Bulan: Juli 2017

Ketika Sekolah Kehilangan Keluhuran dan Sakralitas

Harian Banjarmasin Post_Kamis_20 Juli 2017

MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, penulis dan editor buku-buku pendidikan

Dunia pendidikan kita secara berulang kali dihantam tragedi yang memilukan dan ini dapat disebut kado duka bagi pendidikan kita ketika genderang tahun ajaran baru pendidikan sedang ditabuh. Aksi bullying siswa dan siswi yang berseragam SMP terhadap seorang siswi di kawasan Thamrin City, Jakarta Pusat (14/7) mempertontonkan fakta pahit dimana siswi berseragam putih itu mendapat perlakuan kekerasan oleh sejumlah siswa-siswi lainnya. Siswi yang berseragam putih-putih tersebut tampak terpojok, dikelilingi siswa dan siswi lainnya. Ironisnya, sejumlah siswa-siswi yang menonton justru meminta agar siswi yang di-bully mencium tangan dua orang yang mem-bully-nya. Peristiwa kedua adalah aksi bullying yang dilakukan mahasiswa semester dua Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi angkatan 2016, Kampus Universitas Gunadarma, Kelapa Dua, Depok, terhadap temannya yang berkebutuhan khusus. Peristiwa ketiga terjadi terhadap seorang siswa yang inisial NWA terpaksa mengundurkan diri dari SMP 3 Genteng Banyuwangi karena menjadi korban diskriminasi. Ia memilih mengundurkan diri karena salah satu syarat untuk masuk ke sekolah negeri itu adalah menggunakan jilbab bagi seluruh pelajarnya. Sementara itu, NWA beragama non Islam (Koran Jakarta, 18/07/17). Peristiwa keempat adalah modus pungli di SMA 10 yang diduga meminta sumbangan jalur offline kepada orang tua siswa pada penerimaan peserta didik baru jalur offline untuk periode 17-19 Mei 2017 dan 19-22 Juni 2017 (Banjarmasin Post, 18/07/17).

Yang kemudian selalu menjadi pertanyaan adalah mengapa persoalan serupa mulai dari tindakan tidak terpuji antar sesama siswa kerap menghiasai setiap penyelenggaraan pendidikan di republik ini. Pertanyaan selanjutnya adalah diskriminasi pendidikan pun tidak pernah berhenti singgah dalam setiap implimentasi pendidikan kita, apakah selama ini sekolah yang seharusnya kemudian menjadi ruang damai dan sejuk bagi semua tanpa memandang kelas sosial dan lain sejenisnya kemudian tidak pernah dipraktikkan sama sekali. Kendatipun ajaran pendidikan yang disampaikan kepada seluruh siswa  oleh sekolah dalam setiap pertemuan selalu indah disampaikan, itu pun sepertinya tidak membekas dan menjadi terinternalisasi dalam setiap para peserta didik. Yang lebih memprihantikan lagi, sekolah dengan tindakan diskriminasi kepada siswanya pun menjadi irama lain yang menjadikan pendidikan kita bernada sumbang. Pendidikan di sekolah tetap memperkenalkan dunia yang serba disparitas antara yang satu dengan yang lain. Dunia disparitas karena berasal dari satu golongan tertentu dan bukan bagian dari mayoritas kemudian harus dikucilkan dengan sedemikian rupa. Kelompok minoritas dalam dunia pendidikan kita ini seolah semakin mempertajam ruang yang lebar dan menganga bahwa yang berbeda serta minor kemudian harus disingkirkan. Ini tentu menjadi sebuah ironi di tengah kehidupan bangsa dan negeri yang sedang terpuruk akibat pelbagai tindakan bejat sejumlah oknum pemimpin di negeri ini yang lebih suka mencari keuntungan sektoral dan mengabaikan hajat hidup orang banyak (baca: realitas).

Tindakan Operasi Tangkap Tangan (OTT) atas dugaan pungli di SMA 10 yang berhasil dilakukan Tim Saber Pungli Provinsi Kalsel terdiri dari gabungan Subdit III Tipidkor Dit Reskrimsus, Dit Reskrimum dan Ombudsman Provinsi Kalsel tentu semakin menambah deretan buruk serta catatan merah dunia pendidikan bahwa sekolah tidak lagi mengajarkan kejujuran. Sekolah sebagai miniatur kehidupan dimana para anak didik kemudian belajar membangun karakter kejujuran dan lain seterusnya kemudian sudah dikotori oleh tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab. Sekolah sudah kehilangan nilai keluhuran dan sakralitas sehingga sepertinya sekolah sudah seperti sebuah mall dimana setiap orang dapat membeli barang yang ada di dalamnya dengan harga sesuka hati selama ada uang, sesuai dengan harga yang dipatok oleh sang pedagang. Sekolah secara ontologis harus dan seharusnya hadir untuk memanusiakan para insan muda agar menjadi pribadi-pribadi yang berkeadaban tinggi serta mulia, itu kemudian menjadi sulit dilakukan. Tanpa kemudian harus menyalahkan siapapun dan pihak manapun, kondisi pendidikan kita yang semakin mengalami carut marut baik secara epistemologi, aksiologi, dan ontologi sesungguhnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari gagalnya memahami dan menempatkan pendidikan sebagai mengadabkan manusia. Sekolah akibat dikelola secara komersil dan mekanistis dimana lebih seperti supply and demand kemudian kian memojokkan eksistensi pendidikan sehingga tidak lagi mampu menghaluskan karakter setiap insan manusia.

Pendidikan adalah untuk mengangkat harkat dan marbat manusia, untuk menajamkan hati serta kalbu manusia agar menjadi peduli kepada yang lain dan sesama, untuk mendorong setiap pribadi menjadi berempati kepada yang lain, dan begitu seterusnya, hal-hal demikian menjadi ter(di)nafikan dengan sedemikian rupa. Sekolah dimana di dalamnya ada kepala sekolah, guru, dan perangkat lainnya tidak lagi bekerja atas nama kemanusiaan, akan tetapi mereka sudah bekerja demi kepentingan pasar. Padahal sekolah tentu tidak bisa disamakan dengan pasar.

Sekolah adalah tempat bagi siapapun yang ingin belajar, yang memiliki niat tulus untuk menimba ilmu kehidupan untuk hidup, yang mengabdikan dirinya agar menjadi pribadi yang bisa menempatkan dirinya mengenal yang lain secara resiprokal sehingga tidak merasa paling hebat dan begitu seterusnya. Sekolah secara hakiki adalah melahirkan manusia-manusia unggul dengan karakter mulia sebab hakikat seutuhnya dari bersekolah adalah belajar untuk hidup. Jauh-jauh hari Driyarkara mengatakan bahwa pendidikan memiliki tujuan agung guna memanusiakan manusia muda, yang disebut homonisasi dan humanisasi. Lebih tepatnya, manusia dipimpin dengan cara sedemikian rupa supaya ia bisa berdiri, bergerak, bersikap dan bertindak sebagai manusia sehingga ia kemudian memiliki kebudayaan yang tinggi. Ketika proses homonisasi ditunaikan, ini tidak akan lepas dari upaya untuk menjadikan manusia yang benar-benar kuat dan teguh dalam berpendirian. Sementara tatkala humanisasi dijalankan dalam rangka proses pendidikan untuk manusia, maka ini bermuara pada pemberadaban manusia seutuhnya. Manusia yang memiliki nilai yang tinggi dan keluhuran yang tinggi menjadi sebuah akhir dari pendidikan humanisasi.

Ini berbeda dengan pasar yang lebih menggunakan prinsip untung rugi, modal kecil atau tanpa modal dengan keuntungan besar, dan segala kepentingan sektarian lainnya yang tentu merugikan hajat hidup orang banyak. Mereka yang berdagang tentunya ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Sekolah dalam konteks ini tidak bisa disamakan dengan pasar. Pasalnya, dampak paling berbahaya adalah ini akan melahirkan manusia-manusia nir-keadaban, nir-empati, dan begitu seterusnya. Hal inilah yang sedang menjadi fakta di depan mata kita semua dimana sudah terjadi anomali pelaksanaan pendidikan mulai dari perilaku anak didik yang menyimpang, dan lain sejenisnya (baca: realitas).

Komitmen Kolektif

Komitmen kolektif untuk menekan anomali penyelenggaraan pendidikan menjadi tugas bersama. Mengurusi kehidupan anak didik bukan sepenuhnya tanggung jawab sekolah, melainkan seluruh unsur masyarakat, terutama para orang tua siswa. Mengawasi penyelenggaraan pendidikan agar tidak menjadi ajang berbisnis pun perlu menjadi dan dijadikan tanggung jawab semua demi mengawal pendidikan yang berpihak kepada akses keterbukaan, membangun akuntabilitas implimentasi pendidikan yang bermuara bagi kepentingan publik. Persoalan apapun dalam konteks mengurusi pendidikan dan sekolah demi kepentingan anak negeri harus disterilkan dari tangan-tangan pencari keuntungan di balik penderitaan orang lain. Semoga…

Iklan