Literasi untuk Pembangunan Peradaban Bangsa

Harian Banjarmasin Post, 19 September 2017 (http://banjarmasin.tribunnews.com/bpost/index.php?hal=6)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, penulis buku-buku pendidikan, menggagas Forum Berpikir dengan Literasi (FoBeLis)

Banyak persoalan bangsa yang harus diberikan catatan kritis dalam perjalanan republik ini. Salah satunya adalah mengenai kondisi generasi muda yang sudah tidak tertarik untuk suka membaca buku. Yang terjadi selanjutnya adalah generasi muda kita kering kerontang dengan pengetahuan yang didapat langsung dari buku.

Yang lebih ironis lagi adalah umumnya generasi muda kita kemudian lebih tertarik menjadi pendengar setia dan kemudian menyerap langsung apa yang disampaikan seseorang dalam forum secara taken for granted. Walaupun apa yang disampaikan tidak seluruhnya benar, ini tetap berarti bahwa begitulah realitas generasi muda kita saat ini.

Hasil PISA 2015 terkait kemampuan membaca yang dirilis 6 Desember 2016 menunjukkan bahwa Indonesia dari 72 negara sebagai peserta berada di posisi 64. Singapura sebagai negara tetangga justru berada di posisi pertama. Selanjutnya, berdasarkan data literasi yang dirilis oleh Central Connecticut State University tahun 2016 terkait peringkat minat baca dalam data World’s Most Literate Nations menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan 60 dari.

Selain itu, pada tahun 2012 Unesco melansir index tingkat membaca orang Indonesia yang hanya 0,001. Itu berarti bahwa dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Ini adalah potret ironis dan memilukan.

Ketika dua data temuan ini dikontektualisasikan dengan kondisi generasi muda kita saat ini, maka ke depan menjadi sangat sulit untuk melahirkan anak-anak bangsa yang memiliki cara pandang jauh ke depan, yang mempunyai visi yang visioner, dan yang kemudian mampu merencanakan agenda-agenda konkret pembangunan di masa depan.

Budaya Copy Paste

Rendahnya membaca buku setidaknya semakin menumpulkan para generasi kita untuk menyerapkan banyak pengetahuan baru. Rendahnya minat membaca kemudian menyuramkan cara berpikir mereka terkait apa saja yang kemudian harus dilakukan dalam konteks membangun menjadi lebih baik serta bermakna.

Kegiatan membaca buku sesungguhnya mendorong setiap orang untuk terus menerus berpikir dan memikirkan banyak hal. Semakin banyak membaca, ini berarti semakin banyak hal yang dapat dilakukan demi pembangunan. Semakin banyak membaca, kondisi ini akan menjadikan seseorang untuk tidak pasif dalam membaca realitas, akan tetapi semakin aktif dan progresif dalam melakukan pelbagai hal yang positif, konstruktif, dan progresif.

Membaca bukan semata aktivitas kegiatan reseptif, melainkan kegiatan produktif untuk dapat melakukan analisis realitas berdasarkan apa yang sudah dibaca. Dengan semakin analitis, ini akan mendorong seseorang untuk terus melakukan kreasi aktivitas yang produktif.

Persoalannya adalah akibat rendahnya minat membaca anak-anak negeri kita, yang terjadi ke depannya adalah semakin hilangnya semangat generasi kita untuk mau melakukan gerakan pembangunan peradaban. Akibat rendahnya minat dan gerakan membaca, anak-anak negeri akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak beradab. Pasalnya, miskinnya pengetahuan karena tidak membaca, mereka akan melakukan budaya menerabas, mengutip pendapat Kontjaraningrat. Budaya menerabas dapat dimaknai bahwa apa yang dilakukan telah melanggar norma kepatutan.

Realitas di depan kita semua mengenai tindakan plagiasi, jual beli ijazah demi mendapatkan gelar akademis, dan lain sejenisnya merupakan kejahatan akademis akibat rendahnya membaca (baca: realitas). Plagiasi terjadi akibat penulisnya sudah tidak memiliki keinginan untuk banyak membaca buku bacaan secara serius sehingga yang terjadi adalah melakukan copy paste alias comot sana sini demi mengejar gengsi akademis. Jual beli ijazah pun juga demikian. Karena kepentingan untuk dilihat publik, membeli ijazah pun kemudian dilakoni selama itu kemudian dapat mencapai tujuan yang dimaksud. Kejahatan-kejahatan akademis lainnya pun juga demikian.

Tentu, perilaku dan tindakan semacam ini berawal dari tidak adanya keinginan untuk belajar secara serius dan sungguh-sungguh. Belajar serius dan sungguh-sungguh berawal dari kegiatan banyak membaca serius dan sungguh-sungguh. Apabila ini sudah tidak ada dalam benak pikiran dan keinginan para generasi kita, maka tamatlah sudah masa depan bangsa kita ini. Ini yang kemudian sedang diperangi dan diberantas oleh Kemristekdikti di bawah nahkoda Muhammad Nasir. Kita semua harus mendukung itu.

Selamatkan Bangsa

Menyelamatkan bangsa agar tidak semakin terperosok ke jurang kehancuran peradaban merupakan tugas bersama. Kita semua tidak menghendaki agar bangsa kita secara terus menerus berada di urutan terakhir dalam pembangunan peradaban. Pasalnya, bangsa besar dilihat dari peradaban yang dicapainya. Peradaban itu bisa berupa karya pemikiran tertulis yang dihasilkan, cagar kebudayaannya, jumlah sumber daya manusianya yang sudah mencapai jenjang pendidikan tertinggi, dan banyak yang lain.

Tugas kolektif kita semua ke depan adalah marilah menjadikan budaya literasi sebagai gerakan membangun bangsa. Sekolah dimana para anak didik belajar harus dibangun semangat tinggi untuk melakukan literasi sebagai upaya serius untuk menaikkan derajat pengetahuannya dan mereka kemudian janganlah terjebak kepada angka di atas kertas sebagai bentuk keberhasilan akademis. Pasalnya, tidak ada korelasi signfikan antara literasi yang tinggi dengan skor yang tinggi di atas kertas.

Literasi melewati batas-batas angka sebab angka itu sendiri adalah angka mati, sementara literasi yang dibangun dan menjadi inheren dalam kehidupan anak didik kita adalah terus hidup. Begitu pula dengan mereka yang duduk dan berada di bangku pendidikan tinggi. Mereka pun janganlah tertipu dengan angka-angka menakjubkan di atas kertas sebab itu hanyalah benda mati; semangat literasi mengandung nilai yang lebih dari angka.

Kita semua pun kemudian haruslah berpikir di luar angka-angka mati apabila menghendaki peradaban bangsa akan berdiri tegak. Semangat dari salah satu Nawacita Joko Widodo yang berbunyi Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program ‘Indonesia Pintar’ harus dijadikan landasan bergerak progresif.

Tema Hari Aksara Internasional tahun ini yang diusung UNESCO bertajuk ”Literacy in a Digital World” dan Kemendikbud kemudian menerjemahkannya menjadi “Membangun Budaya Literasi di Era Digital” yang bertujuan melihat jenis keterampilan keaksaraan yang dibutuhkan orang untuk menavigasi masyarakat yang dimediasi secara digital serta mengeksplorasi kebijakan keaksaraan yang efektif harus menjadi momentum melahirkan simpul-simpul gerakan pencerahan menuju pembangunan peradaban bangsa.

Mari kita jadikan data tentang rendahnya literasi yang dirilis oleh Central Connecticut State University dan Unesco serta PISA 2015 sebagai catatan kritis untuk semakin serius memperbaiki bangsa ini. Literasi adalah langkah tepat untuk membangun peradaban di republik ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s