Bulan: September 2009

PENGANTAR PENULIS

Kurikulum Manajemen Mutu Pendidikan

Kemajuan suatu bangsa diukur dari seberapa maju pendidikan yang telah dicapai. Konteks tersebut sama halnya dengan mesin pendidikan yang telah digelar di sekolah-sekolah, apakah telah melakukan pencerahan dan pencerdasan terhadap anak-anak didik ataukah tidak. Yang jelas, sepanjang sejarah pendidikan dilakukan, belum sempat ada sebuah kemajuan luar biasa yang dapat disumbangkan sehingga sangat wajar apabila pendidikan negeri ini belum mampu menjadi tulang punggung bagi perubahan pemikiran anak-anak didik. Apa yang salah dalam persoalan tersebut? Maka jawabannya berujung pada ketidakseriusan yang digelar dalam kelas. Lebih tepatnya, aktivitas belajar mengajar yang masih mengandalkan pendekatan tekstual merupakan sebuah persoalan yang sangat mendesak praksis pendidikan sehingga ini bermuara pada kegagalan.

Kegiatan belajar mengajar yang masih sangat kaku dan belum mampu membangun sebuah kondisi belajar kondusif merupakan sebuah masalah yang sangat menghambat sebuah keberhasilan dalam pendidikan. Proses belajar mengajar yang berpusat pada guru telah membawa sebuah kondisi pendidikan yang sangat mandek. Sehingga dengan kondisi demikian, mengharapkan sebuah proses pembelajaran yang sangat mendidik dan mampu membuka nalar berpikir anak-anak didik pun menjadi isapan jempol belaka. Bahkan, masih rendahnya kemampuan pendidik dalam mengelola kelas agar bisa berjalan sangat optimal dan maksimal pun merupakan sebuah persoalan lain yang cukup menambah daftar kemacetan dalam pembelajaran yang dinamis dan dialogis, ditambah lagi oleh kebijakan pemerintah yang masih setengah hati dalam merumuskan sebuah gagasan besar kurikulum yang berparadigma mencerahkan dan membebaskan.

Ketika kondisi tersebut selalu menjadi sebuah realitas dalam dunia pembelajaran, sangat mustahil apabila anak-anak didik mampu menciptakan bangunan berpikir yang lebih berwawasan luas. Alih-alih pembelajaran dalam kelas ditujukan agar mampu mendorong sebuah dinamika pembelajaran yang interaktif antara pendidik dan anak-anak didik, itu pun ibarat menegakkan benang basah sebab segala komponen yang berlangsung dalam kelas sangat tidak memberikan semangat pembelajaran yang dialogis. Persoalan tersebut juga diperparah oleh perencanaan pembelajaran yang disiapkan pendidik bersama pihak-pihak sekolah terkait juga belum mampu digarap secara serius sehingga hal tersebut pun semakin memacetkan dunia pembelajaran yang diharapkan mampu merubah dan mengubah pola pembelajaran yang tekstual menuju kontekstual.

Ini merupakan sebuah keniscayaan tak terbantahkan. Seolah pendidik dan bersama pihak sekolah hanya mengerjakan tugas pendidikan sebagai kegiatan formalitas an sich. Berupaya untuk mengerjakan tugas pendidikan sebagai alat mencerdaskan kehidupan bangsa masih sebatas retorika semata. Lebih ironis lagi, kegiatan pembelajaran dalam kelas juga tidak mengenal kebebasan dan ruang komunikasi pendidik-anak didik yang komunikatif. Seolah, pendidikan yang digelar dalam kelas sangat monoton dan terkesan seperti sebuah latihan militer. Semuanya dipandang dalam konteks serius dan menegangkan. Kondisinya sangat membosankan dan tidak membawa sebuah proses pembelajaran yang sangat menyenangkan. Setidaknya, proses pembelajaran dapat menumbuhkan gairah bagi anak-anak didik untuk melangsungkan pembelajaran yang sangat santai dan mendidik sangat sulit digelar dengan sedemikian kongkrit dan praksis.

Hal sedemikian belum dan tidak bisa dijalankan secara nyata. Sehingga dengan demikian, kebebasan dalam kelas dan komunikasi pendidik-anak didik yang konstruktif dalam mengupayakan pembelajaran yang komunikatif pun menjadi sangat susah untuk diwujudnyatakan sebab semua komponen yang berlangsung dalam pembelajaran masih menghalalkan kekakuan. Sesungguhnya apabila dicari benang merahnya, maka konteks persoalan pembelajaran yang kaku tersebut lahir karena konsep dan praktik kurikulum yang diberlangsungkan belum berbasis pada kebutuhan. Dengan kata lain, pendekatan pembelajaran yang kontekstual dengan mendasarkan diri pada model pembelajaran yang dialogis dan komunikatif belum dirancang dengan sedemikian rupa. Pendekatan pembelajaran yang mampu menghargai anak-anak didik sebagai manusia otonom agar mereka diorangkan dengan sedemikian tinggi belum dilaksanakan dengan sedemikian rupa. Pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada kebutuhan anak-anak didik belum mampu dipraksiskan dengan sedemikian rupa.

Buku ini tentu memberikan jawaban-jawaban alternatif bagaimana sesungguhnya sebuah konsep kurikulum harus dibangun kembali sesuai dengan kebutuhan. Termasuk pula, praktik pembelajaran harus dirancang ulang dan bisa memberikan sebuah paradigma baru dalam proses belajar mengajar yang lebih bermakna. Setidaknya, proses pembelajaran yang kemudian akan diberlangsungkan bisa mencairkan kebekuan dan kekakuan dalam kelas. Dengan kata lain, proses pembelajaran yang lebih menghargai kebutuhan dan keinginan kontekstual dapat dirangkum dalam sebuah format baru mengenai kurikulum transformatif. Secara lebih tegas, adanya sebuah kurikulum transformatif selanjutnya akan bisa menjawab kebutuhan pendidikan masa depan yang lebih berwawasan luas.

Ini kemudian bisa melahirkan sebuah tatanan berpendidikan yang lebih sesuai dengan kepentingan anak-anak didik dan bangsa ini. Akhirnya dengan demikian, maka pembelajaran baru yang disebut pembelajaran transformatif dapat meningkatkan kualitas pendidikan negeri ini. Pembelajaran dengan rumus pembelajaran yang berbasis pada pendekatan kontekstual dapat menggeser paradigma pembelajaran yang kaku dan beku. Ini sesungguhnya tujuan dari penulisan buku ini. Oleh sebab itu, terlepas apakah penulisan buku ini masih mengalami beberapa titik kelemahan dalam pelbagai hal, maka penulis sangat membutuhkan kritik dan masukan konstruktif dari para pembaca. Setidaknya, hal tersebut dapat digunakan sebagai pembenahan dan perbaikan di masa mendatang. Sehingga dengan demikian, penulis akan lebih banyak melakukan pembenahan diri.