Visi Kebangsaan yang Hilang

Koran Madura, Kamis_Mei 21 2015 (http://www.koranmadura.com/2015/05/21/34344/)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Asal Lalangon, Sumenep

Ketika bangsa ini didirikan dengan susah payah, dengan cucuran air mata dan darah, para pendiri bangsa ini sangat menghendaki agar seluruh penerus pemimpin negeri ini di masa depan mampu mengedepankan kepentingan bangsa di atas segala-galanya. Soekarno, Hatta, M. Syahrir, Tan Malaka dan lain seterusnya selalu berharap agar rakyat menjadi subyek yang harus selalu diperjuangkan hak hidupnya. Mereka mendapatkan ruang kepedulian politik sangat tinggi dari para elit. Menjunjung tinggi hak dasar hidup setiap warga negara agar mereka bisa hidup layak, memeroleh pelayanan yang laik dari pemerintah merupakan sebuah hal niscaya.

Sejarah kepemimpinan dan perjuangan para pendiri bangsa memberikan bukti nyata secara politis bahwa mereka selalu menempatkan kebutuhan dan kepentingan bersama di atas segala-galanya. Kepentingan kerdil dan sempit tidak terjadi sama sekali. Selalu terbangun kehendak dan komitmen kuat agar rakyat dan bangsa bisa bebas dari segala bentuk kemiskinan dan kemelaratan. Visi yang dibangun dan dijalankan adalah visi kebangsaan dengan subyek perjuangan untuk semua rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Akan tetapi persoalannya adalah menjadi lain ketika dalam perjalanan kepemimpinan dari fase-fase, banyak pemimpin di negeri ini telah salah dalam memaknai dan manafsirkan sebuah kepemimpinan. Yang muncul adalah kepemimpinan sangat identik dengan kekuasaan. Siapa yang memimpin, maka dialah yang akan menguasai. Padahal makna memimpin dan menguasai sangat berbeda konteks. Memimpin lebih merujuk pada sosok seorang yang selalu mengayomi, merawat dan memberikan kasih sayang kepada sesama dan tujuan akhirnya adalah berbuat yang terbaik kepada yang diayomi, dirawat dan lain seterusnya.

Sedangkan menguasai cenderung kepada pola sikap seseorang yang menindas, memperlakukan secara sewenang-wenang, selalu bersikap anarkis dan destruktif. Mengorbankan kepentingan bersama di atas segala-galanya dilalui dengan sedemikian rupa. Menguasai adalah bentuk kepemimpinan yang membawa kehancuran bangsa. Rakyat kemudian dijarah hak dasar hidupnya. Antonio Gramsci menilai, menguasai adalah pola dan gaya seorang pemimpin yang lebih suka membohongi rakyat dengan segala macam alibi. Seolah-olah berbicara dan berjuang demi kepentingan rakyat, namun sesungguhnya apa yang dilakukan hanyalah untuk memuaskan libido sektoral. Seakan-akan sangat manis dan baik dalam berbicara di depan seluruh rakyatnya, hal tersebut sebenarnya merupakan bagian dari cara untuk mengelabui rakyat. Tipu daya muslihat dengan pelbagai modus digunakan selama kepentingan pribadi dan golongan bisa dicapai dengan sedemikian berhasil. Bila perlu, bersumpah dengan menggunakan nama agama dan kitab suci pun juga digunakan sebagai bagian dari legitimasi pembenaran terhadap apa yang dikehendakinya.

Menguasai justru mencerminkan seorang pimpinan yang kehilangan kepekaan sosial sangat tinggi agar ia bisa menjadi seorang terbuka. Menguasai melahirkan model pimpinan yang represif dan otoriter. Kemauan keras untuk bisa merangkul semua dalam konteks kehidupan kebersamaan menjadi gagal ditunaikan dengan sedemikian kongkrit dan praksis. Seorang pemimpin sedemikian menjadi kehilangan nurani. Sejalan dengan pandangan tersebut, Ki Hadjar Dewantara memandang bahwa seorang yang menguasai dan menjadi penguasa sangat jauh dari budaya serta kehidupan bangsa Indonesia. Beliau berpendapat, kemuliaan seseorang hanya bisa dinilai dari sikapnya yang berbudi pekerti luhur. Selalu rendah hati, pengasih dan penyayang merupakan ciri-ciri pemimpin yang akan selalu dikenang dan didambakan seluruh rakyat. Pertanyaannya adalah apakah para elit negeri ini dalam menjalankan amanat dan tanggung jawabnya sebagai pejabat lebih menggunakan pendekatan kepemimpinan sebagai seorang pemimpin ataukah penguasa? Itulah sebuah pertanyaan sangat mendasar yang harus dijawab oleh para elit negeri ini.

Betulkah mereka ketika menjalankan wewenang dan tugasnya benar-berada di jalan yang benar dan lurus, selalu memikirkan kepentingan rakyat ketimbang hal sepele? Terlepas apapun jawabannya, realitas politik saat ini sudah menunjukkan secara telanjang bulat bahwa banyak elit dan atau sebagian besar elit di negeri ini telah gagal menjadi seorang nahkoda sebuah kapal besar di lautan lepas yang mampu mengarahkan pada rute yang benar dan tepat. Justru yang mereka lakukan adalah bagaimana kapal besar yang dinahkodainya bisa ditenggelamkan ke dalam lautan samudra lepas. Melubangi di berbagai sana sini kemudian dilakukan supaya air laut masuk ke dalamnya dan semua penumpang kemudian bisa mati tanpa tersisa sedikit pun. Sedangkan sang nahkoda mencari upaya selamat sendiri dengan menaiki kapal kecil namun segala barang berharga yang berada di kapal besar dipindah ke kapal kecil dan dibawa lari.

Ujung Tanduk

Potret perumpaan sedemikian sesungguhnya sudah mulai terlihat satu demi satu ketika para elit negeri ini sedang menjalankan tugas dan wewenangnya. Pemerintahan Joko Widodo yang sudah lebih dari satu semester kemudian memperlihatkan kinerja yang buruk bagi kehidupan rakyatnya, terutama tim ekonomi dan hukum. Kementerian ekonomi dan bidang-bidang terkait kesejahteraan hidup rakyat justru tidak mampu membangun atmosfir ekonomi yang berpihak kepada hajat hidup orang banyak. Sedangkan Kementerian Hukum dan HAM pun justru selama ini sudah banyak menggaduhkan kehidupan republik ini. Ini belum lagi berbicara tentang konflik berkepanjangan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kepolisian (baca: realitas). Tentu, sungguh ironis dan kita semua mengelus dada. Yang jelas, kondisi sedemikian telah mengilustrasikan bahwa para elit negeri bukan lagi bekerja demi kepentingan bangsa dan negara di atas segala-galanya. Mereka justru menjual idealisme demi tujuan sempit dan kerdil.

Genderang Kehancuran

Diakui maupun tidak, sangat susah segera keluar dari belenggu kemelaratan bangsa ketika para elit negeri telah mencabik-cabik nurani kemanusiaan dan kerakyatannya. Nurani sudah dibunuh dan diganti dengan nafsu keserakahan dan ketamakan untuk bisa menjadi penguasa bagi semua. Darah yang mengalir di tubuh para elit negeri adalah darah banalitas yang sekonyong-konyong berkehendak kuat untuk mementingkan diri sendiri. Akhirnya, bangsa ini kemudian harus siap menabuh genderang kehancuran. Tidak ada yang bisa diharapkan demi perbaikan kondisi bangsa di masa depan sebab para elit negeri ini sudah kalap dan brutal. Mereka bukan lagi sosok para pejabat yang berhati mulia. Mereka bukan lagi menjadi harapan penyelamat bagi semua. Mereka ibarat serigala yang siap menerkam siapapun yang ada di depannya. Homo homini lupus menjadi prinsip hidup mereka. Haruskah bangsa ini terus menerus dinahkodai para elit negeri yang berjiwa dehumanis? Inilah tantangan ke depan yang harus segera dijawab. Apapun bentuknya, tanggung jawab para elit negeri untuk segera merubah paradigma dari destruktif menuju konstruktif bila menghendaki ada perubahan yang baik ke depannya. Tantangan Joko Widodo ke depan adalah buktikanlah bahwa dia mampu menjadi presiden untuk rakyatnya. Buktikan bahwa konkretisasi konsep revolusi mental dalam segala kebijakan yang bersentuhan dengan kepentingan publik dan hajat hidup orang banyak untuk merubah kehidupan bangsa ini menjadi beradab, bermartabat, dan berdaulat benar-benar dijalankan secara nyata, bukan sebatas lip service an sich.

Iklan

2 comments

  1. Menurut Alexis Carrel (peletak dasar-dasar humaniora di Barat) dalam (H. Chairul Anwar, 2014) mengatakan bahwa “manusia adalah makhluk misterius. Manusia adalah makhluk misteri yang tidak mungkin disebutkan sifat dan ciri-cirinya secara tuntas dan karena itu harus dipahami dan dihayati. Oleh karena itu, menurut Kamsudin Ridwan (2015), bahwa “manusia bisa menangis di dalam tertawa dan bisa tertawa di dalam menangisnya”. Inilah yang dikatakan sebagai misteri yang mengusik manusia berjuta-juta tahun yang lalu untuk terus mencari tahu bahwa siapa sebenarnya sih manusia itu? dan untuk apa manusia itu dihadirkan ke dunia? dan akan kemanakah makhluk manusia ini?. Ini semua merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran manusia untuk memikirkan tentang siapa sih dirinya itu sebenarnya?. Sejak berjuta-juta tahun yang lalu, sampai saat ini manusia selalu mencari dan terus mencari tentang hakikat eksistensi dirinya. Manusia mencoba mendefinisikan manusia menurut manusia. Mampukah manusia mengetahui hakikat dirinya secara sempurna sementara dalam Al-Qur’an Allah SWT telah menjelaskan bahwa “mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh maka katakanlah bahwa roh urusan Tuhan dan tidaklah kalian diberikan pengetahuan kecuali sedikit sekali”. Dari ayat Al-Qur’an ini, dapat kita pahami bahwa manusia tidak akan pernah mengetahui secara holistik tentang siapa sih makhluk manusia itu. Hanya Allahlah Yang Maha Tahu secara sempurna tentang siapa sih sebenarnya makhluk manusia itu?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s