Hari: Mei 17, 2017

Mengubah Dunia dengan Buku

Harian Banjarmasin Post_Kamis, 18 Mei 2017 00:28 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/05/18/mengubah-dunia-dengan-buku)

Oleh: MOH YAMIN

Dosen di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Penulis Buku-buku Pendidikan

(Memaknai Hari Buku Nasional 17 Mei 2017)

Sudah banyak buku berhamburan di toko-toko buku. Mulai buku yang sangat ringan dan berat. Buku tentang cinta sampai dengan buku filsafat. Dengan sangat mudahnya, kita mendapatkan buku dan kemudian melahapnya (membaca) secara terus menerus.

Membaca buku ibarat kita menghirup udara. Tidak pernah putus kita secara istikamah bergelut dengan buku. Pepatah lama mengatakan, buku adalah jendela dunia. Buku membuka cakrawala pengetahuan. Dengan buku, sebuah bangsa akan dihantarkan pada peradaban yang maha tinggi. Buku menerangi kehidupan manusia. Ia menceritakan banyak hal tentang kejadian dunia. Buku mengangkat harkat dan martabat manusia. Dengan buku, kita bisa melihat dunia. Kita memahami segala kehidupan manusia. Buku mengasah otak kita untuk bisa berpikir kritis transformatif.

Kuswaidi Syafi’ie (2007) pernah berkata, dunia buku adalah medan lapang yang sarat dengan berbagai analisa, mulai yang paling lunak, moderat, hingga yang paling radikal. Orang-orang yang menyelam di situ dengan pikiran yang nanar dan penuh kemungkinan akan merasakan petualangan intelektual yang begitu nikmat. Berbagai paradigma dan perspektif yang disunggi masing-masing buku yang dilahap akan mengantarkan para pembaca pada sepucuk kesadaran, bahwa di hadapan tumpukan-tumpukan buku itu mereka sesungguhnya tidak sedang bertatap muka dengan apa pun selain cakrawala pengetahuan.

Buku selanjutnya melebarkan sayap pemikiran kita. Otak kita sangat cair, dan peka pada sebuah persoalan. Ia tiada henti secara tanpa sadar membangkitkan semangat kita untuk memikirkan banyak hal mulai persoalan pribadi sampai persoalan masyarakat. Buku mengajari dan mengajarkan kita bagaimana harus berhadapan dengan dunia di luar kita.

Buku sangat begitu sabar dan penuh kasih sayang membimbing kita. Sangat wajar, bila saya mengatakan bahwa buku adalah pengganti orangtua dan guru. Buku mengarahkan perilaku dan tabiat hidup kita. Ia terus menerus meluruskan kehidupan kita di bumi.

Membuka Paradigma Kehidupan

Buku membawa hal-hal baik pada kita. Karena buku, sesuatu apa pun yang tidak kita kenal sebelumnya, lantas kita bisa tahu. Kita mampu memperoleh pencerahan pemikiran dan pencerdasan. Simak saja, adanya tokoh-tokoh besar sebut saja Abdurrahman Wahid, Sholahuddin Wahid, Nurcholish Madjid, Komaruddin Hidayat dan banyak lagi mampu menjadi orang besar lantaran jasa-jasa buku.

Buku telah berbuat banyak hal bagi pembentukan masa depan beliau-beliau. Mereka kemudian memberikan sumbangsih besar bagi bangsanya. Pemikiran-pemikiran beliau menjadi sebuah grand design bagi Indonesia ke depan. Oleh sebab itu, secara jujur kita lalu bisa hidup dan mampu mengenal baik dan buruk kehidupan karena adanya buku. Buku yang telah membawa kita pada jalan yang benar dan baik.

Masih tidak percaya, saya ambil contoh lain. Islam berkembang dan maju sejak Nabi Muhammad lahir ke bumi karena adanya buku suci yang kemudian lebih tepat disebut kitab suci, yakni Alquran. Kitab Suci tersebut membuka paradigma kehidupan muslim se-antero dunia. Masih juga belum percaya, Adam Smith yang melahirkan karya maha hebat tentang kapitalisme juga telah mengantarkan Amerika pada kemajuan peradaban yang tiada tara. Ia menjadi negara besar, hebat dan digdaya. Belum percaya juga, negara-negara barat mampu mengalahkan bangsa-bangsa Timur karena jasa magnum opusnya Ibnu Rusyd (di Barat disebut Averoes) yakni Tahafut At Tahafut.

Ironi Literasi Kita

Pelbagai penelitian menyatakan, masyarakat kita di Indonesia sangat rendah membaca buku. Masyarakat sangat susah untuk diajak senang membaca buku. Minat baca masyarakat kita pada buku jauh dari harapan. Mereka lebih senang pada tradisi dengar dan lisan daripada tradisi baca.

Artinya, kita lebih menyukai mendengarkan omongan orang lain tentang sebuah isi buku dari pada membaca buku sendiri. Lihat saja, saat ada acara bedah buku, seminar dan forum-forum lainnya, kita banyak mendapatkan sumber pengetahuan dari pembicara daripada membaca buku sendiri, dan ini cukup ironis.

Padahal, itu tidak dan belum menjamin bahwa sesuatu yang mereka sampaikan sesuai dengan yang diambil dari sumber bacaannya. Bisa jadi, telah dimanipulasi ide dasarnya. Atau bisa jadi pula, gagasan tersebut sudah terkontaminasi dengan gagasan sang pembicara.

Karena itu, belum terlambat kita untuk memulai menyukai minat baca buku. Kita masih belum jauh di(ter)tinggal oleh bangsa-bangsa lain. Apabila kita merasa terlambat memulai membaca buku, jadikanlah keterlambatan tersebut sebagai penyemangat dan pendorong untuk segera membaca buku. Keterlambatan tersebut harus bisa membangun rasa iri pada bangsa-bangsa lain.

Apabila mereka suka membaca buku, mengapa kita tidak bisa. Tanamkan pada diri masing-masing bahwa apa yang kita lakukan akan membawa hasil bila diawali dan didasari keinginan kuat untuk berubah. Marilah menjadi masyarakat yang suka membaca buku dan marilah untuk mau tergerak berbuat yang terbaik bagi semua.

Buku merupakan ruang tempat bersemayamnya pelbagai pengetahuan yang kemudian bisa kita serap demi meningkatkan kualitas diri. Buku memberikan spirit kemajuan sebab berisikan suntikan informasi, pengetahuan, temuan-temuan terbaru. Marilah melakukan perubahan hidup dan kehidupan dengan menjadikan buku sebagai pendobrak tatanan stagnan menjadi dinamis dan progresif.

Buku membawa perubahan luar biasa bagi cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak. Oleh karenanya, titik tolak mendasar dalam pembangunan manusia berdaya saing secara global sesungguhnya berlandaskan kepada seberapa banyak pengetahuan yang kita punya.

Menurut pesan Michel Foucault, yang akan menjadi penguasa ke depan adalah ketika melakukan kerja membaca dengan frekuensi tinggi dan bermutu. Buku menjadi penjawab seutuhnya agar kita bisa menjadi penguasa terhadap segala aktivitas yang kita ingin capai. (*)