Bulan: Mei 2009

Menuju Pendidikan Mencerdaskan

Suara Karya, 4 Mei 2009
Oleh
Moh. Yamin, Ketua Freedom Institute for Social Reform (FISoR) Malang

Belum sembuhnya bangsa ini dari penyakit, persoalan multidimensi patut diperhatikan dan perlu didekati secara arif serta bijaksana. Sebab pendidikan adalah alat penting dan utama guna mampu membaca segala persoalan di bangsa ini. Bangsa kita semakin terpuruk, moralitas bangsa ini dari tahun ke tahun dan dari waktu ke waktu carut marut merupakan akibat dari tidak dewasanya kita. Kita lebih suka untuk saling menuding satu sama lain bila mendapatkan musibah. Ini akibat pendidikan di bangsa ini masih rendah dan berada di bawah garis ke-normal-an.

Pendidikan sebagai pendewasaan diri, pembangun kesadaran diri, dan penguat kematangan berpikir sekaligus bertindak belum terjalankan dengan sedemikian baiknya. Pendidikan guna mencerdaskan, mencerahkan akal dan hati bangsa ini belum terjadi sebagaimana yang diharapkan bersama. Masyarakat di negeri ini mulai kelas sosial paling tinggi sampai terendah kerap menggunakan otot dari pada otak. Aksi lempar buku, adu jotos di gedung dewan adalah potret dan hasil pendidikan yang belum mencapai sempurna dan matang.

Mereka dalam berproses dalam dunia pendidikan belum memahami dan menjiwai betul tentang tujuan filosofis pendidikan. Ini adalah ironi. Padahal, pendidikan adalah pembangun kesadaran diri transedental. Ia menghaluskan kedirian diri, melunakkan pola pikir dan tindakan yang mengarah pada aksi kekerasan. Pendidikan merupakan media konstruktif guna menguatkan nilai ketulusan hati, ketegaran jiwa dan kesabaran dalam berhadapan dengan realitas hidup. Pendidikan mengharapkan bangsa ini mengarah ke arah-arah semacam itu. Sangat mustahil bila pendidikan lalu mencetak manusia-manusia buruk sikap dan tindakan.

Pendidikan menghendaki manusia tidak bersikap destruktif dan menindas pada yang lain. Ini adalah satu kesalahan dan kekeliruan. Bila semacam itu muncul, hasil dari pendidikan kita adalah pemerolehan pendidikan yang tidak baik dan benar. Lingkungan pendidikannya sudah hancur dan ambruk. Secara tegas, ini juga belum lagi membincangkan kondisi bangsa ini secara global. Karena masyarakat di negeri ini mengalami minimnya pendidikan. Mereka lalu menikmati pendidikan setengah-tengah. Alhasil, bangsa ini selalu ditindas oleh bangsa lain. Kita tidak pernah bisa maju dan bersaing dengan mereka secara kompetitif.

Sebaliknya, bangsa ini menjadi budak di banyak hal. Bangsa ini suka menggantungkan diri pada belas kasih bangsa lain. Sebagai bukti; beras, gula, pupuk dan lainnya selalu minta kiriman dari luar negeri ini. Belum lagi, kita suka menyewa orang lain untuk mengelola aset bangsa sendiri. Blok Cepu adalah contohnya. Jelas, ini adalah sebuah ironi tak terbantahkan. Mau mengelak dari tuduhan tersebut, maka kita adalah munafik. Kita telah membohongi diri sendiri. Ironisnya lagi, kemiskinan sosial juga kian mengiringi hidup bangsa Indonesia. Persoalan SARA lalu menyertai dinamika perkembangan Indonesia selama bertahun-tahun. Bangsa ini selalu diterpa sekian luka nestapa tiada henti.

Sangat wajar bila bangsa ini, suka maupun tidak, tersungkur ke lembah keterbelakangan dan kegelapan masa depan. Anak negeri ini semakin banyak yang menjadi pengangguran, pengemis jalanan, perusuh sosial, preman dan lainnya. Karena preseden semacam itu pula, Indonesia dicap sebagai bangsa yang tidak beradab dan berpendidikan. Keberadaban dan keber-pendidik-an di negeri ini luntur seiring dengan hilangnya semangat untuk bisa maju dan memajukan diri sendiri. Ini karena lupa pada dan melupakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan, pilar kemajuan bangsa terletak pada pendidikan. Jika pendidikan dinomorsatukan, sebuah bangsa akan melejit berkembang dan maju. Ia akan meraih segala kemajuan. Sebab pendidikan diakui maupun tidak sudah membuka pikiran manusia supaya tidak sempit pikiran, melainkan berpikiran luas. Pendidikan mencetak paradigma berpikir kritis dan analitis. Pendidikan bisa dan mampu membaca segala persoalan, merumuskan tawaran-tawaran penyelesaian secara kongkrit dan cemerlang. Ia membangun spirit untuk selalu optimis dalam menatap masa depan.
Pendidikan lalu membawa perubahan bangsa di segala bidang sosial. Perekonomian melesat maju. Kesejahteraan sosial terpenuhi sedemikian rupa. Solidaritas sosial terbentuk sangat kuat. Toleransi antar sesama semakin tertanam kokoh. Saling percaya antar sesama terbentuk secara otomatis.

Bangunan bangsa mencapai titik puncak demi tercapainya masyarakat madani (civil society). Penderitaan dan kemelaratan sosial yang kerap menimpa rakyat lalu tinggal dongeng belaka. Sebaliknya, kemajuan di banyak hal bergerak dengan cepat dan tangkas.

Akhirnya, pendidikan mendidik bangsa ini untuk memiliki moralitas yang kuat dan kokoh pun terbukti secara kongkrit praksis. Demi satu tujuan mulia untuk menjaga, dan mempertahankan nama sekaligus citra bangsa, seluruh kelas sosial bersatu padu dengan mengibarkan bendera ‘bersatu kita maju’. Mereka tidak saling menyalahkan dan saling menjatuhkan, melain saling mengisi dan melengkapi kekurangan yang ada. Ini sebagai langkah, upaya utama dan penting guna memperjuangkan bangsa ini agar tidak jatuh pada kehancuran.

Sebab moralitas adalah utama dan terutama. Bila moralitas suatu bangsa baik, maka bangsa tersebut akan maju. Ia akan memperoleh predikat positif di mata dunia, khususnya di mata bangsa sendiri. Oleh karenanya, semoga di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2009 ini, kita kemudian mampu menjadi bangsa yang siap menjadikan pendidikan sebagai alat strategis demi kemajuan bangsa ke depan.