Bulan: Agustus 2014

Ironi dan Kritik atas Anggaran HUT RI

Banjarmasin Post_Senin, 18 Agustus 2014 01:00 WITA (http://banjarmasin.tribunnews.com/2014/08/18/ironi-dan-kritik-atas-anggaran-hut-ri)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Dalam press release (14/8/2014) yang disampaikan Direktur Advokasi dan Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi, upacara peringatan Ulang Tahun Republik Indonesia (RI) ke-69 yang dilaksanakan Istana Presiden sangat mahal. Nilai rupiahnya mencapai Rp. 11,3 miliar. Rinciannya adalah sewa tenda dan kursi senilai Rp 2,5 miliar, biaya pengadaan souvenir Rp 1,8 miliar, biaya pemasangan tenda dan panggung Rp 1,5 miliar, sewa AC dan camera shooting Rp 1,5 miliar, dan pengadaan pakaian sipil Rp 1 miliar. Bahkan, juga ada pengeluaran lain seperti dekorasi bunga, pengadaan dan pemasangan umbul-umbul serta sewa mobil box. Yang menjadi pertanyaan adalah beginikah cara memaknai kemerdekaan dengan menghabiskan uang negara? Inikah yang disebut kemerdekaan yang selama ini banyak kita pahami? Dengan kata lain, memaknai kemerdekaan kemudian selalu identik dengan mengeluarkan uang negara yang besar. Memaknai kemerdekaan selalu berjalin kelindan dengan perayaan yang mewah dan lain sejenisnya. Pandangan umum yang kemudian muncul adalah setiap kali akan mengadakan perayaan HUT RI dari tahun ke tahun selalu menelan uang negara yang sangat fantastis. Apakah tidak ada jalan lain sebagai langkah progresif untuk menghemat anggaran negara agar tidak habis untuk tujuan tidak substantif atau seremonial belaka.

Perayaan kemerdekaan tentunya hanya berlangsung satu hari mulai dari pengibaran bendera merah putih di pagi hari dan penurunan bendera merah putih di sore hari. Tentunya, dengan besaran anggaran yang memukau tersebut, dampaknya bagi rakyat tidak terlalu signifikan dan berpengaruh bagi kehidupan berbangsa. Walaupun acaranya meriah dan gegap gempita sebab dihadiri para tamu undangan Asing, kegiatan tersebut tetaplah sebuah ritualitas yang tidak akan membekas bagi rakyat. Mungkin bagi para pejabat dan penguasa, mereka senang sebab dikelilingi oleh ritualitas kegiatan yang membuat mereka merasa menjadi orang istimewa dan super mewah di momen tersebut. Memang diakui maupun tidak, merayakan kemerdekaan adalah penting, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana anggaran yang besar tersebut kemudian dikurangi dan disesuaikan dengan kebutuhan tanpa mengurangi maksud dan tujuan. Inilah sesungguhnya yang perlu menjadi harapan bersama agar dana yang dihabiskan satu hari tersebut kemudian tidak sia-sia belaka.

Logika Penguasa

Dalam logika penguasa, yang dibentuk serta tertanam dalam alur berpikirnya adalah bahwa setiap kegiatan apapun yang terkait dengan perayaan seremonial, termasuk perayaan HUT RI sudah semestinya dirayakan sebesar mungkin. Konon pandangan yang digunakannya adalah untuk mengingat dan mengenang para pejuang terdahulu yang sudah berjasa dalam memerdekakan republik ini dari para penjajah. Para penguasa berpikiran bahwa dengan merayakannya secara besar-besar dan dengan menghabiskan anggaran yang sangat besar, maka para pejuang terdahulu akan menjadi bangga. Bangga karena mereka selalu dikenang dan diingat setiap tahun. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah para pejuang terdahulu baik yang masih hidup maupun sudah meninggal bangga atas perayaan tersebut? Jawabannya adalah belum tentu bangga. Kendatipun ada yang mengatakan bangga, itu kemungkinan besar adalah pernyataan yang dibenarkan dalam rangka untuk tetap menyelenggarakan perayaan tersebut. Justru kalau mau berpikir jauh mendalam dan ke depan, para pejuang terdahulu akan bangga ketika bangsanya menjadi maju. Sektor-sektor terkait kehidupan berbangsa dan bernegara selanjutnya dimajukan dengan sedemikian rupa. Peningkatan kualitas pendidikan secara terus menerus dilakukan, mulai dari membebaskan anak-anak orang miskin dari biaya pendidikan, dan lain sejenisnya. Tidak hanya itu, pembangunan infrastruktur yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, sebut gedung sekolah, jalan-jalan di daerah pinggiran dan perbatasan, dan lain seterusnya. Bahkan, pembangunan ekonomi rakyat kecil juga dilakukan dengan sedemikian rupa.

Oleh karenanya, pikiran penguasa yang selalu berorientasi kepada kegiatan seremonial dan menegasikan esensi sudah sangat jelas memperlihatkan bahwa mereka sebetulnya tidak memahami fungsi anggaran publik. Anggaran publik sesungguhnya harus dikembalikan untuk hajat hidup orang banyak dengan membuat program-program yang mampu meningkatkan kualitas hidup orang banyak. Pikiran rezim yang masih menggunakan pendekatan hitam dan putih dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya selanjutnya memberikan jawaban bahwa apa yang mereka kerjakan selama ini belum dan tidak sepenuhnya untuk publik. Kendatipun mereka ada untuk publik, itu pun hanya setengah hati saja. Apabila harus dikontekstualisasikan dengan anggaran HUT RI yang besar tersebut, tentu penguasa seharusnya lebih peka dan cerdas dalam membaca realitas kehidupan rakyatnya. Dengan kata lain, ketimbang uang negara kemudian dihabiskan dalam satu hari untuk kegiatan seremonial, mengapa mereka tidak berpikir agar perayaan HUT RI tidak diminimalisasi anggarannya selama tidak mengurangi maksud dan tujuan.

Kini apapun jawabannya dan tentu penyelenggaraan HUT RI ke-69 sudah selesai dilakukan, maka ke depan siapapun pemimpinnya untuk periode 2014-2019, keberpihakan untuk rakyat adalah nomor wahid. Marilah untuk bisa berbicara dan bekerja secara tepat sasaran dalam melayani rakyat, bukan kemudian memanfaatkan wewenang dan kekuasaannya untuk tujuan-tujuan yang selanjutnya melukai dan menyakiti nurani publik. Kehadiran para pemimpin secara hakiki adalah untuk melayani rakyat, bukan rakyat menyembah dan melayani para pemimpinnya.