Bulan: Juli 2015

Menuju Anak Indonesia “Melek Kata”

(Refleksi Hari Anak Nasional ke-36 tanggal 23 Juli 2015) Banjarmasin Post_ Kamis, 23 Juli 2015 00:37 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/07/23/menuju-anak-indonesia-melek-kata)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Jumlah anak miskin yang tidak mengenyam pendidikan dasar di negeri ini berjumlah sangat besar setiap tahunnya. Ini ditambah dengan angka anak putus sekolah yang juga mengalami kuantitas sangat besar sebab orang tua mereka mengalami keterbatasan ekonomi sangat luar biasa (baca: realitas).

Mengutip pernyataan ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, saat ini sekitar 11,7 juta anak usia sekolah (7-8 tahun) masih dinyatakan buta aksara, sebagian meski masih SD sudah putus sekolah, ini sangat ironis (Koran Jakarta, 20/7/11).

Data lain sebagaimana dilansir Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, republik ini memiliki sebanyak 3,6 juta warga Indonesia yang masih buta aksara. Provinsi yang memiliki warga buta aksara paling banyak adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat, yakni sebanyak 16,48 persen, kemudian disusul oleh Nusa Tenggara Timur 10,13 persen, Sulawesi Barat 10,33 persen, dan Papua 36,31 persen. Sementara warga yang buta aksara di Jawa Timur adalah sebesar 7,87 persen dan ini masuk dalam kategori tujuh provinsi di atas rata-rata nasional dengan pencapaian 5,5 persen hingga 9,9 persen (http://www.tempo.co, 29/11/13).

Berdasarkan data United Nations Children’s Fund (UNICEF) tahun ini atau 2015 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan, yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Banyak faktor mengapa masih banyak anak negeri yang masih berada dalam pasungan buta akasara. Pekerjaan orang tua yang sangat berpendapatan rendah kemudian hanya cukup untuk kebutuhan dapur supaya asap dapur tetap mengepul pun menjadi sebuah alasan maha utama.

Faktor lain yang juga memicu timbulnya hal sedemikian adalah harga pendidikan yang semakin mahal, sangat tidak terjangkau. Oleh karenanya, data tersebut kemudian memperlihatkan secara tegas bahwa memang pendidikan sudah menjadi sebuah barang dagangan yang bisa diperjualkan dengan harga sangat tinggi. Sehingga kelompok anak orang miskin pun jangan banyak berharap untuk bisa mendapatkan pelayanan pendidikan dasar. Mereka dengan sendirinya pun harus menjauh dari akses berpendidikan. Sehingga dengan kondisi demikian, anak-anak negeri pun mengalami keterputusan menikmati pendidikan di usia dini. Akibat kondisi hidup sedemikian, mereka pun terpaksa harus membantu orang tua mereka mencari nafkah supaya tetap bertahan hidup. Setidaknya, kesulitan orang tua bisa terbantu dengan sedemikian rupa. Namun yang menjadi persoalan adalah anak-anak negeri yang berusia belia tersebut pun kemudian harus kehilangan masa depan cerahnya di masa mendatang. Mereka tidak memiliki cita-cita hidup layak sebagaimana anak pada umumnya.

Apabila anak-anak orang kaya sudah bisa mendapatkan pendidikan dasar layak hingga perguruan tinggi, mereka bercita-cita tinggi dengan segala impian, maka hal demikian tidak bisa dicapai oleh anak-anak orang miskin. Kendatipun mereka harus bermimpi indah dan sangat tinggi, setinggi langit, itu pun hanya sebuah impian di siang bolong sebab tidak akan menjadi sebuah kenyataan. Mereka sangat mustahil meraihnya. Ini ibarat panggang jauh dari api. Alih-alih mereka berkeinginan kuat menjadi orang hebat, bisa mengurangi beban hidup orang tuanya, membahagiakan orang tuanya di masa tua dan lain seterusnya, hal tersebut sangat susah untuk dipraksiskan secara konkret. Oleh karenanya, anak-anak orang miskin harus siap menderita sebagai orang-orang yang tidak bisa membaca, menulis dan lain seterusnya. Mereka mengalami nasib kebodohan sangat luar biasa dan terbelakang.

Bangsa ke Depan

Diakui maupun tidak, ketika jumlah mereka sangat berkuantitas besar, maka mengharapkan agar anak-anak negeri ini segera lepas dari krisis pendidikan, itu pun ibarat menegakkan benang basah. Justru, yang terjadi adalah sederetan masalah baru akan muncul. Banyak anak negeri akan menjadi anak jalanan. Mereka hidup dengan nasib tidak jelas. Orientasi masa depan mereka pun juga tidak menentu. Yang dijalani adalah sesuai dengan dinamika hidup yang ada, ibarat bui di samudera lepas, terapung-apung tanpa orientasi yang jelas dan pasti. Ini belum lagi berbicara dampak lain yang lebih fatal. Mereka juga bisa mencari profesi-profesi yang membahayakan hidupnya, seperti pengemis, preman jalanan dan sejumlah pekerjaan tidak laik lainnya. Ini sangat ironis. Ketika potret anak-anak di negeri ini sudah seperti itu, mereka pun menjadi sampah masyarakat. Apakah mereka kemudian harus disalahkan atau mendapat stempel buruk di tengah publik?

Hal demikian merupakan sebuah kesalahan luar biasa sebab mereka berbuat sedemikian, tidak atas dasar keinginan sendiri namun karena faktor sudah tidak ada yang mengurusi. Menyalahkan orang tua yang menyebabkan anak-anak mereka seperti itu juga sangat keliru. Yang pasti, tidak ada orang tua di dunia ini yang menghendaki agar nasib anak-anaknya lebih buruk ketimbang orang tuanya. Seluruh orang tua sangat mendambakan agar masa depan anak-anaknya bisa lebih baik ketimbang orang tuanya. Ini merupakan sebuah keniscayaan tak terbantahkan.

Yang patut dipersalahkan dalam konteks tersebut adalah kehendak politik pemerintah mulai dari tingkat nasional, provinsi, kota/kabupaten yang sangat lalai memberikan akses kemudahan bagi anak-anak orang miskin yang sangat lemah ekonomi. Elit-elit di negeri ini menutup mata dan telinga dengan sedemikian rapat. Mereka tidak memiliki kepedulian politik sangat tinggi agar anak-anak orang miskin juga diberi ruang sangat bebas dan lebar untuk mengenyam pendidikan dasar dan lain seterusnya, seperti pendidikan murah dan atau gratis. Mempersulit mereka dalam mendapatkan pendidikan sudah menjadi kebiasaan elit-elit yang susah dirubah. Pertanyaannya adalah apakah mereka menyadari hal tersebut atau justru seolah-olah tidak menyadari sikap abai tersebut selama ini?

Realitas di tengah masyarakat sudah membuktikan bahwa pertambahan jumlah anak-anak orang miskin yang tidak mendapatkan pendidikan dasar setiap tahunnya merupakan sebuah kenyataan sosial mengenai ketidakseriusan pemerintah dalam mengurusi pendidikan dasar anak-anak di negeri ini. Komitmen politiknya sangat rendah. Pertanyaan terakhir adalah sampai kapan pertambahan jumlah anak-anak orang miskin harus segera berakhir dan mereka kemudian segera mendapatkan penanganan sangat serius? Yang jelas, bangsa ini akan disebut sebagai negeri dengan tingkat pendidikan maju dan bisa mendapatkan penghargaan dari masyarakat (bukan pemerintah pusat) apabila tugas menyelamatkan anak-anak miskin yang putus sekolah agar mereka segera kembali ke sekolah bisa dilaksanakan dengan sedemikian nyata. Mereka kemudian bisa bersekolah, menikmati bangku pendidikan dasar, setidaknya hingga sekolah menengah atas (SMA) dan sederajat dengan dana yang dialokasikan dari Anggaran negara mulai dari tingkat pusat, provinsi hingga kota/kabupaten.

Inilah yang sangat penting dan utama untuk dipraksiskan. Ini menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut. Jangan ditinggalkan sebab tugas utamanya adalah melayani rakyat, bukan pribadi atau golongan. Tugas negara agar anak-anak Indonesia kemudian menjadi “melek kata” merupakan sebuah tugas yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Inilah tugas Joko Widodo untuk menyelesaikan persoalan buta aksara bagi rakyatnya. Bukti nyata mengenai tingkat kemudahan anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah mendapatkan akses pendidikan pun harus ditunjukkan oleh Mr. Presiden Joko Widodo dimana tahun ajaran baru 2015/2016 mulai tingkat dasar dan menengah tahun ini sudah mulai dilangsungkan.

Tema hari anak nasional tahun ini “Anak Indonesia Sehat, Kreatif, dan Berakhlak Mulia” perlu menjadi lokomotif dalam konteks membangun komitmen rezim Joko Widodo untuk melahirkan kebijakan-kebijakan pendidikan yang berpihak kepada kepentingan anak-anak negeri yang dimulai dari pembangunan pendidikan dari pinggiran ke kota sebagaimana yang termaktub dalam semangat Nawa Cita.

Iklan

Mudik dan Ke-sholeh-an Sosial

Koran Madura _ Selasa, 7 Juli 2015 (http://www.koranmadura.com/2015/07/07/mudik-dan-kesalehan-sosial/)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Puasa Ramadhan 1436 H sudah melewati setengah bulan dan tentu warga Madura yang tinggal di daerah perantauan sudah siap-siap untuk pulang kampung atau yang biasa disebut mudik menyambut hari raya Idhul Fitri 1436 H. Budaya mudik merupakan tradisi konstruktif dan positif yang melekat di setiap kehidupan warga Indonesia. Sebelum Hari Lebaran datang, semua orang yang ada di belahan dunia lain kembali ke kampung masing-masing untuk merayakan Hari Lebaran (Hari Idhul Fitri). Dengan satu tujuan agung, mereka saling bersalam-salaman dan berma’af-ma’afan satu sama lain guna menebus dosa yang diperbuatnya secara hablum minannas. Alhasil, suka cita tak terbendung lagi. Gembira bercampur haru seolah membawanya pada alam yang berlapiskan dengan nilai-nilai sorgawi. Bahkan, dengan bermudik, akan bersua kembali dengan para tetangga, saudara, kerabat dan lain sebagainya.

Dengan bermudik, akan kembali bersatu dengan para tetangga, saudara, kerabat dan lain sebagainya dalam bingkai persahabatan, pertemanan dan persaudaraan yang baik. Dengan begitu, mereka lalu berkumpul dan berkerumun untuk saling melepaskan rindu antar sesama setelah sekian lama tidak bertatap muka. Sungguh, momen sedemikian, mau tidak mau, menjadi satu rahmat tak terbayangkan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada umat-Nya secara tahunan. Momen semacam itu merupakan manifestasi secara konkret atas dipersatukannya manusia yang berserak-serakan di seantaro dunia dalam bentuk berlebaran bersama. Momen demikian sangat sakral dan suci.

Mudik itu tentu mengalirkan nilai-nilai kebahagiaan, kedamaian, dan perdamaian hidup antah berantah. Hidup dan kehidupan yang mereka geluti menjadi sarat dengan nuansa-nuansa kesejukan yang indah dan menawan. Gelak tawa seperti tempo dulu sebelum mereka merantau menjadi terukir kembali secara tindakan praksis. Sehingga mereka seolah kembali ke zaman dulu yang masih lugu dan polos. Kejujuran hidup menjadi terulang kembali. Mereka kembali pada zaman lampau dengan paradigma dan waktu di masa kini yang lebih kontekstual.

Oleh sebab itu, mudik semakin merekatkan tali kasih dan cinta antar dan di antara sesama. Sehingga semuanya menjadi menyenangkan dan menebarkan aroma kesetiakawanan dan kekompakan. Saling bersilaturahmi adalah satu bentuk nyata yang tak bisa terbantahkan yang digelar dengan sedemikian aktif. Mereka kemudian dapat menikmati indahnya alam kelahiran yang telah lama ditinggalkannya sebab sudah sekian tahun berada di perantauan. Terlebih lagi, hingga mereka menjadi warga di daerah lain.

Mudik, bila dikacamatakan secara perenialisme (baca Fritchouf Schuon dalam Transfigurasi Manusia), sangat menyentuh pada jiwa hidup yang esoteris. Dalam konteks tersebut, esoterisme hidup dan kehidupan secara tak terelakkan menghiasi segala ruang batiniah di muka bumi ini. Tidak ada sesuatu hal yang menyedihkan dan mengenaskan. Tidak ada apapun yang memburamkan dan menyuramkan hidup bersama keluarga. Sebab mereka telah bergembira antar sesama. Saling berbagi rasa dan pengalaman antar satu perbicangan pada perbincangan lainnya kian mengalir dengan sangat lancarnya.

Dialog yang kondusif menjadi terbuka dengan sedemikian rupa. Tak hanya itu saja, mereka pun menceritakan banyak hal selama ada di perantauan masing-masing sehingga mereka, akhirnya, terlarutkan pada bincang-bincang yang berlabuh pada pendidikan pengalaman. Diakui maupun tidak, ini merupakan satu realitas yang secara terus menerus terlakoni secara tahun ke tahun. Mudik membawa banyak hal yang bisa menggugah perasaan dan nurani kemanusiaan. Mudik sangat menekankan adanya gambaran hidup dan kehidupan yang bergelimang dengan hal-hal mengejutkan (surprising) dan menggetarkan jiwa.

Ia sangat penuh dengan pelajaran berharga yang tidak bisa dipetik pada momen-momen lainnya. Sehingga mudik itu menambah keyakinan setiap orang untuk tekun, ulet, tegar dan sabar dalam menjalani hidup di bumi ini. Mudik kemudian menjadi investasi berkehidupan yang lebih bermakna dan berarti bagi kehidupan selanjutnya. Sehingga tidak gampang putus asa dalam menghadapi realitas hidup sesungguhnya. Siap dengan segala tantangan, cobaan dan rintangan yang menghadang di hari depan.

Dalam ilmu psikologi sosial, mudik itu adalah akar dari kegelisahan, keinginan, hasrat dan emosi tinggi untuk melampiaskan segala kebutuhan kejiwaan yang lama terpendam. Mudik itu berkelindan dengan jiwa seseorang dan orang-orang yang merasa tertekan secara psikologis sebab lamanya tidak berjumpa dengan dunia yang tersembunyi (hidden world). Menurut Sigmund Freud, alam bawah sadar menjadi terbangunkan oleh alam sadar setelah adanya masa yang membangkitkannya dan menguak alam yang tersembunyi itu. Apakah itu? Hara Raya Idhul Fitri yang bermakna kembali suci (back to sacred).

Oleh karenanya, mudik itu secara tegas berkaitan erat dengan Hari Lebaran yang mendendangkan saling bersalam-salaman, berma’af-ma’afan, berkerumun, berkumpul dan berbagi segala dimensi hidup dalam wadah kebersamaan hidup. Genderang musik mudik ditabuh dengan sangat hebatnya ketika mendekati datangnya Hari Raya Idhul Fitri. Mudik merupakan ekspresi diri dari potensi perjumpaan laten dengan alam kampung kelahiran yang kemudian dijembatani oleh Hari Raya Idhul Fitri; kembali suci. Mudik memengaruhi dan membentuk alam pikiran seseorang dan orang-orang untuk ber-mindset kampung kelahiran dengan segala pernak-perniknya yang sederhana dan natural

Mudik menekankan kesederhanaan dan ke-alamiah-an hidup yang berperspektif kesantunan, keramahan, kesopanan, kesucian, dan keagungan. Mudik berterminal pada “manusia ada dan diadakan, lahir dan dilahirkan atas satu tujuan fitri, yakni bersama menata hidup yang damai, sejuk dan madani dan suci”. Secara sosiologis, mudik itu adalah jawaban penyelesai solutif atas segala problem yang dihadapi oleh manusia. Problem itu menyangkut iri dengki, kebencian, dendam kesumat atas sebuah soal-soal tertentu baik pribadi maupun lainnya dan lain seterusnya. Secara lebih tegas, mudik merupakan jembatan guna membangun bangsa dan masyarakat yang tanpa masalah karena mudik itu sendiri datang untuk menuntaskan segala masalah yang dihadapi oleh manusia. Oleh karenanya, semoga semua umat Muslim di negeri ini yang sedang melakukan mudik bisa selamat sampai tujuan dan bertemu dengan keluarga yang sudah lama ditinggal untuk melepaskan kerinduan yang lama menghilang. Wallahu A’lam Bisshowab…