Bulan: Februari 2012

Urgensi Penyelamatan Biduk PD

Jurnal Nasional, Senin-6 Februari 2012 (http://www.jurnas.com/halaman/10/2012-02-06)

Oleh MOH. YAMIN: Dosen di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Kasus M. Nazaruddin terus menerus merongrong posisi Anas Urbaningrum sebagai ketua umum Partai Demokrat (PD). Pasca pengakuan Mindo Rosalina Manulang di persidangan terkait keterlibatan Anas Urbaningrum dalam kasus korupsi Wisma Atlet, kini kedudukan sang ketua umum PD tersebut berada di ujung tanduk. Persoalannya kemudian tidak hanya berhenti kepada Anas an sich, melainkan kepada nasib PD, apakah akan semakin dicintai konstutuennya ataukah tidak. Dalam pelbagai pemberitaan yang disampaikan sejumlah media massa baik televisi maupun koran cetak (baca: realitas), ada sebuah desakan kuat agar Anas segera non aktif dan atau dinonaktifkan dari jabatannya dengan tujuan agar ia bisa berkonsentrasi dalam proses hukum yang menghantamnya dan PD kemudian bisa segera selamat dari kehancuran nama baik di depan rakyat Indonesia. Bahkan, ada salah satu anggota dewan Pembina PD mengatakan bahwa sudah ada empat calon nama yang disiapkan menggantikan Anas sebagai ketua umum PD apabila dia kemudian ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pertanyaannya adalah apakah nasib PD akan terpuruk akibat kasus yang menjerat para kadernya? Inilah sebuah tantangan yang harus segera dijawab oleh para kader PD sendiri. Anas Urbaningrum yang sampai saat ini masih menjabat sebagai ketua Umum PD tentu tidak bisa mengambil pilihan lain, kecuali bagaimana dia semakin dewasa dalam mencermati pelbagai manuver politik yang menghantam PD. Dalam sebuah wawacara di televisi swasta (1/2), Anas sangat yakin dengan begitu percaya diri bahwa dia tidak bersalah dan tidak tersangkut dalam kasus yang selama ini menjadi buah bibir pemberitaan. Dia tetap optimis bahwa apa yang sedang melanda PD merupakan sebuah dinamika politik untuk semakin membesarkan PD ke depan. Semakin kencang badai yang menghantam PD, maka akan semakin solid dan kuat PD dalam berproses dan menjadi partai yang besar. Kini terlepas dari optimisme tinggi yang dibeberkan Anas, PD menurut sejumlah survei mengalami penurunan kepercayaan di tengah publik. Pasalnya, PD dengan slogannya siap memberantas korupsi saat pemilihan legislatif dan presiden 2009 lalu ternyata belum memberikan bukti nyata saat ini.

PD sebagai partainya pemerintah belum bisa memberikan dukungan politik sangat kuat dalam memberantas korupsi. Tanpa harus menafikan tentang masih banyaknya kader PD yang bersih dari kepentingan politik sektoral, sesungguhnya oknum sajalah yang kemudian menghancurkan citra PD di depan publik. Mereka lebih menjadikan PD sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan kolutif dan koruptif. Berpolitik bagi sejumlah oknum tidak diniatkan untuk melakukan pengabdian bagi kepentingan bersama di atas segala-galanya. Politik adalah senjata untuk membunuh hajat hidup orang banyak dengan kemudian melakukan penjarahan milik publik untuk selanjutnya dialirkan kepada kantong-kantong pribadi dan kelompok semata. Partai politik menjadi bancakan oknum yang tidak lebih berpandangan sangat sempit dan kerdil dengan selalu berkacamata kuda. Partai politik hanya menjadi alat melanggengkan kekuasaan, berbagi kepentingan dan mendapatkan sesuatu yang menguntungkan secara sepihak. Publik sebagai subyek yang harus diperjuangkan kemudian dikorbankan dengan sedemikian rupa tanpa merasa berdosa sama sekali.

Oleh karenanya, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah langkah strategis apakah yang akan disiapkan Anas untuk menyelamatkan PD? Kita tunggu saja apa yang akan dilakukan Anas dan urgensi penyelamatan biduk PD kemudian merupakan sebuah harga mati sebab taruhan politik yang harus dibayar adalah setidaknya di 2014. Kesuksesan sebuah partai politik dapat diindikatori ketika pemilihan legislatif dan presiden masih mendapatkan kepercayaan politik dari rakyat. Memang tanpa disadari, kondisi tidak sehat yang dialami PD biasanya akan dimanfaatkan oleh pihak yang ingin menghancurkan PD atau mungkin menjauhkan PD dari konstituennya. Bila Anas dalam wawacaranya selalu menyatakan “bekerja, bekerja dan bekerja”, hal tersebut justru semakin menciptakan kegaduhan politik. Sebab sesuatu hal buruk dalam bentuk opini yang terus menerus dibiarkan menggelinding ibarat bola salju akan memberikan efek destruktif bagi masa depan partai. Opini miring yang terus menerus membanjir bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan membuat PD kian bersinar. Cukup tepat bila tetap bekerja sesuai dengan keputusan kongres di Bandung dan arahan ketua dewan Pembina PD, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), namun hal tersebut belumlah cukup.

Biduk Progresif

PD harus menjadi biduk progresif apabila menghendaki sebuah perubahan yang progresif bagi kepentingan bangsa di atas segala-galanya. Segala persoalan dan konflik politik yang menghantamnya kemudian segera diselesaikan satu per satu tanpa menggunakan politik kekuasaan yang hegemonik, yang selanjutnya berpotensi bisa menghancurkan PD.  PD merupakan aset bangsa yang perlu diselamatkan. Ia merupakan anak kandung reformasi yang kemudian dirawat dengan sedemikian baik. PD perlu segera membersihkan para kader atau sejumlah oknum yang kemudian hanya mencari keuntungan politik sektoral. Kehadiran PD merupakan bentuk kegelisahan terhadap persoalan bangsa selama ini dan ia kemudian perlu ikut menerjunkan diri dalam ranah realitas praktis dan konkret. Persoalannya adalah apakah biduk progresif bernama PD mampu menunjukkan identitas dirinya sebagai partai yang bersih dan steril dari intervensi politik apa pun?

Kerja PD harus berbasiskan kerja kerakyatan. Program-program yang dikerjakan PD harus berbasiskan kepentingan rakyat, mendukung kepada dijalankannya supremasi hukum yang berkeadilan tanpa melakukan pemihakan tertentu atau diskriminatif. Masih ada harapan dari rakyat terhadap PD bila partai ini bisa melakukan perubahan mentalitas dari tertutup menuju terbuka. Amanat yang diemban PD apalagi saat ini menjadi partai pemerintah kemudian harus dibuktikan secara lebih serius dan nyata dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung kehidupan berbangsa di atas segala-galanya. Bila disinyalir ada sejumlah kutu loncat di tubuh PD atau sejumlah kader yang bermasalah, maka jalan salah satunya yang selanjutnya harus dilakukan adalah menunaikan kerja bersih-bersih dalam rumah tangga PD. Kondisi ini sudah merupakan sebuah kedaruratan sehingga jangan sampai dibuat mengambang dan tidak segera mendapatkan penanganan secara cepat dan tangkas. Anas Urbaningrum memang berpenampilan kalem, santai, dan santun, akan tetapi ia harus bersikap dan bekerja tangkas dan tegas sekaligus berani dalam membaca persoalan-persoalan.

Iklan