Hari: Mei 2, 2015

Lonceng Keterpurukan Pendidikan Kita

(Refleksi Hardiknas 2 Mei 2015)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di FKIP Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, penulis buku-buku tentang pendidikan

Betulkah kemampuan anak-anak didik kita di republik tercinta ini mengalami peningkatan mutu dan kemajuan? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dipantau dari hasil studi Trends in International Mathematics and Science atau TIMSS sebagaimana yang diirilis oleh The International Association for the Evaluation of Educational Achievment (11/12/12). Dari hasil studi tersebut, nilai rata-rata siswa untuk matematika 386 atau turun 11 angka dari Trends in International Mathematics and Science 2007. Adapun nilai untuk sains 407 atau turun 21 angka dibandingkan dengan 2007. Dengan nilai sedemikian, Indonesia berada di posisi ke 38 dari 63 negara dan 14 negara bagian dari yang disurvei. Sedangkan untuk sains, Indonesia berada di posisi ke 40. Posisi ini sedikit di atas Maroko dan Ghana untuk sains serta di atas Maroko, Oman, dan Ghana untuk Matematika. Namun Indonesia tertinggal dari Thailand, Malaysia, dan Palestina. Hasil Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2011 pun juga memberikan kabar buruk bahwa siswa kelas IV Indonesia berada di urutan ke 42 dari 45 negara dengan nilai rata-rata 428. Di bawahnya ada Qatar, Oman, dan Maroko.

Sementara dalam Programme for International Student Assesment (PISA) yang mengukur kecakapan siswa untuk usia 15 tahun dalam mengimplimentasikan pengetahuannya guna menyelesaikan permasalahan-permasalahan dunia nyata pun juga rendah. Hasil dari tahun 2003, 2006, dan 2009 menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia berada di urutan buncit. Untuk laporan PIRLS 2012, data menunjukkan bahwa Indonesia berada di nomor 2 paling terakhir sebelum Peru dari 66 negara dan 3 negara bagian, yakni dengan nilai rata-rata 382. Kita bisa bandingkan dengan Singapura dengan nilai rata-rata 551 dan Malaysia dengan nilai rata-rata 420. Bagaimana hasil studi Trends in International Mathematics and Science atau TIMSS di 2015 dan hasilnya rampung di 2016, selanjutnya dipublikasikan di 2017, maka kita tunggu saja hasilnya. Kemungkinan besar, kondisinya tidak akan jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ini bukan berarti bahwa kita selalu berpikiran negatif terhadap kualitas pendidikan kita sendiri, namun begitulah kita dan atau Indonesia yang tidak pernah mau belajar dari kesalahan masa lalu, yang kemudian selalu mengulang kesalahan pengelolaan pendidikan di hari esoknya.

Pertanyaannya adalah mengapa dunia pendidikan kita selalu terpuruk dan mengapa anak-anak Indonesia yang seharusnya mampu menjadi generasi emas bagi keberlangsungan bangsa ke depan ternyata belum mampu memberikan energi positif bagi kemajuan pendidikan dan bersama? Memang diakui maupun tidak, kita mungkin selama ini sudah berbangga diri karena sudah memiliki sejumlah anak negeri yang mendapatkan medali emas, perunggu atau perak di pentas internasional. Namun kendatipun demikian, bila dihitung, jumlahnya hanya segilintir orang ketimbang jumlah total anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kebanyakan anak negeri kita justru selama ini belum dan tidak memeroleh dunia pembelajaran yang akomodatif bagi pembangunan dan pengembangan bakatnya. Lihat saja, dalam dunia berhitung, anak-anak kita lebih banyak diajarkan pada wilayah-wilayah teknis belaka bagaimana seharusnya menambah, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Pengajarannya hanya berhenti sampai di situ. Sementara mengajak mereka untuk bernalar sangat minus.

Akhirnya ketika mereka diajak melakukan logika atau bernalar, itu pun menjadi kesulitan. Dalam dunia sains pun juga demikian. Anak-anak kita hanya diajarkan menghafal dan menghafal materi, bukan mengajak mereka melakukan pengembaraan intelektual dengan menawarkan pelbagai persoalan yang dihadapi dunia nyata untuk dipecahkan. Sains selama ini tidak membelajarkan anak-anak didik agar mereka mengetahui apa yang melatarbelakangi kemunculan pengetahuan dan bagaimana selanjutnya harus menyikapinya. Dalam dunia membaca pun juga demikian dan ini menjadi sebuah fakta tak terbantahkan.

Sesungguhnya, minusnya minat anak didik dalam membaca dipicu oleh minusnya keinginan dan inisiatif pengajarnya dalam membaca. Pengajar adalah figur dalam sekolah dan bagi anak didik sehingga apa yang dilakukan pengajarnya kemudian akan ditiru oleh anak-anak didiknya. Mengapa anak didik kemudian menjadi sangat rendah dalam membaca, ini selanjutnya terjadi karena tidak dan belum ada lingkungan yang mendukung bagi terbentuknya tradisi serta budaya membaca bagi para siswa.

Setengah Hati

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menetapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan di republik ini. Hanya beberapa sekolah yang kemudian dibolehkan untuk tetap melaksanakan Kurikulum 2013 selama sekolah bersangkutan memiliki kesiapan dalam banyak hal. Tentu, dua wajah kurikulum yang sama-sama dilaksanakan ini sesungguhnya disebut sebagai pelaksanaan kurikulum setengah hati dan ini mengakibatkan wajah pendidikan kita tidak jelas.

Namun terlepas dari sikap pemerintah sendiri yang setengah hati dalam konteks antara implimentasi KTSP dan Kurikulum 13, maka wajah kurikulum apapun namanya harus mampu membawa dan melahirkan paradigma baru dalam memandang sebuah implimentasi pendidikan yang global. Pendidikan global adalah bagaimana setiap satuan mata pelajaran memiliki capaian-capaian yang terukur dan kemudian tidak sempit dalam memahami setiap tujuan yang ingin dicapai. Tidak menjadi persoalan ketika capaian mikro dalam setiap mata pelajaran harus diperoleh serta ukurannya kemudian berada di atas kertas.

Terlepas dari itu, capaian makro pun dalam setiap mata pelajaran juga harus diperjelas. Apabila satuan mata pelajaran tersebut bernama matematika, maka tujuannya bukan berhenti pada suksesnya mengalikan, menambahkan, mengurangi, dan membagi. Lebih dari itu adalah bagaimana siswa selanjutnya mampu membaca fenomena alam dengan kekuatan nalar yang tinggi sehingga hitung-hitungan pembacaan fenomena kemudian dapat dikacamatakan secara matematis. Satuan mata pelajaran tersebut juga bisa terjadi kepada satuan mata pelajaran lain. Sekali lagi, tantangan pendidikan ke depan adalah sangat global dan mengglobal. Tentu, ini kemudian perlu menjadi landasan dalam melangkah untuk dunia pendidikan kita ke depannya. Semoga…

Iklan