Bulan: Desember 2011

KPK bersama Abraham Samad

Jurnal Nasional | Senin, 5 Dec 2011 (http://www.jurnas.com/halaman/10/2011-12-05/191334)

Moh Yamin
Dosen di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin

SELEKSI pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan calon ketua KPK periode 2011-2015 di komisi III sudah usai. Dalam seleksi pimpinan KPK, terpilih Abraham Samad dengan 55 suara, Adnan Pandu Praja (51 suara), Zulkarnain (37 suara), dan Bambang Widjojanto (55 suara). Sedangkan dalam seleksi calon ketua KPK, Abraham Samad mendapatkan 43 suara, Busyro Muqoddas 5 suara, Bambang Widjoyanto 4 suara, Zulkarnain (3 suara), dan Adnan Pandu Praja (1 suara).

Komisi III DPR kemudian memutuskan bahwa Ketua KPK selama satu periode ke depan adalah Abraham Samad yang sebelumnya diketuai oleh Busyro Muqoddas (2/12/11). Kini dengan seorang nahkoda baru, KPK diharapkan mampu melakukan kerja-kerja pemberantasan korupsi yang kian progresif, berani, dan tegas. Kerja-kerja itu harus lebih holistik dan komprehensif. Pola pemberantasan korupsi yang digelar pun perlu lebih menyentuh persoalan dan tidak tebang pilih. KPK harus menggunakan pendekatan dengan tanpa mengenal kompromi apa pun terhadap pelaku korupsi.
KPK dengan seorang Abraham Samad harus lebih menunjukkan kerja pemberantasan korupsi yang mampu membabat habis koruptor dan para pendukung korupsi di segala lini: di kalangan pengusaha, birokrasi, dan lain seterusnya. Jika selama ini KPK sudah dipandang sebelah mata oleh publik dan mendapatkan sorotan miris dari masyarakat–sebab KPK selalu mengesankan diri lemah dalam menindak koruptor-koruptor kelas kakap yang dekat dengan ruang-ruang kekuasaan–, maka stigma buruk tersebut kini harus segera dibersihkan.

Bahkan, M Nazaruddin yang sempat menuding salah satu pimpinan KPK terlibat dalam korupsi sehingga menjadikan lembaga pemberantasan korupsi mengalami kehancuran citra baik, harus segera dibenahi. Menarik apa yang disampaikan Abraham Samad saat mengikuti fit and proper test bahwa KPK harus mengurangi banyak bicara dan selanjutnya banyak bekerja. Maka, ini harus dibuktikan oleh Abraham Samad cs.

Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke sangat berharap Abraham Samad mampu membawa kapal KPK menjadi lebih dan kian ganas dalam memberantas korupsi. Sebab, korupsi merupakan kejahatan sangat luar biasa besar dan telah memakan uang rakyat sehingga banyak uang negara hanya dihabiskan demi kepentingan pemenuhan segelintir orang an sich, sementara rakyat di Republik ini harus terus menerus hidup dalam kemiskinan, terjebak dalam kemelaran ekonomi, semakin susahnya pembangunan infrastruktur dan suprastruktur yang bersentuhan dengan kebutuhan rakyat.
Mungkin apabila rakyat di negeri ini harus bicara satu per satu, maka satu-satunya lembaga penegak hukum yang masih bisa diandalkan dan dipercaya kredibilitasnya adalah KPK–lepas masih ada kekurangannya di pelbagai hal. KPK bersama Abraham Samad cs tentu harus bisa memberikan yang terbaik dalam konteks pemberantasan korupsi kepada rakyat. Banyak tugas besar, berat, dan menantang yang harus dikerjakan KPK. Antara lain, masih buramnya penyelesaian kasus Bank Century, kasus Nunun Nurbeity sebagai burunan koruptor dalam kasus pemilihan Deputi Senior BI, kasus Wisma Atlet, dan banyak kasus korupsi besar lainnya. Tentu, tanpa harus melupakan kasus-kasus kecil.

Track Record Abraham
Mengenal track record Abraham Samad yang berasal dari aktivis LSM antikorupsi, pendidikannya yang juga sampai S3 serta latar belakang dirinya yang berasal dari Makassar semakin memberikan kepastian dan keyakinan sangat luar biasa besar bahwa ia akan mampu menjadikan KPK sebagai lembaga yang antipersahabatan dengan para koruptor. Dari karir LSM-nya, ia tentu sudah malang melintang dalam pemberantasan korupsi, dan melakukan pendampingan dalam pengawalan pemberantasan korupsi.

Pengalaman lapangannya yang ditempa di LSM memberikan jaminan bahwa ia sudah memahami seluk beluk pola penuntasan pemberantasan korupsi. Pengalaman lapangan membuka wawasan baru bagaimana seorang Abraham Samad bekerja secara penuh komitmen diri dengan strategi revolusioner dalam meringkus para koruptor. Sedangkan dalam catatan akademis, karena ia juga sudah bergelut dengan teori-teori hukum, pemberantasan korupsi, dan sejenisnya. Ini makin mempertegas bahwa Abraham Samad tidak perlu diragukan secara teoritis. Kepenguasaan keilmuwannya dalam bidang hukum hingga titik puncak setidaknya telah memberikan catatan sangat baik.
Dari sisi latar belakang kedaerahannya, Makassar, siapa pun pasti memiliki persepsi sekaligus pandangan yang sama bahwa orang Makassar mempunyai sikap yang keras, berpendirian sangat teguh, suka melakukan pemberontakan, tidak suka mengambil jalan tengah apabila sudah dipandang tidak benar menurut dirinya. Ketika ini dikaitkan dengan pola kepemimpinan Abraham Samad sebagai nahkoda KPK, maka ia akan membuat KPK setidaknya berpribadi ala kepribadian Makassar.

Sikap kerasnya yang antikompromi akan menjadikan lembaga KPK tidak mengenal rasa kasihan kepada pelaku korupsi. Sikap dan keteguhannya dalam mengambil dan memegang prinsip juga akan menginternalisasi dalam kepemimpinan Abraham Samad terhadap KPK. Sikap memberontak, memprotes, dan tak lunak juga akan mewarnai kebijakan-kebijakan yang diambil Abraham Samad. Meski, kerja KPK adalah kolegial dan kolektif.

Tetap ada pengaruh besar siapa yang akan mengetuai KPK. Saat KPK diketuai Taufiequrahman Ruki, Antasari Azhar dan Busyro Muqoddas, tentu semua memiliki pendekatan berbeda dalam memberantas korupsi, sekaligus bagaimana memperlakukan setiap koruptor saat diperiksa. Kini dengan seorang Abraham Samad, semoga KPK bisa lebih menampakkan wajahnya yang sangat garang dan mematikan kepada para koruptor.

Sekali lagi, KPK janganlah bersifat lemah lembut kepada para koruptor. KPK harus keras, ganas, berani, tegas, dan antikompromi kepada pencuri uang rakyat. KPK harus mengeluarkan jurus-jurus yang memberikan kekagetan-kekagetan psikologis kepada para koruptor sehingga mereka tidak bisa tersenyum, melainan selalu berwajah sangat murung, sedih, nestapa, lesu dan kehilangan semangat hidup di kursi pesakitan. Jangan pernah member maaf sedikit pun kepada para koruptor. Sebab, dosa mereka terhadap rakyat sangat besar. Hukuman yang pantas adalah mereka harus “dimatikan dan dibunuh‘.