Bulan: Januari 2016

Habisi Mafia Narkoba Selamatkan Bangsa

Banjarmasin Post, Rabu_27 Januari 2016 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2016/01/27/habisi-mafia-narkoba-selamatkan-bangsa)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), setiap harinya anak remaja pengguna narkoba yang meninggal berjumlah 30-40 orang. Sekitar 4,2 juta orang terjerat dan menjadi korban narkotika. Yang lebih mengerikan lagi, ternyata para mafia narkoba pun semakin brutal dalam rangka mengedarkan narkoba, dan bahkan bisa saja melawan siapapun yang dianggap dapat menghalangi dirinya untuk mengedarkan narkoba. Yang teranyar adalah ketika polisi sedang melakukan operasi tangkap tangan terhadap pengedar narkoba dan kemudian mendapatkan perlawanan sengit dari pelaku. Itu terjadi di Jakarta dan Medan. Untuk kejadian di Jakarta, Bripka Taufik Hidayat kena bacok, kemudian meninggal karena berusaha menyelamatkan diri dari kepungan massa dengan meloncat ke sungai Ciliwung. Korban lainnya adalah seorang informan yang turut dalam penggerebekan itu ikut meninggal di sungai tersebut dan dua anggota polisi lainnya mengalami luka karena dikeroyok (18/01/16). Di Medan, dua personel Satuan Reserse Narkoba Polresta Medan juga tertembak oleh perlawanan mafia ketika menggerebek kawasan narkoba di Desa Pematang Johar, Labuhan Deli, Sumatra Utara (19/01/16). Begitu pula kemudian itu terjadi di Kawasan Tanjung Priok Jakarta dimana mafia narkoba melawan polisi. Dua anggota polisi terluka kena tembakan dari bandar narkoba (20/01/16).

Membaca tiga rangkaian kejadian itu tentu sangat mengerikan. Para mafia narkoba sudah gelap mata dan menutup hati secara mendalam. Dalam pikirannya adalah bagaimana narkoba yang dibawanya kemudian dapat disebarkan kepada siapapun yang bisa disebarkan dan bisa mengonsumsinya, tidak peduli, apakah narkoba tersebut kemudian merusak masa depan generasi bangsa dan menghancurkan nasib anak bangsa. Apabila dibaca secara lebih kritis, seolah para mafia narkoba benar-benar ingin melakukan perlawanan secara terbuka kepada aparat dan negara bahwa mereka hadir di republik ini memiliki dua tujuan: pertama adalah demi keuntungan sesaat dan kedua adalah untuk menghancurleburkan kehidupan berbangsa dari keadaban dan peradaban. Dampak terburuknya mengenai kehancuran masa depan bangsa bagi para mafia narkoba sudah dibuang dengan sedemikian jauh. Padahal kalau mau berbicara lebih serius dan edukatif, narkoba selama ini menjadi penyakit sangat luar biasa bagi kehidupan bersama. Sudah banyak korban berjatuhan akibat narkoba. Akibat narkoba, pendidikan anak-anak bangsa kemudian terabaikan. Mereka yang sudah terjebak dalam dunia narkoba kemudian menjadi abai terhadap keberlangsungan hidupnya ke depan. Akibat narkoba yang menggelapkan mata dan hatinya ke dalam dunia serba kesenangan sesaat juga membawa penyakit mematikan bagi yang mengonsumsinya.

Berdasarkan hasil riset Puslitkes UI bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) 2014, kejahatan narkoba telah memberikan kerugian sosial ekonomi yang sangat tinggi, yakni sebesar Rp 63 triliun. Setiap tahunnya, diprediksi ada 33 orang yang harus meninggal. Yang lebih ironis lagi, kejahatan narkoba kemudian menghancurkan generasi masa depan sepanjang sejarah kehidupan berbangsa di republik tercinta ini. Data BNN pada 2013 selanjutnya sangat jelas memberikan sebuah ilustrasi tentang pergerakan kejahatan narkoba, yakni terungkapnya 35.436 kasus yang melibatkan 43.767 tersangka atau meningkat sekitar 23%. Angka ini jauh berbeda dengan di 2012 yang masih berjumlah 28.623 kasus dan 35.453 tersangka. Data tersebut tentu ketika dikontekstualisasikan dengan kebrutalan dan keberanian para mafia narkoba untuk berhadap-hadapan langsung dengan aparat kepolisian telah menunjukkan bahwa sudah terjadi perang terbuka antara para mafia narkoba dengan negara. Para mafia narkoba melawan negara untuk bisa memudahkan kepentingannya dalam penyebaran narkoba dan negara sepertinya menjadi kalah dan terkalahkan dengan aksi sporadis serta reaksioner dari para mafia narkoba.

Gerakan Bumi Hangus

Negara yang diwakili kepolisian dan BNN harus memiliki jurus gerakan bumi hangus terhadap para mafia narkoba. Apabila selama ini terkesan masih melakukan kompromi terhadap para mafia narkoba ketika proses penangkapan, ke depan tidak perlu lagi kompromi. Mereka langsung ditembak mati di tempat dan ini yang kemudian disebut shock therapy. Kejahatan dalam dunia narkoba sama dahsyatnya dengan kejahatan terorisme. Ketika gerakan bumi hangus terhadap para pengedar, penjual, dan pengguna narkoba dilakukan, maka ke depan mereka akan ketar ketir untuk bermain-main dengan narkoba. Tidak hanya itu, para bandar pun baik dalam negeri maupun asing pun menjadi ketakutan. Sindikat narkoba yang berjejaring dalam banyak wilayah pun menjadi harus berpikir ulang untuk tetap terlibat dalam dunia narkoba.

Butuh Super Tegas

Selama ini mengapa kejahatan narkoba secara terus menerus mengalami kenaikan baik secara kualitas maupun kuantitas, ini terjadi akibat begitu tolerannya negara terhadap siapapun dan pihak manapun yang terlibat dalam narkoba. Contoh sederhana adalah ketika akan melakukan hukuman mati terhadap pengedar narkoba dari negara lain sebut saja Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dari Australia, Martin Anderson dari Ghana, Raheem Agbaje Salami dan Sylvester Obiekwe dari Nigeria, Rodrigo Gularte dari Brazil, Mary Jane Fiesta Veloso dari Filipina, Serge Areski Atlaoui dari Prancis, negara kemudian menjadi lemah akibat tekanan politik tertentu (baca: realitas). Ini membuktikan bahwa negara kemudian setengah hati untuk melakukan bumi hangus terhadap pelaku kejahatan narkoba. Oleh sebab itu, ke depannya ini memerlukan sikap super tegas yang ditunjukkan dengan keberanian dari negara untuk melawan siapapun dan pihak manapun yang berusaha menggagalkan gerakan bumi hangus terhadap pengedar dan pengguna narkoba.

Belajar ke China

Kita tentu harus banyak belajar ke China dimana negara tersebut benar-benar serius memberlakukan hukuman mati bagi yang melakukan kejahatan narkoba. Data menunjukkan bahwa hampir 500 orang telah dieksekusi di China setelah tahun 2000. Terhitung dari Januari 2005 sampai Mei 2006, China telah menghukum mati lebih dari 53.000 orang yang telah dieksekusi untuk berbagai pelanggaran narkoba. China dalam konteks ini tidak begitu peduli kendatipun dunia melakukan kecaman terhadap hukuman mati yang kemudian dikaitkan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). China tetap memilih menghukum mati atas nama keselamatan bangsa dari kejahatan narkoba. Dalih atas nama HAM sesungguhnya merupakan duri bagi penyelamatan bangsa. Semoga nahkoda republik ini semakin tegas, ganas, dan berani dalam menuntaskan kejahatan narkoba yang sudah sangat jelas merusak dan menghancurkan generasi bangsa.