Bulan: April 2017

Menyoal Nasib Sekolah Swasta

Harian Banjarmasin Post_Sabtu, 1 April 2017 00:54

(http://banjarmasin.tribunnews.com/2017/04/01/menyoal-nasib-sekolah-swasta)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, penulis buku-buku pendidikan

Tajuk harian Banjarmasin Post (28/03/2017) berjudul Jangan Sampai Gulung Tikar cukup menggugah perasaan kita. Tentunya bagi yang memiliki kepekaan sosial terhadap dunia sekolah dan persekolahan swasta yang semakin hari kehilangan eksistensi dan maknanya dalam pembangunan sumber daya manusia.

Tajuk tersebut menyebutkan bahwa sudah semakin banyak sekolah swasta, termasuk yang berada di bawah binaan Pendidikan Guru Republik Indonesia (PGRI) kehilangan siswa. Kendala utama yang dihadapi terkait pembiayaan yang harus ditanggung oleh sekolah-sekolah tersebut, mulai dana operasional hingga biaya sarana dan prasarana pendidikan. Adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak banyak membantu dalam penyelenggaraan pendidikan karena jumlah nominalnya terbatas.

Terlepas dari hal tersebut, kita juga setuju bahwa ada juga sekolah swasta yang tetap hadir memberikan layanan dan pelayanan pendidikan namun itu hanya dapat dihitung dengan jari. Umumnya, sekolah-sekolah tersebut berlabel favorit dengan program dan muatan kurikulum yang melebihi sekolah negeri dan sekolah swasta pada umumnya.

Tentu, sekolah-sekolah sedemikian kemudian hanya bisa dinikmati oleh siswa-siswa dengan ekonomi orang tua kelas menengah ke atas. Bagi orang tua dengan pendapatan rendah dan hanya cukup membiayai dapur supaya asap dapur tetap mengepul, anak-anak mereka kemudian hanya bisa gigit jari.

Kondisi disparitas sekolah sedemikian kemudian melahirkan pelayanan pendidikan yang diskriminatif. Bagi orang tua yang mampu membayar uang lebih terhadap sekolah, anak-anak mereka dipastikan mendapatkan fasilitas lebih. Sedangkan yang tidak mampu membayar lebih, jangan harap agar bisa bersekolah di tempat favorit dengan segala keistimewaan di dalamnya. Ini adalah fakta nyata di hadapan kita semua.

Membaca preseden buruk terkait kondisi sekolah-sekolah swasta miskin dan semakin hilangnya identitas mereka dalam sebuah penyelenggaraan pendidikan, maka sampai kapan pun sekolah swasta dengan kelas miskin–baik secara fasilitas maupun secara program–tidak akan mampu berkompetisi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Apabila Paulo Freire dalam bukunya Sekolah Kapitalisme yang Licik menyebut pendidikan sudah berada dalam cengkraman kapitalisme yang sangat luar biasa, maka inilah yang kemudian kita sebut sebagai hancurnya peradaban bangsa. Hanya sekolah-sekolah berlabel mahal secara ekonomi dapat menyelenggarakan pendidikan, sementara sekolah-sekolah pinggiran sudah dijauhi oleh para siswa karena dipandang tidak memberikan tawaran program dan muatan kurikulum yang mencerahkan.

Hal yang lebih ironis, ketika sekolah-sekolah berlabel kapitalis bekerja membangun pendidikan, para siswa di sekolah tersebut kemudian dicekoki oleh nilai-nilai pendidikan yang elitis. Kita setuju bahwa semua sekolah baik negeri maupun swasta menggunakan kurikulum nasional baik yang bernama Kurikulum 2013 maupun KTSP. Tapi, umumnya setiap sekolah juga akan memasukkan kepentingan sekolah masing-masing kepada para anak didiknya. Kita kemudian tidak bisa menutup mata terhadap realitas itu. Secara terselubung, ada perang kepentingan secara ideologis antara sekolah swasta favorit dan sekolah negeri terhadap sekolah-sekolah lain yang berada di bawahnya secara pengelolaan dan kelas sosial di tengah masyarakat kita.

Ujung Tanduk

Tanpa harus membedakan sekolah swasta pinggiran, sekolah swasta favorit, dan sekolah negeri, sekolah dengan status apa pun sama-sama memiliki kontribusi luar biasa bagi pembangunan sumber daya manusia di manapun berada dari Sabang sampai Merauke.

Keberadaan sekolah swasta pinggiran dan miskin fasilitas justru selama ini banyak membantu penyelenggaraan pendidikan di daerah pinggiran, di daerah dimana banyak anak-anak dari kelas ekonomi tidak mampu bersekolah di sana. Sekolah swasta jauh lebih menjangkau semua kalangan anak-anak dari kelas ekonomi menengah ke bawah agar mereka kemudian dapat mengenyam pendidikan yang sama dengan mereka yang berasal dari ekonomi orang tua kelas menengah ke atas.

Sejarah perjalanan republik ini pun juga membuktikan bahwa sekolah swasta memiliki sumbangan luar biasa bagi pendidikan anak negeri. Jauh sebelum ada sekolah negeri dan sekolah swasta berlabel favorit serta super mahal secara pembiayaan, sekolah swasta dengan label miskin fasilitas sudah mencetak manusia-manusia hebat di masanya (baca: realitas).

Kita sebagai masyarakat yang menyekolahkan anak-anak kita baik ke sekolah swasta favorit dan negeri jangan ahistoris. Mereka yang berada di birokasi pendidikan baik kabupaten/kota, propinsi serta pusat juga jangan memutus dan melupakan sejarah bahwa kehadiran sekolah swasta sudah sangat luar biasa mengawal perubahan kehidupan berbangsa di republik tercinta ini. Kita menjadi bagian dari sejarah perjalanan sekolah swasta dimana kita pernah belajar dan duduk di bangku sekolah swasta tersebut, terutama yang dilahirkan di era tahun 1980-an ke bawah.

Ketika kondisi orang tua kita saat itu hidup dalam keterbatasan secara ekonomi, sekolah pinggiran menolong kita. Tatkala dalam kondisi ekonomi terjepit dan orang tua kita sudah tidak mampu menyekolahkan kita karena faktor ekonomi, sekolah madrasah dan lain sejenisnya yang dikelola secara tradisional dan apa adanya membantu kita untuk tetap sekolah walaupun pembayaran SPP dan lain sejenisnya dapat dicicil atau dihutang. Orang tua kita bisa membayar jika sudah ada uang.

Apabila kini semakin bermunculan sekolah-sekolah swasta berlabel miskin fasilitas dan program mulai gulung tikar, kondisi tersebut jangan sampai terjadi. Pasalnya, yang akan menjadi persoalan ke depannya adalah sekolah berlabel super mahal akan mendominasi dimana saja dan kapan saja.

Tatkala sekolah super mahal menjadi pemain utama dalam sebuah penyelenggaraan pendidikan baik dasar maupun menengah, ke depan kemudian akan terjadi peningkatan angka anak yang putus sekolah secara besar-besaran. Pasalnya, anak-anak dari orang tua kelas ekonomi menengah ke bawah tidak akan mungkin bisa masuk sekolah dengan biaya super mahal sebab untuk kepentingan ekonomi dapur saja, para orang tua sudah bekerja keras agar tetap bisa makan demi bertahan hidup dan mempertahankan hidup secara berkelanjutan.

Selamatkan Sekolah Kita

Tanpa memandang label sekolah apapun, kita semua bertanggung jawab terhadap nasib dan keberadaan sekolah yang hampir mau gulung tikar akibat tiadanya siswa, tiadanya anggaran pendidikan yang memadai untuk biaya operasional sekolah, mungkin juga program dan kurikulum sekolah yang masih belum dirancang secara lebih maju, inovatif, dan kreatif untuk menarik minat orang tua menyekolahkan anak-anaknya dengan tujuan utama menjawab tantangan hidup ke depan. Dengan kata lain, sekolah seyogyanya kemudian tidak mesti harus berbiaya mahal untuk menarik minat banyak calon siswa untuk belajar.

Fasilitas sekolah pun sebetulnya tidak mesti harus super lengkap demi membuat orang tua tertarik menyekolahkan anak-anaknya di tempat tersebut. Yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana suasana belajar anak menjadi nyaman dan kerasan dan ini tentu harus dilengkapi dengan kurikulum yang dapat menjawab tantangan hidup ke depan.

Jika kemudian harus dijalin-kelindankan dengan fasilitas dan dana operasional sekolah yang terbatas, di sinilah tanggung jawab negara wajib hadir. Pemerintah daerah dengan dukungan pemerintah pusat harus menyediakan anggaran.

Kehadiran masyarakat terdidik dan cendekiawan pun harus hadir dengan membantu memikirkan jalan keluar untuk pendanaan, sebut saja melalui Corperate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan tertentu.

Ketika semangat kebersamaan baik secara moral, politik anggaran, dan tanggung jawab sosial dijalankan, tidak ada kata sulit untuk dilakukan demi membangun bangsa yang cerdas dan beradab. Anak-anak dari orang tua kelas menengah ke bawah pun tetap menjalankan pendidikannya demi hari esok yang lebih baik. Akhirnya, tidak ada lagi berita tentang sekolah-sekolah yang harus terpaksa gulung tikar. Semoga. (*)

Iklan