Bulan: Februari 2013

Urgensi Pendidikan Karakter Menjawab Perilaku Koruptif Elite

05 Februari 2013 | Bali Post (http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=4&id=7313)

Oleh Moh. Yamin

Penulis, dosen dan peneliti di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq, ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan ditetapkan sebagai tersangka kasus suap impor daging sapi (Bali Post, 31/1). Pucuk pimpinan partai yang konon dikenal sebagai partai bersih, profesional, dan peduli, kemudian ternyata juga terlibat dalam korupsi. Tentu, perilaku dan tindakan demikian ini mencerminkan bahwa para pejabat di negeri ini semakin jauh dari perjuangan untuk rakyat. Apa yang mereka kerjakan tidak menunjukkan pola kepemimpinan yang benar-benar peduli terhadap kepentingan rakyat di atas segala-galanya (baca: realitas).

Menjadi pejabat bukan lagi dimaknai sebagai sebuah kerja pengabdian, namun bagaimana mereka semakin mendapatkan fasilitas super mewah dari negara walaupun uang yang kemudian dikeluarkan merupakan uang rakyat. Kondisi ironis dan miris ini kian mengilustrasikan secara terang benderang bahwa ada yang salah dan sesat dalam berpikir mereka. Apa yang mereka janjikan saat sebelum menjabat agar bisa memperjuangkan kepentingan rakyat ternyata berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan kenyataan sesungguhnya.

Sikap dan tindakannya tidak menunjukkan karakter pemimpin yang bisa mengayomi rakyatnya. Inilah yang selanjutnya dinamakan krisis kepemimpinan dan krisis karakter yang sedang menghantam kehidupan para pejabat di republik tercinta ini. Karakter seorang pemimpin yang kuat dalam berpendirian, mencerminkan sosok yang mampu tegak berdiri sebagai pelindung rakyat dan menampakkan diri sebagai panglima perang guna memberantas kemiskinan, masih jauh panggang dari api. Bagaimana rakyat akan segera merdeka dari pelbagai krisis kehidupan yang sedang menghantamnya, sementara para pejabatnya lebih sibuk mencari keuntungan sektoral dan asyik masyuk dengan kekuasaan serta kepentingan masing-masing. Karakter pemimpin yang bisa memberikan proteksi terhadap kehidupan rakyat sudah benar-benar berada di ujung tanduk. Apakah rakyat akan terus-menerus berada dalam himpitan pelbagai persoalan hidup, para pejabatnya sudah menutup mata dan telinga sedemikian rapat.

Epistemologi Karakter

Persoalan mengenai rendahnya karakter pemimpin yang peduli terhadap kehidupan rakyat kemudian dapat menjadi akar masalah mengapa bangsa ini tidak pernah mengalami kemajuan di pelbagai bidang kehidupan. Menarik apa yang kemudian disampaikan F.W. Foerster seorang pedagog asal Jerman (1869-1966), yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi bahwa pendidikan karakter sesungguhnya terwujud-nyatakan dalam kesatuan substansial dan esensial subjek dengan perilaku dan tindakannya. Apa yang menjadi pedoman dalam hidupnya dan itu dipandang sebagai sesuatu yang benar menurut moral dan etika, selanjutnya dipraksiskan dalam kehidupan, mengutip pendapat Aristoteles dalam bukunya ”Nichomechian Ethic”.

Masih menurut Foerster, ada empat komponen dasar dalam pendidikan karakter yang selanjutnya penting dipersonalisasikan dalam setiap pribadi manusia. Pertama, keteraturan interior dan itu tentu harus bersenyawa dengan setiap tindakan. Setiap tindakan selanjutnya dapat diukur dengan menggunakan hierarki nilai. Kedua, koherensi. Hal ini berhubungan erat dengan ketegasan diri dalam memegang prinsip. Oleh karenanya, koherensi menjadi bagian inheren dalam setiap pribadi manusia agar mereka tetap lurus dan berpegang teguh kepada tanggung jawab diri sebagai manusia, baik itu pribadi maupun sosial.

Ketiga, otonomi. Sikap demikian berorientasi pada bagaimana setiap pribadi manusia menginternalisasikan nilai-nilai aturan tertentu menuju nilai-nilai pribadi dalam setiap kehidupannya. Semangat otonomi tersebut dapat tercermin dalam setiap kebijakan yang diputuskan dan dijalankan merupakan sebuah panggilan nurani paling dalam.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan berkenaan dengan daya tahan diri setiap manusia agar selalu lurus dalam menjalani kehidupannya, sementara kesetiaan berkorelasi kuat dengan loyalitas diri dan penghargaan diri atas sebuah pilihan yang telah diambil.

Apa yang dikumandangkan Foerster tersebut setidaknya menjadi titik tolak berpikir bersama bahwa ternyata para pejabat di negeri ini belum memiliki empat komponen dasar tersebut untuk menjadi pemimpin yang berkarakter. Perjuangan mereka yang sangat tulus, penuh dengan tanggung jawab, bersifat amanah dan seterusnya masih sebatas slogan. Padahal pemimpin yang berkarakterlah yang sangat ditunggu oleh rakyat di republik ini. Kemiskinan dan pelbagai penderitaan yang sedang dialami rakyat akan bisa diselesaikan ketika para pejabatnya mampu memiliki karakter yang kuat.

Kepemimpinan yang berkarakter akan melahirkan kerangka kerja yang juga berkarakter. Kepemimpinan yang berkarakter juga akan melahirkan kebijakan-kebijakan publik yang berkarakter. Kepemimpinan yang berkarakter akan menjadikan republik ini juga berkarakter.

Buah Simalakama

Kita tentu ingat bahwa yang mengampanyekan pendidikan karakter sebagai jalan untuk bisa menjawab persoalan bangsa adalah negara (pemerintah) dan itu selanjutnya mendapatkan dukungan pelbagai pihak, termasuk dari para wakil rakyat. Persoalannya adalah, mengapa negara yang mengampanyekan pendidikan karakter dengan dukungan banyak pihak justru tidak mampu menjadikannya sebagai landasan berpijak dalam memproduksi kebijakan-kebijakan pro-rakyat? Apakah setiap kampanye apa pun hanya diperuntukkan bagi rakyat an sich agar melakukannya, sedangkan yang mengampanyekannya tidak harus dan perlu menunaikannya. Sekali lagi, kondisi demikian akan kian memberikan rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap para pemimpinnya yang kian besar dan masif. Bagaimana rakyat akan semakin percaya saat para pejabatnya berbicara, sedangkan mereka sendiri melanggar dan melakukan kebohongan publik. Jangan banyak berharap agar rakyat bisa menunjukkan sikap hormat kepada para pemimpinnya saat perilaku pemimpinnya sangat rusak. Inilah buah simalakama yang harus diterima para pemimpin dari rakyatnya.