Selamatkan Perempuan Indonesia

Banjarmasin Post, Kamis_04 Februari 2016 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2016/02/04/selamatkan-perempuan-indonesia)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Ibarat berada di tengah samudra luas, ombak besar dan tinggi yang bernama kekerasan terhadap perempuan terus menerus berulang kejadiannya. Yang teranyar adalah seorang kader Partai Nasdem Dita Aditia diduga dipukul oleh Masinton Pasaribu, anggota Komisi III DPR RI (21/01/16). Ini adalah kondisi ironis. Ternyata seharusnya seorang anggota dewan terhormat memiliki semangat memperjuangkan hak-hak rakyat, termasuk hak perempuan untuk dilindungi dari tindakan kekerasan, ini sudah jauh dari kenyataan. Anggota dewan terhormat seharusnya mampu menjadi sosok yang bisa melayani dengan lemah lembut serta memperlihatkan perilaku yang santun, ini kemudian menjadi gagal dilaksanakan secara konkret dan praksis. Apa yang terjadi ini sekaligus menjadi pukulan telak terhadap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) secara kelembagaan walaupun oknum pelaku terduga bersifat personal. Parlemen yang dihuni orang-orang terdidik ternyata juga memiliki kurang lebih sama terkait tindakan kekerasan terhadap perempuan.

Selanjutnya, data Komnas Perempuan pada 2014 menunjukkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2013 sebanyak 279.688 kasus. Sejak 2010, angka ini selalu menunjukkan tren meningkat. Masih menurut hasil analisis Komnas Perempuan, pola yang terjadi selama ini masih didominasi kekerasan dalam rumah tangga dan relasi personal sebanyak 68 persen, dan kekerasan yang terjadi dalam komunitas sebanyak 30 persen. Sisanya adalah kekerasan yang dilakukan negara terhadap perempuan Indonesia (6/03/15). Apa yang dipublikasikan Komnas Perempuan menjadi sebuah lonceng suram bagi urgensi melindungi perempuan dalam konteks kekerasan di dalam bentuk apapun, dimanapun, dan kapanpun. Diakui maupun tidak dan kita semua harus menyetujui itu bahwa perempuan perlu mendapatkan ruang perlindungan untuk kemudian mengangkat harkat dan martabat mereka. Perempuan adalah pilar bangsa sebab dari perempuanlah, semua laki-laki kemudian menjadi besar dan berhasil akibat ada yang mendampingi dirinya, yakni perempuan. Perempuan adalah sosok yang “tidak terlihat” sebab menjadi “orang yang selalu di belakang” bukan karena terbelakang, memberikan masukan dan mendoakan agar pihak yang diberikan masukan dan didoakan terus maju untuk melakukan yang terbaik. Perempuan menjadi tokoh sentral dalam keberlangsungan hidup kaum laki-laki dan kita semua sebagai kaum laki-laki tidak bisa membantah keberadaannya.

Sumber Konflik

Mengapa perempuan kerap kali menjadi sasaran kekerasan dari kaum laki-laki, ini akibat tidak mampunya melakukan “perlawanan”. Kendatipun harus melakukan “perlawanan”, itu pun terbatas dan mengalami keterbatasan karena dalam konteks apapun dan sehebat apapun seorang perempuan, dia adalah mahluk lemah. Lemah dalam konteks ini umumnya menggunakan emosi atau perasaan. Ini adalah sesuatu yang alami, melekat terhadap pribadi dan karakter perempuan secara kodrati. Pribadinya dengan kepribadiannya yang subtil membawa dirinya untuk menggunakan perasaan dalam setiap interaksinya. Akhirnya, ketika dia bersinggungan dengan sesuatu yang merasa mendorong dirinya terhadap sesuatu yang merasa menyinggung secara perasaan, perempuan akan lebih banyak bereaksi baik itu bersifat psikis dan fisik. Barangkali itulah yang menyebabkan kaum laki-laki terkadang melakukan tindakan kekerasan walaupun itu tetap tidak dibenarkan dengan alasan apapun dan dalih apapun. Dengan kata lain, kaum laki-laki sudah mengetahui dan menyadari itu namun mengabaikannya dengan alasan-alasan ego sektoral yang bersifat kelaki-lakian. Pada kondisi ini, konflik pun menjadi mudah terjadi.

De-Patriarki, bukan Matriarki

Terlepas dari hal tersebut, ada satu hal penting mengapa perempuan selama ini selalu dianggap subordinat dimana perempuan selalu diletakkan di posisi bawah dan laki-laki berada di posisi atas. Pengertian praksisnya adalah di dalam segala kehidupan baik di dalam rumah tangga atau domestik dan publik, perempuan dianggap tidak memiliki kewenangan apapun. Dalam konteks kehidupan berbangsa dimana kita sebagai bangsa Timur, sudah menjadi jamak dalam pikiran banyak masyarakat kita bahwa perempuan selalu dianggap lemah. Perempuan identik dengan tiga zona, yakni Dapur, Kasur, dan Sumur. Menjadi seorang perempuan yang harus keluar dan dikeluarkan dari zona tersebut adalah sesuatu yang sangat sulit. Tanpa harus menggunakan pendekatan agama, memang perempuan juga diwajibkan untuk berinteraksi dengan tiga zona tersebut sebelum melakukan aktivitas-aktivitas di luar rumah. Ini yang kemudian menjadikan bangsa kita masuk dalam kategori budaya patriarki. Perdebatan ini secara terus menerus bergulir lintas zaman, apakah perempuan harus berada di dalam luar ataukah di luar rumah. Pro dan kontra atas itu ibarat bola salju dengan pendekatan diskursus multi perspektif baik agama itu sendiri, budaya, tradisi, adat istiadat, dan lain sejenisnya. Dalam konteks diskusi lebih kritis dengan semakin derasnya perubahan zaman dimana perempuan menuntut untuk keluar dan seolah memang ingin lari dari zona-zona tersebut, perempuan kemudian mencari banyak kesibukan. Kesibukan demi kesibukan ini ditujukan untuk mengangkat status perempuan agar sama atau lebih tinggi derajatnya dengan kaum laki-laki. Dia berusaha apakah itu sengaja atau tidak sengaja mengabaikan tiga zona tersebut dan itulah yang kini marak terjadi (baca: realitas).

Kita sebetulnya sangat setuju atas perjuangan kaum perempuan untuk memiliki aktivitas lebih di luar, selain di ranah domestik tanpa kemudian melupakan tanggung jawab pokoknya dalam dalam rumah tangga. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mampukah mereka berada di dua tempat aktivitas itu secara seimbang apabila tidak bisa melakukan prioritas terhadap wilayah domestik? Tatkala ada pertanyaan lanjutan mengapa kaum laki-laki kemudian melakukan “tindakan kekerasan” terhadap perempuan, maka salah satu faktornya adalah karena kaum perempuan lebih suka memiliki ranah publik ketimbang domestik walaupun ini tidak melakukan generalisasi terhadap semua perempuan di republik ini. Dengan kata lain, kaum perempuan ingin melakukan pembalikan cara pandang dari patriarki menuju matriarki dimana perempuan adalah di atas dan laki-laki ada di bawah. Perempuan mengendalikan banyak hal dan laki-laki dikendalikan oleh perempuan. Segala keputusan berada dalam genggaman kaum perempuan dan laki-laki mengamini itu secara taken for granted. Itu adalah sesuatu yang tidak benar dan dibenarkan dalam budaya bangsa Timur. Justru yang perlu dilakukan adalah marilah menegakkan semangat de-patriarki dimana laki-laki berusaha merangkul dan mengajak diskusi perempuan dalam berbagai diskusi dan bidang kehidupan selama itu tidak berlebihan. Penulis dalam konteks ini tidak menggunakan feminisme apakah itu dalam kacamata strukturalisme maupun post-strukturalisme dalam gerakan melakukan menyelamatkan kehidupan perempuan. Pasalnya, konsep ini tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita sebagai bangsa Timur. Pada prinsipnya, menyelamatkan perempuan dari tindakan-tindakan kekerasan harus dilakukan sebab keberadaan laki-laki menjadi tidak bernilai dan tidak bermakna tanpa kehadiran perempuan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s