Hari: Agustus 10, 2017

Memandirikan Bangsa melalui Pendidikan

Banjarmasin Post_ Kamis, 10 Agustus 2017

(Refleksi Kemerdekaan Kita Selama 72 Tahun)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, penulis dan editor buku-buku pendidikan

Bangsa yang besar adalah ketika dia mampu bergerak dan berdiri di atas kakinya sendiri, mengutip pendapat Ir. Soekarno dalam bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi”. Bangsa yang disebut berdaulat dan kemudian menjadi rumah mencerdaskan ketika bisa hadir sebagai bangsa yang siap berkompetisi secara sehat dengan bangsa-bangsa lain. Berkompetisi di sini dimaknai bahwa semua bangsa, termasuk kita bersaing karena modal kualitas, integritas, kompetensi, dan keahlian. Kita kemudian bisa besar dan mandiri karena modal-modal tersebut, bukan justru melakukan tindakan serta sikap licik, seperti menelingkung di sana sini, menikam dari belakang, dan memotong kompas demi mencari jalur cepat.

Oleh sebab itu, pembangunan dan pemandirian bangsa selanjutnya menjadi hal strategis yang harus dilakukan secara organik dan kolektif. Bangsa ini yang konon disebut bangsa besar kemudian perlu melakukan refleksi kritis dan profetis, apakah sejauh ini kita sudah benar-benar besar dan mandiri, apakah kemandirian bangsa ini sudah dibuktikan dengan kemandirian dalam mengatur kehidupan berbangsa serta bernegaranya. Kemandirian di sini kemudian dapat dikaitkan dengan kemampuan untuk mengatur kehidupannya. Pendidikan sebagai langkah strategis untuk membangun bangsa besar dan mandiri kemudian perlu dikuatkan. Usia bangsa ini yang konon sudah merdeka sejak 72 tahun lalu kemudian perlu meneguhkan kembali, apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam spektrum pendidikan sebagai pembangunan sumber daya manusia yang mandiri, unggul, dan cerdas?

Pikiran Kerdil

Tanpa harus menyalahkan siapapun dan pihak manapun, sebetulnya walaupun kita secara kuantitas baik yang masih berada di bangku pendidikan dasar dan menengah memperlihatkan tingkat angka partisipasi kasar (APK) pendidikan menengah yang mengalami peningkatan dimana pada 2015 cenderung meningkat menjadi 79,02 persen dari tahun 2014 yang berkisar 75,53 persen; persentase penduduk Indonesia yang melek aksara juga meningkat; hampir seluruh penduduk usia 15 sampai 24 tahun melek aksara dengan persentase 99,7 persen; usia 25 hingga 44 tahun persentase melek aksara meningkat dari 98,3 persen menjadi 98,5 persen; persentase angka melek aksara kelompok usia 45 tahun ke atas juga mengalami serupa; angkanya meningkat dari 87,8 persen menjadi 88,1 persen dengan mengutip pernyataan Anies Baswedan ketika masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Republika, 17/06/16), sementara  angka partisipasi kasar (APK) perguruan tinggi secara terus menerus bertambah dimana pada tahun 2015 berada pada 33,5%, di atas target dan ditagetkan di awal tahun, yakni sebesar 26,8% mengutip Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dalam acara Refleksi 1 Tahun Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (dikti.go.id, 28/12/15), namun tampaknya hal tersebut belum sepenuhnya memberikan upaya perubahan cara berpikir bagi manusia Indonesia. Pemandangan yang setiap hari kita amati baik di media cetak, media on line, maupun televisi dimana banyak generasi muda kita terjebak kepada perilaku tidak bermoral, melakukan bullying terhadap sesama teman, dan tindakan anarkis yang mengganggu kepentingan publik tentu menjadi realitas tidak terbantahkan bahwa penyelenggaraan pendidikan tidak berhasil dalam melahirkan manusia-manusia Indonesia yang beradab dan berbudaya. Pendidikan tidak dan belum memberikan perubahan-perubahan signifikan serta transformatif dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya demi memandirikan bangsa ini.

Yang lebih memprihatinkan lagi, manusia-manusia Indonesia yang berada di dunia birokrasi baik pusat maupun daerah pun juga memberikan ilustrasi mengelus dada dimana mereka pun kerap kali melakukan perselingkuhan atas nama kepentingan pribadi dan golongan. Contoh sederhana adalah tindakan korupsi yang setiap saat terus bertambah jumlahnya baik secara kuantitas pelaku maupun yang dikorupsi (baca: data Indonesia Corruption Watch).  Padahal mereka sudah bergelar pendidikan tinggi. Hampir di seluruh lini kehidupan, kita yang sudah memegang gelar pendidikan tinggi sepertinya juga tidak mampu menjalankan prinsip-prinsip kehidupan yang berbasis kepada semangat kejujuran. Kejujuran sudah menjadi harga mahal yang sepertinya menjadi susah dan langka untuk dipegang menjadi pedoman berkehidupan. Kualitas hidup yang berbasis kepada kompetensi untuk bekerja pun juga semakin jauh dari kehidupan kita sehingga atas nama menghalalkan segala cara, kegiatan apapun yang bernilai pragmatis kemudian direbut walaupun kita sebetulnya tidak layak menjalankan itu. Kita mendapatkannya bukan karena berkompetisi secara sehat dan kualitas diri, melainkan karena tindakan menikam dan merebut pekerjaan itu dari belakang.

Terlepas kita tidak memiliki nilai kualifikasi sesuai bidang yang harus dijalankannya, tetap saja kegiatan itu direbut dan dikerjakan. Walaupun secara kualitas dan kinerja, kita sangat tidak layak menjalankan itu, tetap saja dilakoni dalam konteks kepentingan pragmatis dan sektoral. Ini merupakan satu kondisi ironi di tengah sedang gencar-gencarnya pemerintahan Joko Widodo sedang membumikan semangat dan agenda revolusi mental. Menarik apa yang disampaikan Thomas Hobbes (1588 – 1679), setiap manusia pada dasarnya egois dan memiliki motivasi untuk memperkaya diri sendiri walaupun harus bertindak kejam kepada orang lain. Akhirnya, muncul sebuah kegelisahan publik bahwa walaupun kita terus membaik secara peringkat dalam jumlah penduduk yang berpendidikan dan berpendidikan tinggi, hal ini tetap saja tidak merubah peta berpikir manusia Indonesia untuk bersama membangun negeri ini.

Tantangan Ke Depan

Semangat abad 21 dimana kemajuan bangsa diikur dari produktivitas manusianya dalam memberikan kontribusi-kontribusi pemikiran dan kerja cerdasnya untuk pembangunan, ini kemudian belum bisa menjawab harapan bersama demi Indonesia yang lebih maju. Semangat abad 21 yang lebih menitikberatkan kepada kualitas dan kompetensi, soft skill dalam kompetensi berkomunikasi, termasuk kesantunan dalam berbicara, dan banyak indikator lain kemudian belum sepenuhnya mampu mengangkat harkat dan derajat kita sebagai bangsa yang sudah merdeka 72 tahun yang lalu. Semangat abad 21 yang didasarkan kepada pendidikan sebagai modal untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul kemudian harus semakin dikuatkan perannya secara strategis. Pendidikan yang dimaksud di sini bukan semata seberapa besar capaian APK yang diraih di seluruh jenjang pendidikan, namun harus dikawal dengan penguatan kualitas dan kompetensi SDM di banyak sektor. Aristoteles mengatakan bahwa pendidikan mempunyai akar yang pahit, namun buahnya yang manis. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa belajar bukan sepenuhnya terkait dengan rutinitas dan ritualitas datang ke sekolah, menghadiri kelas serta mendengarkan ceramah guru (dosen), mengerjakan tugas, dan lain seterusnya. Selain itu, pendidikan sebetulnya berupaya mendidik agar anak didik kemudian belajar mengenal hidup, mengambil hikmah di setiap apa yang dijalani dalam proses berpendidikan dan hidup, dan begitu seterusnya. Pendidikan mengajarkan nilai-nilai ketekunan, keuletan, kesabaran, kejujuran, kerjasama, dan lain sejenisnya. Guru (guru) di sini kemudian menjadi figur utama. Adanya murid (mahasiswa) yang hebat karena adanya guru (dosen) yang hebat. Hebat di sini kemudian dapat berjalin kelindan dengan kedisiplinan, kejujuran, kesantunan, ketekunan, dan banyak yang lain. Menarik apa yang disampaikan Thomas H. Huxley, mungkin hasil yang paling berharga dari pendidikan adalah kemampuan kita untuk mengerjakan hal-hal yang mesti kita kerjakan, tidak peduli apakah pekerjaan itu kita suka atau tidak kita sukai. Selanjutnya, kita semua perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sudah siap berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain, sudah sejauh mana kesiapan dan modal yang kita miliki untuk berlari dalam prestasi dengan bangsa-bangsa lain? Terlepas apapun jawabannya, sepanjang kita selama ini selalu sibuk dengan kepentingan dan ego sektoral masing-masing, berkelahi dengan sesama anak bangsa sendiri, dan mengabaikan kepentingan bangsa, sampai kapanpun kita dan bangsa ini akan selalu menjadi bangsa terpinggirkan dalam percaturan pemikiran, gagasan, dominasi pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu, mari kita bersatu dan menyatukan pikiran yang jernih serta visioner untuk Indonesia yang lebih maju. Hilangkan pikiran kerdil dan jiwa menerabas yang kemudian merusak proses menjalani kehidupan dan hidup. Koentjaraningrat jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita semua (bagi yang sadar dan memiliki kesadaran seutuhnya) bahwa jiwa menerabas adalah penyakit bangsa yang semakin menjauhkan kita untuk bergerak maju menjadi bangsa besar dan mandiri. Dirgahayu Republik Indonesia ke-72…

Iklan