Bulan: Juli 2012

Pendidikan Karakter Saatnya Masuk Kurikulum

Banjarmasin Post, Selasa–10 Juli 2012 (http://banjarmasin.tribunnews.com/2012/07/10/pendidikan-karakter-saatnya-masuk-kurikulum)

Oleh MOH. YAMIN: pengajar di FKIP Unlam

Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dalam sejumlah pertemuan dan perbincangan selalu menyatakan bahwa pendidikan karakter harus segera dijadikan paradigma baru dalam menggelar proses pembelajaran dalam kelas. Ini merupakan sebuah langkah strategis dan signifikan demi melakukan sebuah perubahan sangat fundamental dan revolusioner mengenai arah baru dunia pendidikan ke depan. Anak didik kemudian memeroleh dunia baru bahwa pendidikan bukan semata bertujuan menajamkan otak namun pendidikan merupakan sebuah media dalam menajamkan hati agar semakin menjadi sosok yang peduli bagi sesama. Pandangan hidup yang berbasis pada sikap kejujuran, kemandirian hidup, penguatan mentalitas dan lain seterusnya  menjadi hal utama. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M. Nuh kemudian meneruskan apa yang dinyatakan Presiden dengan juga terus menerus mengumandangkan pentingnya pendidikan karakter dalam setiap kesempatan ketika melakukan kunjungan kerja ke setiap daerah. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pendidikan karakter harus dipentingkan praksisnya? Menurut M. Nuh, kini penyelenggaraan pendidikan sudah mengalami salah arah.

Praksis pendidikan mengalami anomali. Tujuan berpendidikan hanya dimaknai sebagai proses yang mengedepankan kepentingan kognisi sedangkan aspek lain yang membangun kecerdasan hati dan lain sejenisnya kemudian gagal dilaksanakan dengan sedemikian rupa. Ini merupakan sebuah ironisitas. Namun terlepas dari argumen tersebut, itulah yang sedang dan sudah terjadi bahwa pendidikan sudah tergelincir pada jalan yang salah. Bila Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan di negeri ini pernah berkata bahwa penyelenggaraan pendidikan seharusnya mencakup penguatan otak dan hati, membangun kecintaan kepada bangsa dan lain seterusnya, kini harapan tersebut sudah tidak mampu dilaksanakan. Diakui maupun tidak, realitas buruk mengenai aksi anak didik yang suka melakukan pendekatan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan kemudian merupakan salah satu bentuk dari gagalnya pendidikan. Banyak anak didik yang cerdas, sangat hebat di dalam kelas dengan memeroleh angka-angka tinggi di atas kertas, mereka ternyata tidak mampu menjadi manusia yang berpandangan arif dan bijaksana. Banyak anak didik kemudian melakukan jalan pintas (crossing way) dalam setiap kehidupan yang dijalaninya.

Ketika dihadapkan pada sebuah persoalan hidup baik tentang sekolah, keluarga dan antar temannya, ternyata banyak di antara anak didik tidak mampu menampilkan sebuah wajah baru dalam penuntasan persoalan hidupnya. Ini sangat jelas menjadi persoalan pelik. Pendidikan yang mereka kuasai ternyata tidak memberikan fondasi mental yang kokoh. Bila Driyarkara pernah mengatakan, pendidikan dimuarakan demi memanusiakan manusia, ini menjadi tidak mungkin diimplimentasikan dengan sedemikian kongkrit dan praksis. Pendidikan justru menjadi masalah dan batu sandungan, bukan sebuah penentu bagi masa depan yang cerah dan mencerahkan. Prof. Dr. Prayitno juga mengatakan, pendidikan yang ditujukan sebagai media pemuliaan kemanusiaan manusia tidak mampu dipraksiskan dengan sedemikian rupa. Pendidikan demi memuliakan kemanusiaan manusia sudah ibarat panggang jauh dari api (Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, 2009).

Format Pendidikan Karakter

Format pendidikan karakter dalam proses pembelajaran harus dikemas dengan sedemikian rupa agar anak didik mampu melakukan internalisasi nilai-nilai sehingga mereka kemudian mampu mempraksiskannya dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kelas, sekolah maupun di luar sekolah. Tanggung jawab dan tugas guru untuk merancang pendidikan karakter yang aplikatif merupakan sebuah keniscayaan tak terbantahkan. Dalam konteks ini, setidaknya ada hal-hal penting yang kemudian harus dijadikan pedoman para pendidik agar pelaksanaan pendidikan karakter kemudian benar-benar terlaksana dengan sedemikian berhasil. Pertama, sikap pengakuan dan penerimaan terhadap anak didik harus dijalankan. Pasalnya, sikap demikian akan membangun sikap anak didik untuk menjadi dirinya sendiri sebagai seseorang yang merasa diakui keberadaannya dan mendapatkan tempat di luar dirinya.

Kedua, kasih sayang dan kelembutan seorang pengajar kepada anak didiknya juga harus ditumbuhkan agar anak didik merasa diorangkan, memeroleh tempat yang baik di hadapan pendidik. Ketiga, penguatan dalam konteks ini adalah seorang pendidik harus mampu mendorong setiap anak didiknya agar aktif dan pro aktif dalam mengembangkan potensi dan bakat yang dimilikinya. Keempat, tindakan tegas yang mendidik dalam proses pembelajaran perlu dilakukan pendidik sebab inilah yang sesungguhnya harus dilakukan. Pendidik mengarahkan anak didiknya agar tearah sesuai dengan tujuan pendidikan sejatinya. Kelima adalah keteladanan. Seorang pendidik harus memberikan contoh yang baik dalam bergaul dan berinteraksi. Apa yang dilakukan seorang guru akan menjadi cerminan anak didiknya kelak.

Tentunya, menyambut tahun ajaran baru 2012 ini, maka pendidikan karakter harus menjadi materi terpenting dalam kurikulum sekolah. Pendidikan karakter harus mampu diejewantahkan agar peserta didik memiliki kepribadian yang utuh sesuai dengan nilai-nilai yang bersumber dari dalam bangsa sendiri. Generasi bangsa yang bermartabat dan berkepribadian berada di tanggung jawab lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan pun harus bisa melakukan tugas-tugas pemanusiaan manusia agar para peserta didik kemudian mampu mengenal dan memahami apa yang harus dan boleh dikerjakan serta tidak baik dalam kacamata moral, etika dan lain seterusnya.

Karakter Bangsa

Tujuan utama praksis pendidikan karakter adalah membentuk karakter bangsa. Karakter bangsa yang mandiri, terbuka dan lain sejenisnya dapat tercermin baik dalam kelas maupun sekolah dimana anak didik kemudian belajar dan mempelajari nilai-nilai kehidupan. Menjalani hidup dan kehidupan adalah membangun sebuah kepribadian bangsa yang luhur. Anak didik kemudian memiliki jati diri yang jelas, termasuk di dalamnya bagaimana menghargai sebuah bangsa dan bagaimana seharusnya memandang setiap fenomena kehidupan dengan pola pikir yang jernih, tidak menggunakan logika sempit dan kerdil. Bila ini mampu dilakukan dalam kelas dan sekolah sebagai miniatur kehidupan sebelum anak didik terjun ke dunia masyarakat, maka di sinilah sebuah keberhasilan pelaksanaan pendidikan. Kesuksesan praksis pendidikan karakter terlihat dari ukuran bagaimana anak didik bisa melakoni kehidupannya dengan jalan yang lurus, penuh kejujuran dan keterbukaan. Yang selalu dipentingkan dan dikedepankan pelaksanaannya adalah pendidikan adalah media menciptakan cara pandang hidup adiluhung demi kemanusiaan. Oleh karenanya, marilah kita membiasakan diri menyelenggarakan pendidikan karakter dalam konteks apa pun sebagai bentuk keikutsertaan dalam mencetak kepribadian bangsa sesuai dengan akar sejarah berdirinya bangsa ini.