Bulan: Oktober 2009

Menanti Kabinet Profesional

Suara Karya, 16 Oktober 2009

Oleh Moh. Yamin, Peneliti pada Program Pascasarjana Universitas Islam Malang

Hingga hari ini, siapa-siapa yang akan duduk di kabinet pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum diketahui publik. Padahal, SBY dan kabinetnya akan segera bekerja pascapelantikan 20 Oktober 2009. Namun, terlepas dari itu semua, siapa pun dan pihak mana pun sangat berharap agar SBY bisa menyusun kabinet yang akan bekerja bersama secara profesional dan proporsional. Semua personel kabinet hendaknya ditempatkan sesuai dengan bidang masing-masing. Tekad SBY untuk melahirkan kabinet profesional dalam masa bakti terakhirnya, periode 2009-2014, pun menjadi harapan seluruh rakyat di negeri ini.

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan demi terciptanya kabinet yang profesional. Pertama, menempatkan seorang menteri hendaknya didasarkan pada latar belakang pendidikannya. Jadi, jangan semata karena memiliki kedekatan dan atau kepentingan politik praktis tertentu. SBY hendaknya mampu memilih seseorang untuk mengisi kursi sebuah kementerian bukan semata-mata karena pertimbangan politik atau karena jasa politik. Misalnya, ikut berperan menaikkan SBY menuju kursi istana. Dalam konteks yang lebih tegas dan mendalam, latar belakang pendidikan kemudian akan menentukan seseorang apakah mampu mengemban amanah tersebut ataukah tidak. Latar belakang pendidikan akan memberikan arah yang jelas dan nyata ke manakah bangsa ini akan diarahkan.

Kedua, mencari seorang menteri harus didasarkan pada pengalaman yang selama ini digelutinya. Sebab, pengalaman akan menjadi modal sangat mendasar bagaimana ketika ia menjabat mampu bekerja secara baik dan benar. Pengalaman akan memberikan satu kejelasan kinerja bagaimana orientasi bangsa ini akan dijalankan dengan sedemikian rupa. Dengan demikian, yang berpengalaman akan lebih mudah mengerjakan tugas dan wewenang yang diembannya. Jadi, tidak sekadar memiliki teori, namun juga telah diperkuat oleh pengetahuan lapangan yang telah dijalaninya.

Ketiga, menjatuhkan pilihan politik agar kursi menteri tertentu dipegang oleh orang yang memiliki kejujuran dan baik rekam jejaknya. Bagi menteri, kejujuran merupakan peranti utama. Sebab, dengan kejujuran, seseorang akan bisa bekerja secara tulus dan terbuka demi kepentingan bangsa dan negara. Kejujuran akan menjadi cerminan bagaimana seorang menteri tidak menjadikan jabatan dan kekuasaannya demi kepentingan sektoral tertentu. Kejujuran akan mendorong dia (sebagai menteri) benar-benar berada di jalan yang lurus. Dalam pengertian tidak berpikiran sempit dan kerdil untuk memanfaatkan jabatannya dalam konteks tertentu yang menguntungkan dirinya.

Sedangkan rekam jejak seseorang berkaitan dengan apakah selama ini ia pernah memiliki dosa politik atau tidak. Apakah ia pernah melakukan korupsi uang negara ataukah tidak? Apakah pernah melakukan penipuan tertentu yang kemudian negara mengalami kerugian besar, baik secara material maupun imaterial?

Keempat, memilih orang untuk menjadi menteri pun harus memperhatikan ketegasan dan keberaniannya dalam mengambil sikap politik. Dalam konteks seperti ini, karakter dan kepribadian seorang menteri yang kuat dan tangguh merupakan sebuah keniscayaan. Ia siap melawan siapa pun, baik dari partai politik maupun pihak mana pun yang berusaha menekannya demi kepentingan politik tertentu. Artinya, tidak memiliki ketakutan politik apa pun terhadap segala bentuk ancaman terhadap dirinya. Ketegasan menjadi suatu kekuatan yang sangat luar biasa agar ia mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Kelima, memilih orang untuk menjadi menteri, perlu didasari insting politik yang kuat, apakah ia mampu menjalankan amanah tersebut selama lima tahun ke depan. Harus jelas betul apakah ia mampu secara terus-menerus, dengan komitmen yang kuat, bekerja semaksimal dan seoptimal mungkin demi kepentingan bersama. Diupayakan agar ia tidak terjebak dalam agenda kerdil dan sempit tertentu di tengah perjalanan. Sebab, ini mengandung risiko sangat tinggi. Imbasnya, agenda pemerintahan SBY dalam lima tahun ke depan dikhawatirkan goyah. Jika ini menjadi kenyataan politik, SBY akan kalang kabut.

Keenam, menteri bukan hanya jabatan yang semata harus dijalankan secara profesional, melainkan juga harus diperkuat oleh manajerial yang sangat tangguh. Oleh sebab itu, pertimbangan politik SBY dalam memilih menteri-menterinya harus memperhatikan kematangan dan kedewasaan politik dalam mengelola jabatan.

Pertanyaannya, mampukah SBY mempertimbangkan enam prinsip tersebut dalam menyusun kabinet, sehingga kabinet yang terbentuk benar-benar profesional? Kita semua sangat menghendaki agar kriteria untuk anggota kabinet tersebut bisa ditunaikan sebaik-baiknya. Kendati demikian, penulis yakin dan percaya bahwa SBY bisa mewujudkan hal demikian. Pengalaman politik sebelumnya ketika memimpin negeri ini pada periode 2004-2009 menjadi sebuah pengalaman sangat berharga bagaimana ke depan SBY harus berbuat yang terbaik bagi bangsa dan rakyat tercintanya.

Kita berharap SBY tidak akan mengecewakan rakyatnya yang telah memberikan amanah politik untuk yang kedua kali memimpin negeri ini. Terpilihnya SBY dengan lebih dari 60 persen suara disertai dengan parlemen yang kuat selama lima tahun mendatang, kita yakini dapat menjadi bekal bagi SBY untuk melakukan banyak hal yang lebih baik. Jika slogan politik SBY berbunyi “lanjutkan” dalam kampanye lalu, maka kita tinggal menunggu sejumlah kebijakan SBY yang akan dilakukan sebelumnya dan dipandang sangat baik untuk dilanjutkan selama lima tahun mendatang.

Harapan rakyat, semoga kehidupan mereka bisa makin sejahtera. Kelaparan dan kemiskinan segera terkikis habis. Rakyat juga makin cerdas dengan memperoleh pendidikan yang berkualitas melalui program pendidikan gratis. Hukum juga ditegakkan dengan sedemikian adil. Kehidupan bangsa yang kondusif, konstruktif, dan dinamis kemudian dapat diwujudkan secara nyata dan konkret.

Iklan