagi pengalaman hidup dan kehidupan yang diperoleh secara langsung dalam dunia interaksi sekolah menjadi pelajaran tersendiri sehingga para peserta didik menjadi semakin belajar dan mempelajari banyak hal untuk menjadi lebih baik dalam menjalankan kehidupannya di sekolah.

Kegiatan pendidikan yang ada di sekolah menjadi kontruktif sebab sudah dirancang dan dipraksiskan atas nama tercapainya prestasi pendidikan para peserta didiknya yang beragam. Oleh sebab itu, pemahaman atas prestasi pendidikan menjadi luas, tidak semata di atas angka-angka kertas, namun bagaimana mereka bisa menjunjung tinggi perbedaan dalam banyak hal.

Wajah Baru Pendidikan

Saatnya untuk meletakkan paradigma bersekolah yang sesuai dengan era kekinian dan menjawab tantangan masa depan. Tantangan pendidikan 4.0 sebagai wujud untuk menjawab tantangan kehidupan di abad 21 yang mendorong agar manusia Indonesia ke depan harus mampu berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan mampu bekerjasama menjadi landasan penting yang harus disusun dan dimuat dalam pembelajaran saat ini dan ke depan.

Kita menghendaki agar manusia Indonesia selanjutnya tidak cukup berbangga diri dengan prestasi akademik di atas kertas, namun mereka kemudian mampu mendayagunakan kemampuan akademisnya untuk dapat berpikir kritis dan kreatif.

Berpikir kritis dan kreatif menjadi sarana untuk membaca peluang dan kesempatan hidup dalam pelbagai hal sehingga prestasi akademis di atas kertas harus diperkuat dengan kapasitas diri kritis dan kreatif agar menjadi manusia-manusia yang berdayaguna baik untuk pengembangan diri maupun lingkungannya.

Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama merupakan komponen lain yang juga perlu dikuasai sebab banyak orang cerdas dan pintar namun mereka lemah dalam berkomunikasi dan bekerjasama. Merasa paling hebat menjadi kendala dalam pembangunan dan pengembangan diri.

Keberhasilan hidup dan menjalani kehidupan tidak cukup dengan prestasi akademis di atas; itu hanya menjadi kebanggaan sesaat di sekolah, namun kehidupan nyata tidak membutuhkan itu lagi. Yang dibutuhkan dan diperlukan adalah bagaimana kita selanjutnya mampu berkomunikasi dan melakukan kerjasama. Dengan kata lain, bagaimana orang lain akan tahu dan mengetahui kemampuan kita sementara kita sendiri tidak pernah berkomunikasi dengan banyak orang, termasuk melakukan kerjasama dengan orang lain.

Oleh sebab itu, saatnya wajah baru pendidikan kita di sekolah diarahkan kepada pembangunan dan pengembangan kecakapan hidup agar para peserta didik menjadi manusia yang bermanfaat untuk semua. Mereka belajar bukan semata dari buku-buku teks, namun juga buku-buku kehidupan yang bersumber nyata dari kehidupan nyata di lingkungan sekitar. Ini menjadi tantangan para guru kita. Semoga mereka selalu menjadi pribadi yang sabar, tulus, dan ikhlas dalam mendidik para anak didiknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s