Bulan: Agustus 2013

Terorisme dan Minusnya Peran Negara

Sinar Harapan, Senin, 12 Agustus 2013 (http://cetak.shnews.co/web/read/2013-08-12/16409/terorisme.dan.minusnya.peran.negara#.UgitIKzAJoo)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen dan Peneliti di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Minggu (4/8/2013) malam, terjadi peledakan terhadap Vihara Ekayana yang terletak di Duri Kepa, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Ketika terjadi ledakan sekitar pukul 19.01 WIB, kurang lebih 300 umat sedang melakukan kebaktian. Bunyi ledakan pertama berada di depan pintu masuk tempat ibadah tepatnya di belakang patung Budha Maitreya. Ledakan bom kedua terjadi beberapa menit kemudian di depan pintu ke dua atau di halaman wihara tepatnya berada di belakang patung Buddha Sakyamuni. Kini kepolisian sedang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), siapakah yang terlibat di dalamnya. Namun jawaban publik sementara adalah ini melekat kepada jaringan teroris. Dengan kata lain, jaringan teroris di republik ini tak pernah habis dan akan hidup abadi. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka yang mengatasnamakan demi tegaknya syariat Islam atau demi kepentingan-kepentingan lain di balik penggunaan simbol-simbol agama kemudian berani melakukan apa pun. Menurut data yang dirilis kepolisian terkait terungkapnya jaringan teroris Madiun dalam penangkapan 11 terduga teroris di empat kota, Sabtu (27/10/12), masih banyak teroris yang bergentayangan di republik tercinta ini. Mereka terus menerus menebarkan ketakutan di tengah publik dengan mempertontonkan aksi-aksi destruktif, anarkis serta mematikan. Oleh karena itu, terorisme akan terus subur kapan pun dan dimana pun, tidak mengenal musim apa pun. Terorisme sesungguhnya menjadi penyakit besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Seakan, negeri ini akan tetap dikepung oleh kelompok teroris yang kebetulan ataupun tidak sudah terindentifikasi identitasnya. Lantas, mengapa hal tersebut terus terjadi?

Fenomena terorisme tidak bisa divonis sebelah mata bahwa terorisme muncul tanpa ada sebab. Terorisme justru harus mendapat sorotan secara serius mengapa hal tersebut terus muncul. Sekali lagi, dalam konteks ini, janganlah selalu menggunakan paradigma sektoral bahwa akar terorisme selalu berkelindan erat dengan dangkalnya pemahaman agama. Terorisme merupakan bagian dari doktrinasi ideologi tertentu. Menggunakan cara pandang arif dan bijaksana dalam mencerna akar terorisme dalam konteks sosiologi justru lebih utama praksisnya ketimbang kemudian terjebak pada ranah agama yang berbicara salah dan benar, hitam dan putih dan lain seterusnya. Janganlah memaksakan cara pandang sempit dan kerdil agar terus menerus mengaitkan persoalan terorisme dengan agama sebab ini semakin mengaburkan tujuan yang ingin dicapai dalam rangka menuntaskan persoalan terorisme dengan segala anak pinaknya.

Akar Terorisme

Ada sebuah pemahaman baru yang harus menjadi diskusi bersama mengapa terorisme terus tumbuh subur. Diakui maupun tidak, kemiskinan sosial semakin merajalela dimana-mana. Masyarakat masih hidup dalam jurang kemiskinan ekonomi. Roda ekonomi lebih banyak dikuasai kaum kaya. Imbasnya, yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin kian miskin. Ironisnya, keberpihakan kelompok orang kaya agar peduli dan memedulikan kaum miskin tidak pernah ada. Semangat filantropis kaum kaya kepada kaum miskin sudah mengalami kematian. Kelompok kaya menutup mata dan hati dengan sedemikian rupa. Kekuatan dan kehendak serius kelompok orang kaya guna mengangkat derajat hidup kaum miskin agar segera bisa lepas dari kerangkeng kemiskinan tidak digelar sama sekali.

Justru, yang kaya semakin arogan dan congkak dengan memperlihatkan kekayaannya di depan kelompok orang miskin dengan pelbagai modus (baca: realitas). Seolah ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi yang kaya. Yang kaya merasa bangga dan senang karena sudah merendahkan yang miskin, menginjak-nginjak harkat dan martabat yang miskin. Yang kaya tidak memiliki rasa kemanusiaan sama sekali. Perasaan empati untuk mencoba membuka diri dan melakukan yang terbaik bagi kelompok orang miskin tidak pernah ada. Yang kaya merasa bahwa kekayaannya merupakan hak miliknya sendiri dan hanya dinikmati sendiri. Pihak lain, termasuk kaum miskin tidak layak dan pantas menikmatinya pula. Ini masih belum berbicara tentang sejumlah kebijakan politik dan ekonomi oleh para elit yang sangat jarang berpihak kepada kaum miskin. Kebijakan pemerintah justru selalu menyudutkan yang miskin sehingga mereka semakin menjadi kelompok yang terpinggirkan.

Tentunya, bila dikaitkan dengan persoalan terorisme, maka kemunculan kaum teroris sesungguhnya ingin meneriakkan bahwa paradigma orang kaya dan pemerintah yang selama ini sangat elitis harus segera dirubah. Adanya gerakan dan pergerakan kaum teroris dengan melakukan aksi agitasi, provokasi dan lain sejenisnya merupakan satu langkah bahwa perhatikanlah kaum miskin yang menderita dan hidup dalam penderitaan. Mereka harus mendapatkan pertolongan. Jangan biarkan mereka terus melarat dalam kenestapaan hidup. Jangan membuat yang miskin terus menerus berada dalam jeruji busuk kehidupan yang semakin lama bukan enak di dalamnya, namun kian menjadi manusia sampah, yang tidak berharga sama sekali baik bagi diri dan lingkungannya. Haruskah nasib sedemikian dipertahankan? Yang jelas, hentikan kehidupan yang anarkis dan destruktif tersebut.

Pemadaman Terorisme

Minusnya peran negara dalam upaya pemberantasan terorisme selama ini perlu menjadi evaluasi kritis ke depan untuk semakin berbenah. Sejumlah insiden terorisme dengan segala anak pinaknya kemudian perlu menjadi lonceng bagi dunia nasional, terutama kelompok pemegang kebijakan di Jakarta agar segera membangun sebuah kesadaran profetis bahwa akar terorisme bukan semata sebuah pemahaman agama yang sempit dan dangkal. Terorisme merupakan sebuah antitesis terhadap mewabahnya kemiskinan dimana jutaan rakyat berkalang lumpur kemelaratan. Mengapa kelompok garis keras menggunakan jargon agama sebagai jalan hidup karena mereka berpandangan bahwa agamalah yang akan mampu mengeluarkan rakyat dari kubangan kemiskinan. Agama memberikan jalan hidup damai bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Agama dipandang sebagai sebuah pedoman hidup. Oleh karenanya, yang kemudian perlu dilakukan ke depan adalah marilah membangun the political will (kehendak politik) agar mengembangkan kepedulian politik bagi kehidupan bersama. Teroris akan terus hidup bila kemiskinan tidak dituntaskan, akan tetapi ia akan mati dengan sendirinya ketika aksi-aksi nyata dalam mewujudkan kehidupan rakyat yang sejahtera selanjutnya digelar dengan sedemikian konkret dan praksis.

Iklan