Carok, Madura, dan Kita

Koran Madura, Published on Nov 04 2015 (http://www.koranmadura.com/2015/11/04/carok-madura-dan-kita/)

Oleh: Moh. Yamin

Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin. Kelahiran Sumenep Madura

Sangat menarik membaca tulisan berjudul Carok Bagian dari Budaya? yang ditulis oleh Nurul Komariyah (Koran Madura, 29/10/15). Nurul mengatakan bahwa carok merupakan tradisi bertarung yang disebabkan alasan tertentu yang berhubungan dengan harga diri kemudian diikuti antar kelompok atau antar klan dengan menggunakan senjata, biasanya celurit.

Tidak ada peraturan resmi dalam pertarungan ini karena carok merupakan cara orang Madura dalam mempertahankan harga diri dan keluar dari masalah yang pelik.

Dalam konteks demikian, saya memiliki pandangan serupa sehingga perlu mendapatkan ulasan secara lebih mendalam. Selanjutnya secara epistemologis, carok merupakan bentuk fisik dihunusnya “celurit” atau istilah Maduranya are’ kepada pihak musuh dengan tujuan untuk membunuh, melukai dan seterusnya. Carok lahir sekitar abad 18-an menjelang abad 19 di Pulau Madura. Ini bersamaan dengan hadirnya penjajahan Belanda yang cukup ganas dan beringas menindih serta memeras harta milik mayarakat Madura. Awalnya, carok dipelopori oleh Pak Sakera dengan seragamnya bernama “pesak”. Ini tepatnya di daerah Sampang Madura yang memang dikenal masyarakatnya itu tegas dan keras secara sikap dan ucapan namun secara pikiran dan naluri kejiwaan, mereka sangat lembah-lembut dan berbalutkan dengan nilai-nilai kesantunan dan keramahtamahan (baca sejarah perjuangan dan budaya Madura).

Alhasil, carok lalu dipergunakan untuk menghalau musuh, para penjajah Belanda yang sangat eksploitatif dan represif pada warga Madura. Carok bertujuan untuk menumpas lawan yang bertendesi menghabisi nyawa dan harta benda milik warga Madura. Carok adalah senjata ampuh warga Madura dalam rangka memerdekakan dan membebaskan kepulauan Madura dan segala isinya dari gempuran musuh yang sangat tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki nilai-nilai keadimanusiaan.

Mengupas Habis Carok

Diakui maupun tidak, carok menjadi andalan terpenting dan bahkan sebuah alat perjuangan alternatif tradisional guna menghantam para lawannya yang sudah menggunakan persenjataan maha hebat. Seolah carok tidak mematahkan semangat juang untuk secara terus-menerus berengsek ke depan guna memundurkan lawan dari barisan-barisan terdepannya kendatipun musuh sudah sangat modern secara amunisi. Dengan carok, warga Madura memiliki satu samangat revolusioner dan progresif untuk bergerak ke depan dan selanjutnya merasa terdorong untuk mempertahankan dan memperjuangkan daerahnya dari pendudukan kolonialis waktu itu.

Secara tegas, carok kala itu menyimpan api membara berbasis chauvinisme positif konstruktif lantaran carok, suka maupun tidak, merupakan luapan dan hasil gagasan kongkret yang diaktualisasikan sebagai alat perjuangan kemerdekaan atas nama bangsa Madura.

Oleh karenanya, sangat wajar bila carok sedemikian itu mampu mencabik-cabik seluruh balatentara Belanda yang mau menguasai kekayaan warga Madura. Lantaran carok membentuk dan mencetak pikiran, sikap dan tindakan warga Madura untuk hidup atas nama sebuah bangsa Madura yang bermartabat dan berharkat. Pepatah Madura mengatakan bahwa “lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup dengan kekecewaan dan tercoreng-moreng mukanya ketika dirinya dicibir, diludahi dan diinjak-injak kehormatannya oleh orang lain” (abengo’ matea bheng-tembheng sengko’ epatodus ben oreng laen).

Oleh karena itu, carok kemudian menunjukkan sebuah kelainan tersendiri yang tak bisa disamakan dengan ciri khas bangsa-bangsa lainnya. Maaf, saya tidak menggunakan kata “suku” dalam tulisan ini karena suku mengacu pada pemaknaan sebuah masyarakat yang kecil, kerdil dan kering akan nilai-nilai (baca semiotika).

Bias Makna Carok

Mengutip pendapat Kuswaedie Syafi’e budayawan kelahiran Sumenep Madura, sekarang berdomisili di Jogkarta, carok mengikuti perkembangan zaman dan dinamika peradaban bangsa Madura, maka ia sudah lepas dari tujuan-tujuan adiluhungnya. Carok semakin sempit makna dan kerdil nilai-nilai peradaban. Simak saja, tragedi-tragedi berdarah-darah yang menelan korban manusia tak terhitung jumlahnya pun menghiasi pernak-pernik percarokan. Bencana Sampit versus Madura beberapa tahun silam menjadi potret buram dan kelam Madura. Tragedi Pamekasan pada pertengahan tahun 2006 ini antara kepala desa lama dan baru terkait “tanah percaton” turut memperburuk citra Madura. Alih-alih mengatakan, carok diselewengkan dan dipergunakan dalam hal-hal destrukif dan anarkis.

Ini belum terhitung carok non-massal antara satu orang dengan satu orang lainnya di Madura. Sehingga Madura, mau tidak mau, bisa dan sudah selayaknya mendapatkan stempel bangsa barbar. Sungguh kejadian-kejadian ini sangat menusuk lambung hati dan memberikan satu ulasan makna bahwa Madura itu ibarat neraka yang siap melayani dan memfasilitasi siapapun untuk bergelimang darah. Secara jujur harus dikatakan, dari empat kota di pulau Madura mulai Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan, maka carok menjadi tradisi yang tidak mendidik dan membuka ruang-ruang kehidupan kelam bagi sesama tetangganya. Karena sebuah persoalan sepele, maka carok menjadi sebuah jalan terakhir untuk menuntaskan sebuah persoalan. Karena istri atau suami selingkuh, ia kemudian ditusuk dengan are’.

Carok lalu merupakan penjawab yang bisa menyelesaikan semuanya. Jujur, ini merupakan kondisi dan fenomena kasat mata yang sangat memalukan dan ironis. Alih-alih mengatakan bahwa warga Madura kemudian disebut bangsa terbelakang, tidak berpendidikan, tidak memiliki sikap lemah-lembut dan menonjolkan musyawarah.

Lebih ironis lagi di beberapa tempat wilayah Madura, ada satu pernyataan, bahwa apabila tidak membawa are’, sama dengan sombong dan angkuh. Secara tidak langsung dan sengaja, ia mengajak untuk bercarok. Pertanyannya adalah apakah suadara dan kita sudah seperti itu? Tidak adakah yang lebih beradab selain harus membawa are’ agar tidak tidak disebut sombong dan seterusnya? Menurut pendapat Kuswaedie S, carok itu sudah mendecitrakan Madura. Akhirnya, mereka yang tidak demen carok lalu ikut distigmakan bercarok. Dan, ini merupakan generalisasi yang sangat tidak sehat. Sehingga, semua masyarakat Madura akhirnya disebut bercarok padahal tidak. Maukah Madura secara turun-temurun selalu seperti itu dan mendapatkan rapor merah di publik? [*]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s