Bulan: November 2016

Matinya Para Pahlawan Kita

(Refleksi Hari Pahlawan 10 November)

Banjarmasin Post, Kamis_10 November 2016 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2016/11/10/matinya-para-pahlawan-kita)

Oleh: Moh Yamin

Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin

Bung Karno dalam pidato Hari Pahlawan tanggal 10 November 1961 menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Pertanyaannya adalah apakah kita sebagai bangsa sudah memberikan penghormatan sangat tinggi kepada para pahlawannya? Selanjutnya, siapakah yang layak disebut pahlawan?

Apabila kita membaca dalam rentang dan lipatan sejarah perjuangan bangsa, jawabannya adalah mereka yang berjuang memerdekakan bangsa ini dari kolonialisme penjajah asing dan mereka yang berani mengibarkan bendera merah putih dimana saat itu pasukan prokemerdekaan bersama para milisi di Surabaya bertempur melawan pasukan Inggris dan Belanda sebagai bagian dari revolusi nasional Indonesia yang kemudian disebut Hari Pahlawan. Dalam konteks ini, kita setuju itu bahwa dari gerakan itulah kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di republik ini untuk bersama-sama melawan dan menghancurkan para kolonialis.

Namun, apakah kita yang hidup di era kemerdekaan yang sudah merdeka lebih dari 71 tahun ini juga sudah memiliki para pahlawan yang kemudian ikut melanjutkan estafet perjuangan membangun bangsa. Kita semua kemudian layakkah disebut para pahlawan. Ini tentu masih sebuah pertanyaan besar.

Realita di depan mata menyebutkan, selama kita masih memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan golongan dalam konteks apapun perjuangan itu, sesungguhnya kita tidak bisa menamakan diri sudah berbuat untuk bangsa dan semua. Golonganisme selama itu menjadi komandan utama akan selalu menjadikan mata dan hati kita buta terhadap nasib jutaan rakyat dan mereka yang terlantar.

Dalam konteks hukum dan penegakan hukum, sudah sangat ironis membaca dan mengamati para penegak hukum kemudian selalu menjalankan penegakan hukum yang tumpul ke atas, tapi tajam ke bawah. Ketika yang berkasus hukum itu adalah mereka yang memiliki akses kekuasaan sangat tinggi, mereka umumnya kemudian tidak bisa disentuh.

Dalil dan pasal pun kemudian dimanipulasi dengan sedemikian rupa untuk memenangkan kepentingannya walaupun kemudian itu merusak dan menghancurkan kepentingan yang lebih besar. Korban dan tumbal utama adalah mereka yang secara kekuatan hukum lemah dan memang sudah dilemahkan.

Tentu, para pahlawan hukum yang diharapkan mampu menegakkan dan meninggikan bendera hukum bagi kebenaran sudah ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Hari demi hari dan waktu demi waktu, menjadi semakin sulit dan susah menemukan manusia-manusia suci dan bersih yang dapat disebut sebagai pahlawan hukum yang memperjuangkan keadilan.

Perjuangkan Rakyat

Dalam konteks politik, kondisinya pun kurang lebih sama buruknya dimana para politisi kita yang berada di Senayan dan di daerah sudah semakin kehilangan akal sehatnya untuk memperjuangkan rakyat. Sandiwara politik kerap menjadi permainan mereka agar dikesankan memperjuangkan nasib rakyat. Rakyat selalu dibohongi dengan pelbagai janji yang konon akan diperjuangkannya, tapi itu kemudian hanya isapan jempol belaka. Pahlawan politik yang bekerja di legislatif dengan tugas pokoknya di bidang legislating, budgetting, dan controlling sudah tidak ada di republik ini.

Dalam konteks pendidikan juga demikian. Kita bisa amati kerja bidang eksekutif yang membidangi bidang pendidikan dari pusat ke daerah. Salah satu contoh sederhana adalah mengenai bantuan operasional sekolah (BOS) yang dikhususkan untuk mereka yang tidak mampu. Penyalurannya tidak tepat sasaran dan bahkan masih sering terjadi pungutan liar dari oknum sekolah yang mengakibatkan orangtua siswa harus menambah biaya pendidikan untuk anak-anaknya. Pertanyaannya adalah apakah mereka dapat disebut sebagai pahlawan pendidikan, jawabannya adalah memang semakin rumit pengelolaan pendidikan di republik ini.

Dalam konteks pangan juga demikian, dimana negara seharusnya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap nasib rakyatnya agar tetap bisa makan dengan harga beras dan kebutuhan pokok lain yang terjangkau, itu pun semakin jauh dari kenyataan. Perlindungan negara terhadap para petani juga sudah ibarat menegakkan benang basah.

Yang terjadi selanjutnya adalah ketika panen berlangsung, harga palawija, padi dan lain-lainnya yang dihasilkan para petani dalam negeri kemudian anjlok. Inikah yang disebut bahwa negara sudah menjadi pahlawan bagi rakyatnya? Jawabannya ibarat api jauh dari panggang. Kebijakan pangan yang umumnya dilakukan dalam rangka menstabilkan harga pangan dalam negeri selalu melakukan impor barang. Ini merupakan sebuah kondisi ironis.

Tentu, ketika ini dikaitkan dengan pernyataan Soekarno dalam Pidato HUT Proklamasi 1956 mengenai makna pahlawan yang berbunyi bahwa tidak seorang pun yang menghitung-hitung berapa untung yang didapat dari republik ini apabila berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya, maka kita memang semakin sulit mencari dan menemukan manusia-manusia Indonesia yang berjiwa pahlawan.

Revitalisasi Kebangsaan

Mengapa kita semakin kehilangan manusia-manusia yang berjiwa pahlawan, jawabannya adalah sudah kehilangan pegangan dalam konteks kebangsaan sebagaimana yang disebutkan Ernest Renan. Selama ini kita dengan segala status sosial, kelompok gerakan politik yang berbeda, dan begitu seterusnya lebih dominan menegaskan diri dengan egosentrisme masing-masing. Akibatnya, yang terjadi adalah aksi saling hantam menghantam, saling tikam menikam, saling sikut menyikut, saling bunuh membunuh, dan saling memfitnah. Inilah yang disebut matinya para pahlawan.

Oleh karenanya, sebagai upaya untuk melakukan revitalisasi kebangsaan dalam rangka mengobati kering kerontang semangat untuk berjuang demi rakyat, Renan mengatakan, ada baiknya semua elemen bangsa harus berada dalam suatu ikatan batin dengan memiliki persamaan sejarah dan cita-cita yang sama walaupun di dalam suatu kelompok manusia terdapat berbagai suku, ras, budaya, bahasa, adat istiadat dan sebagainya yang bertujuan untuk menjadi bangsa besar.

Menjadi pahlawan tidak harus mendapat apresiasi dari negara dan siapapun di manapun kita berada. Siapapun bisa menjadi pahlawan, selama itu diniatkan bagi kepentingan hajat hidup orang banyak. Melakukan kerja-kerja kebaikan yang kemudian melahirkan kebajikan-kebajikan publik dapat disebut kerja-kerja para pahlawan.

Mampukah kita menjadi pahlawan di tengah kehidupan kita masing-masing walaupun itu merupakan pekerjaan berat? Terlepas apapun jawabannya, selama yang kita lakukan dimulai dari kerja yang tulus dengan jiwa yang ikhlas, kita setidaknya sudah berbuat untuk publik. Kita kemudian sudah meneruskan perjuangan para pahlawan era prakemerdekaan. Semoga. (*)