Bulan: Desember 2010

Tugas Berat Jaksa Agung

Jurnal Nasional, 03 Desember 2010

Oleh Moh Yamin: Peneliti di Freedom Institute for Social Reform

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengumumkan Jaksa Agung baru definitif, yakni Basrief Arief (25/11), menggantikan Hendarman Supandji yang dipaksa lengser setelah keluar putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Putusan itu mengabulkan permohonan judicial review Undang-Undang Kejaksaan Nomor 16 Tahun 2004 Pasal 22 Ayat 1 terkait legalitas Hendarman Supandji sebagai Jaksa Agung oleh Yusril Ihza Mahendra (22/9). Sesuai Pasal 19 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan menyebutkan Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan Presiden. Terjawab sudah siapakah yang akan memimpin korps Adhyaksa dalam satu periode mendatang.
Harapan publik membuncah pada Basrief Arief. Apakah dia mampu menjadi Jaksa Agung yang benar-benar agung? Jaksa Agung yang agung adalah nakhoda yang bisa menjadi panutan semua bawahan, memberikan sebuah cahaya terang-benderang bagi supremasi hukum. Lalu, menunjukkan kinerja yang mampu membawa citra Kejaksaan Agung (Kejagung) yang diterima semua kalangan.
Bahkan, dia mampu menindak secara tegas kepada para jaksa nakal yang semata mencari keuntungan sepihak. Dengan menjadikan ladang kekuasaan dengan memeras saksi, tersangka, terdakwa dan lain-lain. Realitas, dalam dua tahun terakhir menunjukkan secara telanjang bulat tren volume sejumlah jaksa nakal yang suka memeras kepada tersangka, terdakwa dan lain-lain mengalami peningkatan sangat luar biasa. Di sepanjang 2009, ada 17 jaksa melanggar indisipliner, ada 60 jaksa menyalahgunakan wewenang dan 104 jaksa melakukan perbuatan tercela lain. Sedangkan, tahun ini, ada 41 jaksa melanggar indisipliner, 99 jaksa penyalahgunaan wewenang dan 131 jaksa berbuat tercela lain. Lebih ironis, sanksi yang dijatuhkan kepada jaksa nakal itu lebih dominan pada jenis hukuman sedang baik 2009 maupun 2010.
Imbasnya, efek jera kepada para jaksa mustahil terjadi. Kemungkinan besar preseden-preseden buruk sedemikian ke depan akan terulang kembali. Akibatnya, supremasi hukum sebagai pilar utama melahirkan sebuah kedaulatan hukum demi tercipta hukum berkeadilan bagi semua. Lalu mengalami sebuah kegagalan sangat luar biasa. Banyak jaksa nakal merusak sendi hukum akan makin menambah ruwet persoalan membenahi dunia peradilan di negeri ini. Persoalan lagi, susah mencari sebuah cahaya keadilan, kebenaran dan kepastian hukum yang berpijak di atas kepentingan bersama, bukan segelintir orang. Hukum menjadi permainan pihak-pihak tertentu yang semata memiliki agenda sempit dan kerdil dengan mengorbankan idealisme dan nasionalisme kebangsaan. Potret ini sebuah ironisitas. Hukum tidak lagi menjadi media memunculkan rasa dan ruang terbuka agar bisa mencari yang salah dan benar.

Tantangan Terberat
Permasalahan ke depan, tugas seorang Jaksa Agung baru harus segera melakukan terobosan kebijakan. Agar tingkah pola jaksa nakal yang selama ini meresahkan nurani keadilan publik bisa disudahi. Yang terpenting, konteks pengawasan super ketat terhadap para jaksa adalah memperkuat Komisi Kejaksaan seperti lembaga pengaduan. Sebab, ini berperan penting dalam memelototi setiap jaksa yang akan bertendensi nakal. Penguatan lembaga pengaduan sangat perlu ditunaikan dengan konkret dan praksis. Pertanyaan muncul, apakah Basrief Arief sudah memiliki konsep jelas untuk meningkatkan kualitas Kejagung? Terlepas apa pun jawaban dia, sekali lagi menuntut dan menagih Basrief Arief harus bekerja keras, memeras otak dan pikiran. Sekaligus membutuhkan sebuah visi visioner dalam membawa korps Adhyaksa menjadi lebih berwibawa, bermartabat di depan masyarakat. Dan memiliki taring kuat dalam memberikan sanksi tegas dan berani kepada para jaksa yang terbukti menyalahgunakan wewenang dalam konteks penegakan hukum.
Tanpa menafikan tugas lain Kejagung dalam konteks law enforcement yang bersifat eksternal, seperti mengusut kasus korupsi, mafia pajak dan lain -lain, Basrief Arief harus memiliki keberanian superekstra. Menunjukkan mentalitas yang tidak mudah dan tidak bisa disuap oleh “apa pun” suatu keharusan. Bahkan, mentalitas para bawahan pun harus dibentuk demikian. Jaksa Agung jangan mau kompromi kepada pihak-pihak yang sudah bermasalah secara hukum serta sudah sangat jelas merugikan kepentingan negara. Ke depan akan makin berkeliaran para mafia hukum yang akan menebarkan kerusakan dan kehancuran. Kita dan seluruh rakyat Indonesia menunggu kerja dan kinerja nyata dari Basrief Arief. Apakah dia mampu dan bisa bekerja sepenuh hati dan jiwa, disertai etos kerja tinggi? Integritas Basrief Arief dalam penegakan hukum benar-benar sangat diuji. Apabila, selama ini sempat muncul perdebatan Jaksa Agung, apakah harus dari kelompok karier atau nonkarier dengan segala kelebihan dan kelemahan, Basrief Arief dari kelompok karier harus membuktikan. Bahwa dia tidak akan tebang pilih dalam proses hukum kepada siapa pun dan atau pihak mana pun. Sepanjang melanggar hukum, dia harus diseret ke meja pengadilan dan dijebloskan ke penjara. Apabila yang melanggar hukum itu melakukan tindakan korupsi, harta benda harus disita. Pelaku harus dituntut hukuman setimpal. Bukan malah membuat putusan rekayasa untuk memperpendek masa hukuman. Selamat bekerja Basrief Arief.

Iklan