Menegakkan Martabat Guru

Harian Banjarmasin Post_Sabtu, 06 Februari 2018

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), penulis buku-buku pendidikan

Dunia pendidikan kembali berduka. Seorang guru kesenian di SMAN 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur bernama Ahmad Budi Cahyono dianiaya muridnya sendiri, MH (1/2/2018) yang menyebabkan pembuluh darahnya pecah setelah dipukul dan akhirnya meninggal dunia (02/02/2018). Ini berawal dari MH yang tidak mendengar pelajaran yang disampaikan sang guru dan justru mengganggu teman-temannya dengan mencoret-coret lukisan mereka. Sang guru pun menegur siswa, namun MH tidak menghiraukannya, justru yang bersangkutan semakin mengganggu teman-temannya. Sang guru akhirnya menindak MH dengan mencoret pipinya pakai cat warna. Jauh sebelumnya, Tatang Wiganda (39), guru olahraga di SMP dan SMA Y.A.S Kota Bandung meninggal dunia setelah mendapatkan luka tusukan di bagian perut sebelah kanan. Kejadian itu terjadi pada pukul 16.00 WIB, Senin (22/8/2016). Kejadian serupa juga terjadi di SMP Negeri 3 Kerkap, Desa Tanjung Putus Kecamatan Kerkap. Seorang guru harus menderita patah tulang hidung pasca ditinju muridnya sendiri yang tidak menerima atas teguran sang guru terhadap dirinya di ruang kelas. Peristiwa itu bermula ketika sang guru honorer, Osi Wulandari (24) sedang mengajar pada Jumat (22/7) di ruang kelas VII sekitar Pukul 09.55 WIB. Selanjutnya, ada salah satu siswa bernama AD (16) yang merupakan pelaku duduk di atas meja yang seharusnya tidak pantas untuk diduduki. Sang guru kemudian menegur, namun yang terjadi kemudian adalah sang murid marah dan melayangkan aksi pukulannya ke bagian muka sang guru yang menyebabkan tulang hidung sang guru patah (Radar Utara, 23/07/2016). Jauh sebelumnya, seorang guru bernama Suprihatin (45) guru kelas II di SDN Pelaihari 7, Kabupaten Tanahlaut Kalimantan Selatan harus menderita luka di lengannya karena korban dianiaya oleh orang tua siswa yang tidak terima anaknya dimarahi. Inti persoalannya adalah karena anaknya tidak memakai sepatu  (4/10/2017). Tragedi pendidikan semacam ini dan mungkin tragedi-tragedi pendidikan lainnya yang serupa semakin membuka mata hati kita semua secara lebar-lebar bahwa pendidikan kita ini sedang mengalami anomali yang sangat luar biasa.

Insiden semacam ini tentu sangat menyesakkan dada. Apakah ada yang salah dalam praktik pendidikan kita dan apakah guru sudah kehilangan rasa aman serta marwahnya yang seharusnya dihormati oleh siapapun. Dalam pandangan Pierre Bourdieu, segala perilaku dan tindakan masyarakat sesungguhnya merupakan akumulasi dari kehidupan sosial yang berlangsung baik masa lalu maupun masa kini yang kemudian disebut habitus. Mungkin saja, masyarakat dengan perilaku sedemikian dibentuk oleh lingkungan dimana berada.

Selanjutnya sejumlah pendapat pun mulai bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa ini akibat gagalnya pendidikan dalam konteks memanusiakan manusia. Ini juga terjadi akibat kurangnya menghargai satu sama lain yang kemudian disebut pendidikan toleransi. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ini muncul akibat pendidikan budi pekerti (pendidikan karakter) yang selama ini dilakukan di lembaga pendidikan masih sebatas pada ranah kognitif. Arah pembelajaran dan pendidikan yang berusaha membentuk manusia-manusia berkarakter secara aktualisasi kehidupan dan hidup tidak pernah dibentuk sama sekali.

Terlepas dari pelbagai pendapat tersebut, pendidikan yang seharusnya mampu menggelorakan semangat belajar untuk hidup damai kemudian tidak diimplimentasikan sekali. Ini juga menjadi bukti bahwa selama ini memang dunia pendidikan kita masih pada pemahaman karakter dan budi pekerti artifisial semata. Selanjutnya, ajaran Driyarkara yang mengatakan bahwa pendidikan memiliki tujuan guna memanusiakan manusia muda, yang disebut homonisasi dan humanisasi dimana manusia dipimpin dengan cara sedemikian rupa supaya ia bisa berdiri, bergerak, bersikap dan bertindak sebagai manusia agar yang bersangkutan kemudian memiliki kebudayaan yang tinggi kemudian gagal dijalankan dengan sedemikian rupa. Kini banyak masyarakat kita sudah gagal memaknai setiap apa yang disampaikan oleh gurunya. Guru yang selama ini banyak mengajarkan kejujuran, kesabaran, dan nilai-nilai hidup lainnya kemudian tidak sepenuhnya menjadi bagian dari aktualisasi kehidupan.

Ajaran Ki Hajar Dewantara

Dalam pendapat Ki Hadjar Dewantara, pendidikan memiliki arti dan makna mendalam sebagai pemelihara dan pengembang benih-benih persatuan dan kesatuan bangsa yang telah dirintis oleh para pendahulu bangsa Indonesia. Pendidikan merupakan tonggak berdirinya sebuah bangsa yang besar, berdaulat, berharkat, dan bermartabat. Pendidikan bertujuan menanamkan nilai-nilai hidup rukun dan damai di antara semua elemen bangsa tanpa memandang kelas sosial apapun baik ras, suku, agama, adat dan lain seterusnya. Pendidikan adalah way of life yang bisa mempersatukan segala anak bangsa dalam satu wadah yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di bawah Bendera Merah Putih dengan ideologi Pancasila dan UUD ’45. Pendidikan merupakan bagian dari sebuah pendamai menuju bangsa yang sehat lahir dan batin. Sesama elemen bangsa hidup damai dan tentram, tidak saling menjatuhkan antara satu golongan dengan golongan yang lain atas nama kepentingan tertentu, yang kemudian merusak cita luhur bangsa Indonesia yang merdeka baik secara fisik maupun psikis.

Semboyan ini berasal dari ungkapan asali, yakni Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Namun ungkapan Tut Wuri Handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum selebihnya kurang begitu akrab di tengah masyarakat umum. Entah siapa yang bersalah sehingga seolah praktik pendidikan kita sudah jauh dari pembangunan semangat hidup adiluhung. Apabila harus dijelaskan secara lebih komprehensif, arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Konsep pendidikan inilah yang sepertinya sudah jarang ditemukan.

Guru tanpa Perlindungan

Fenomena kekerasan terhadap guru sesungguhnya menjadi bukti nyata bahwa negara sudah abai terhadap hak guru agar mereka mampu menjalankan tugasnya sebagai pendidik bagi bangsa. Masyarakat baik secara pribadi maupun kelompok juga menjadi bagian yang ikut bertanggung jawab, selalu membiarkan itu terjadi. Fenomena kekerasan terhadap guru ibarat gunung es yang menyimpan bom waktu yang selanjutnya berpotensi dapat menghancurkan marwah guru. Ini juga memberikan ilustrasi bahwa sudah semakin jauh hak guru untuk mendapatkan perlindungan. Kita semua juga sudah memiliki pandangan yang sama bahwa semakin ke depan dengan pelbagai logika globalisasi yang terus menggerus nalar kepekaan sosial dan keadaban publik, masyarakat pun tidak lagi memandang guru sebagai pribadi yang harus dihormati sebagai garda terdepan pembangun moralitas. Masyarakat sudah menilai guru sebagai pribadi instrumental yang dibayar dengan rupiah atas kerja keringatnya mengajar. Ini tentu merupakan suatu kondisi ironis.

Pandangan masyarakat terhadap guru sudah mengalami reduksi nilai dan peran yang awalnya sebagai pembangunan moralitas bangsa menjadi sebatas transfer ilmu pengetahuan. Makna pembangun moralitas bangsa tentu harus dimaknai bahwa kita harus menghargai guru setinggi-tinggi sebagai orang dan pribadi yang memiliki sumbangsih besar bagi peradaban dan keadaban bangsa. Ada nilai-nilai kebaikan dan kebajikan bagi yang lain. Karena ini berbicara tentang nilai-nilai, masyarakat pun seharusnya menghargai kerja keras dan mulia guru dengan penghormatan setinggi-tinggi. Ini berbeda dengan guru sebagai pen-transfer ilmu pengetahuan dimana mereka diukur secara positivistik dengan angka-angka rupiah. Kebaikan dan kebajikan guru kemudian dihargai semata dengan rupiah. Pertanyaannya adalah seperti inikah era penghargaan masyarakat terhadap guru kita hari ini? Apapun jawabannya, selama cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak masyarakat kita sudah sangat mekanistik dan positivistik, ke depan fenomena dan realitas kekerasan terhadap guru akan semakin bertambah baik secara kuantitas maupun kualitas. Ketika ini sudah menjadi realitas, kita semua tinggal menunggu kehancuran dunia pendidikan kita. Pasalnya, yang terjadi adalah lahirnya masyarakat tanpa keadaban publik. Semoga negara dan kita semua yang masih memiliki komitmen terhadap nasib guru masih mau berpikir ulang. Negara dan kita semua berusaha menata kembali cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak demi memuliakan dan menegakkan martabat para guru di republik tercinta ini. Semoga saja…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s