Keluar dari Konflik untuk Bangkit

Banjarmasin Post, Jumat, 22 Mei 2015 00:42 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/05/22/keluar-dari-konflik-untuk-bangkit)

(Catatan Kritis Satu Semester Pemerintahan Joko Widodo)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Konflik dengan pelbagai akar persoalannya selalu mewarnai perjalanan republik ini. Konflik kekerasan atas nama agama merupakan satu hal di antara sekian potret buram yang menyertai kita semua. Umumnya, hanya karena berbeda keyakinan dan agama, ini kemudian menjadi pemicu untuk melakukan tindakan kekerasan. Tidak ada lagi yang bernama kebersamaan atas nama kepentingan bersama sebagai bangsa yang besar (baca: realitas). Belum selesai satu persoalan tentang konflik atas nama agama, konflik lain kemudian ikut muncul, sebut saja konflik di antara para elit di republik tercinta ini. Kita semua mungkin masih ingat terhadap perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia. Selanjutnya, tawuran antar pelajar pun yang selama ini kerap menghiasi media cetak dan elektronik pun menjadi rangkaian konflik lain yang kian mengilustrasikan secara telanjang bulat bahwa memang begitulah wajah Indonesia yang sebenarnya, yang sangat penuh dengan pelbagai persoalan. Konflik tak berhenti di situ saja. Perang internal di antara sejumlah politisi baik di Partai Golongan Karya maupun Partai Persatuan Pembangunan (PPP) akibat dualisme kepengurusan selanjutnya kian menambah deretan panjang tentang rusaknya tali persaudaran sebagai anak bangsa. Mereka bertempur dan berkelahi bukan lagi demi membangun bangsa, melainkan demi mencapai kepentingan masing-masing. Persoalan tentang ekonomi yang lambat, rupiah yang tidak sehat, dan penegakan hukum yang kacau balau merupakan rentetan masalah lain yang terus menerus mengancam perjalanan republik ini (baca: realitas).

Apabila kita kemudian harus mengurut-kacang-panjangkan banyak persoalan kebangsaan di republik ini, maka kita pun tidak akan pernah selesai membicarakan hal tersebut. Namun terlepas dari hal tersebut adalah pandangan umum yang menyebutkan bahwa Indonesia yang kaya dengan budaya, suku, dan segala elemen di dalamnya bukanlah sebuah mozaik yang bisa menyejukkan dan menyenangkan hati menjadi dapat dibenarkan. Kita semua yang terlalu berpikir kerdil serta sempit telah menunjukkan diri sebagai golongan yang memang tidak lagi bertujuan untuk membangun keharmonisan demi kebangsaan yang beradab dan berbudaya. Semangat untuk membangun bangsa di tengah perbedaan pendapat, pandangan, pemikiran, gagasan, keinginan, kebutuhan, kemauan, dan lain seterusnya justru menjadi sumbu untuk menghidupkan api permusuhan dan aksi saling bunuh membunuh. Idealisme bersama untuk melahirkan bangsa yang indah dan cantik tidak lagi ada, namun yang muncul dalam benak mereka dan kita adalah bagaimana memperburuk wajah Indonesia dengan pelbagai aksi yang destruktif dan anarkis.

Kita berada dalam sebuah arena untuk bertanding, bukan demi pembangunan, namun untuk kehancuran. Kita lahir dengan segala perbedaan bukan untuk bisa hidup berdampingan, melainkan untuk bersitegang satu sama lain tiada henti. Kita memiliki kulit yang berbeda, bukan kemudian dimaknai sebagai sebuah kekayaan namun sebuah malapetaka dan bencana yang kemudian harus diperangi sampai benar-benar berada di titik darah penghabisan. Antara bekerja untuk kemanusiaan dan keserakahan kemudian berada di titik yang relatif tidak jelas. Antara bekerja untuk bangsa dan ego sektoral kemudian tidak lagi ada, namun yang muncul adalah bagaimana saling menyelamatkan diri masing-masing tanpa kemudian memedulikan kepentingan hajat hidup orang banyak. Kita kemudian menutup mata terhadap pelbagai realitas kehidupan dan hidup bahwa perbedaan dan keberbedaan dalam banyak merupakan sesuatu hal niscaya dan dalam agama hal tersebut dinamakan sunnatullah. Kita memang kemudian menjadi manusia-manusia yang dilahirkan seperti homo homini lupus. Ini menjadi sesuatu hal yang sangat mengerikan. Apabila kemudian dimunculkan sebuah pertanyaan, apakah ini menjadi sinyal buruk bagi perjalanan bangsa ke depan, kita semua memiliki jawaban yang sama, yakni “iya” sebab bagaimana akan bisa memperbaiki lingkungan sekitar dan lain seterusnya sementara kita masih hidup dalam serba emosi dan marah atas dasar egoisme masing-masing.

Sekali lagi kita harus sadar bahwa membangun bangsa di tengah perbedaan adalah sesuatu yang penting. Joseph Ernest Renan (1823-1892) mengatakan bahwa munculnya bangsa adalah karena adanya kehendak untuk bersatu. Ketika ini dihubungkan dengan kepentingan bangsa di tengah perbedaan, maka apakah kita semua memiliki kehendak bersatu? Persoalan mendasar dalam konsep kehendak untuk bersatu adalah membuang kepentingan ego sektoral. Persoalan utama yang menyebabkan sulitnya kehendak untuk bersatu adalah tatkala kepentingan sektoral sangat kuat mendominasi dan kemudian menghancur-leburkan kepentingan untuk bersama. Terlepas dari hal tersebut, apabila semua anak bangsa di republik ini masih mengingat dan sangat ingat terhadap sumpah pemuda yang diikat atas dasar bahasa Indonesia, Tanah Air Indonesia, dan Bangsa Indonesia, maka kehendak untuk bersatu kemudian akan menjadi kenyataan tak terbantahkan. Sebaliknya, ketika persoalan tentang kepentingan bangsa, tanah air sebagai pusaka yang harus dipelihara, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa tunggal persatuan kemudian ditanggalkan demi mengejar kursi kekuasaan, kemenangan jangka pendek, dan begitu seterusnya, maka sampai kapanpun tidak akan pernah ada yang bernama bangsa yang berdaulat dan berjaya. Menjadi wajar apabila tali temali persaudaraan untuk membangun bangsa akan terus menerus tercerai berai. Oleh sebab itu, menuju bangsa yang bangkit dari keterpurukan dan konflik atas dasar bendera sempit pun menjadi sesuatu yang mustahil terjadi.

Tugas Berat

Mr. Joko Widodo sebagai Presiden Ke-7 yang konon dipilih oleh rakyat adalah merawat bangsa yang plural dan multikulral ini. Bangsa yang besar kemudian akan menjadi kenyataan ketika Mr. Joko Widodo mampu menjadi presiden yang besar, pemimpin yang tidak semata menjadi milik kelompok tertentu, namun milik seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sudah satu semester lebih memimpin republik ini, publik memiliki pandangan pesimis bahwa Joko Widodo akan mampu membawa kapal Indonesia menjadi jaya, namun itu kemudian jangan menjadi batu sandungan. Yang terpenting harus dilakukan adalah Joko Widodo ke depan harus membuktikan bahwa dia bisa melakukan itu. Apabila rakyat sudah terhipnotis oleh gaya kepemimpinannya yang populis, maka itu harus ditunjukkan dengan kerja yang berani dan tegas, dan jangan lemah dan mau dilemahkan oleh intervensi pihak luar.

Iklan

One comment

  1. Ikatan antar kita sudah ada, mengapa mesti diari lagi? Sy tidak yakin Pak Joko mampu. Trmkasih. Mampi ke mumaseo.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s