Bulan: April 2013

Presiden Bukan Seorang Politisi

Banjarmasin Post, Rabu, 3 April 2013 | 01:47 Wita (http://banjarmasin.tribunnews.com/2013/04/03/presiden-bukan-seorang-politisi)

Oleh: Moh Yamin

Peneliti di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat (PD) di Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali menetapkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum Partai Demokrat di penghujung Maret tadi.

Yang menjadi pertanyaan mengapa SBY sebagai presiden republik tercinta ini masih sibuk mengurusi partai? Apakah sudah tidak lagi mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas segala-galanya? Apakah karena sudah tidak akan mencalonkan kembali sebagai presiden di 2014 mendatang sesuai amanat konstitusi ’45 sehingga menjelang akhir jabatannya ia akan lebih fokus kepada partai?

Padahal jauh-jauh hari tatkala sejumlah menterinya yang kebetulan ketua umum partai sibuk mengurusi partainya, SBY kemudian mengkritik tajam dan keras agar jangan mengurusi partai, tapi harus konsentrasi kepada persoalan bangsa dan rakyat. Apabila masih lebih mengedepankan kepentingan partai, lebih baik mundur dari anggota kabinet.

Tentu, pernyataan tersebut menjadi buah simalakama bagi SBY sendiri. Satu sisi, dia adalah kepala negara dan pemerintahan. Sisi lain, SBY adalah ketua umum partai, tapi mengapa tidak mundur dari jabatannya sebagai seorang presiden?

Terlepas apa pun jawabannya, rangkap jabatan yang kini dipegang SBY sudah tidak akan mampu menjadikan dirinya bekerja maksimal dan optimal dalam menjalankan roda pemerintahannya. Konsentrasinya sudah terpecah untuk mengurusi partainya yang kini sedang berada dalam prahara.

Kerja melayani hajat hidup orang banyak pun akan lebih berkurang. Karena SBY lebih mencintai partai dan masa depan partainya, kepentingan pembangunan hajat hidup orang banyak akan lebih banyak ditinggalkan dengan sedemikian rupa. Kondisi ini sangat memilukan dan menyesakkan hati. SBY dipilih rakyat namun ia tidak mau bekerja untuk rakyat menjelang sisa kepemimpinannya. SBY lebih mencintai partainya ketimbang rakyatnya yang sudah mendudukkan dirinya menjadi presiden selama dua periode baik di 2004 maupun 2009. Analoginya adalah habis manis, sepah dibuang.

Kerja dan ruang kerja politisi adalah lebih mementingkan kepentingan pribadi serta golongan. Politisi lebih banyak menguras energi ekstra untuk mengejar kekuasaan dan mempertahankan kekuasaannya sepanjang masa. Politisi cenderung berbicara atas nama rakyat padahal bekerja untuk sebuah jabatan dan kepentingannya an sich.

Di balik segala perilakunya yang konon berbau kepentingan rakyat, nyatanya adalah selalu menjadikan rakyat sebagai ‘tumbal’ kepentingannya. Lebih banyak melakukan tindakan sikut-sikutan dan tikam menikam kemudian ditunaikan dengan sedemikian rupa. Hampir tak ada kerja bersih dilakukan politisi. Semuanya serba sandiwara.

Segala bentuk permainan di depan rakyat yang konon memperjuangkan rakyat hanya sebatas formalitas. Tak ada komitmen dan kehendak sangat kuat nan suci untuk berdiri di depan rakyat dan menegakkan bangunan kehidupan rakyat yang sejahtera. Apa yang dikerjakan politisi kemudian lebih banyak melukai nurani publik. Rakyat selalu dikecewakan.

Wilayah kerja politisi kerap berbungkus idealisme namun sebetulnya adalah pragmatisme. Mencari keuntungan sektoral kemudian menjadi sebuah hal niscaya. Oleh sebab itu, politisi sebetulnya lebih dekat kepada permainan-permainan kotor dan picik yang melanggar mandat publik.

Menjadi menarik ketika pemahaman tentang kerja politisi kotor ini dijalinkelindankan dengan pandangan Machievelli yang mengatakan bahwa seorang penguasa tidak perlu memerhatikan pertimbangan-pertimbangan moral, namun penguasa bisa saja bertindak sangat moralistis dengan menunjukkan kemurahan hati, sikap saleh dan lain sejenisnya ketika itu semua kemudian dapat digunakan untuk memuluskan kepentingannya.

Persoalannya adalah apakah SBY harus bertindak sedemikian untuk semata menyelamatkan partainya dengan mengorbankan kepentingan publik.

Kita semua tidak tahu itu dan hanyalah SBY yang bisa menjawab itu. Terlepas dari hal tersebut, fakta tentang terlalu kuatnya intervensi SBY dalam partainya sudah sangat jelas memperlihatkan bahwa ia bukanlah sosok negarawan sejati, namun masih seorang politisi sejati.

Tentu ketika berbicara tentang negarawan, ini kemudian mengingatkan kepada Plato dalam bukunya Republik yang mengatakan bahwa sosok negarawan adalah seseorang yang sangat dicari dan dirindukan rakyatnya.

Pasalnya, yang berada dalam setiap kehidupan sang negarawan adalah rakyatnya itu sendiri. Setiap nafas yang dikeluarkan dari hidupnya adalah rakyat. Penderitaan dan keluh kesah rakyat menjadi basis gerakan moral dalam bekerja. Rakyat di segala aspek kehidupannya adalah ruh dan jiwa bagi sang negarawan dalam bekerja. Kendatipun beresiko bagi diri dan keluarganya dalam pengambilan kebijakan namun sangat mendukung keberlangsungan hidup rakyat, sang negarawan tetap melanjutkannya.

Bahkan di sisi lain, kendati ia lahir dan besar dalam sebuah komunitas tertentu, sang negarawan sudah tidak lagi bekerja untuk komunitas yang pernah membesarkannya, namun untuk semua komunitas yang dilayaninya, tanpa memandang kelas sosial tertentu.    

Menjadi seorang negarawan sejati selanjutnya selalu menggunakan nalar berpikir bijaksana dan arif dengan tidak merugikan dan menyakiti hati nurani publik yang sudah menunjuknya sebagai seorang pemimpin untuk semua. Menjadi seorang pemimpin yang negarawan kemudian tidak lagi ikut-ikutan memikirkan komunitas yang dulu pernah membesarkannya sebab dalam komunitas yang membesarkannya sudah ada pemimpinnya sendiri.

Biarkan pemimpin dalam komunitas itu yang bekerja untuk komunitas itu sendiri. Pemimpin negarawan kemudian hanyalah mengurusi persoalan yang lebih besar dan berdampak luas bagi kepentingan bersama di atas segala-galanya. Tentu, SBY dalam konteks ini sudah meninggalkan sosok kenegarawanannya yang idealnya harus tetap dipraksiskan baik dari segi sikap, pemikiran, maupun tindakannya.

Pasca SBY ikut-ikutan mengurusi partai, kini rakyat benar-benar kehilangan pemimpin yang konon sudah dianggap mampu bekerja untuk rakyat. Kita semua merasa kecewa atas pilihan politik SBY yang lebih bernafsu untuk penyelamatan partai ketimbang penyelamatan kehidupan rakyat.

Pasalnya, saat rakyat kelaparan dan harga sembako meroket tinggi, SBY terkesan lamban dalam pengambilan kebijakan namun saat partainya sedang sekarat, justru cekatan dan lincah. Oleh karenanya, bangsa ini benar-benar mengalami krisis pemimpin yang memiliki sense of crisis terhadap persoalan hidup rakyat. (*)