Bulan: April 2009

Memperbaiki Wajah Pendidikan

Koran Jakarta, 21 April 2009

Pendidikan menjadi tumbal dan korban kepentingan para elite pendidikan di tingkat birokrasi kekuasaan yang terus berupaya mencoba-coba sebuah konsep pendidikan tertentu untuk dijalankan.

Judul : Menggugat Pendidikan Indonesia; Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara

Penulis : Moh. Yamin

Penerbit : Ar-Ruzz Media, Yogyakarta

Tahun : I, Januari 2009

Tebal : 300 halaman

Harga : Rp 40.000

Peresensi : Supriyadi:

Peresensi adalah Supriyadi, pustakawan dan pengamat sosial yang aktif pada Kelompok Diskusi GRANAT (GDC), Yogyakarta

Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi manusia yang bisa disetarakan dengan kebutuhan untuk makan, berpakaian, dan tinggal. Dengan pendidikan, manusia menjadi makhluk yang beradab, berbudaya, dan berintelektual rasional.

Moh Yamin, dalam bukunya, Menggugat Pendidikan Indonesia; Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara, menguraikan konsep pendidikan yang baik dan berkualitas sehingga mampu mencetak manusia cerdas. Dengan menggugat pendidikan di Indonesia — kualitas dan mutunya masih kalah jauh dengan pendidikan di negara-negara maju– Moh Yamin mengajak merasionalkan pendidikan kritis yang tidak menindas kaum lemah dan kaum dengan strata ekonomi menengah ke bawah.

Pendidikan adalah pembebasan manusia dari belenggu kebodohan agar menjadi manusia yang seutuhnya. Oleh karena itu, pendidikan bukan milik “orang-orang berduit” saja, atau bukan hanya milik orang-orang elite, tetapi pendidikan harus ditekuni oleh semua manusia. Begitu juga, pendidikan harus lepas dari diskriminasi. Namun di Indonesia, realisasinya sangat sulit mengingat paradigma masyarakat yang belum sampai pada tataran yang demikian.

Dalam perspektif sejarahnya, pendidikan berproses sedemikian rupa. Pada zaman penjajahan, pendidikan diatur dan dikelola kolonialis-imperialis Belanda dan Jepang. Pada saat itu, pendidikan diarahkan untuk mencetak manusia yang akan dibodohi pihak kolonial. Jadi, tujuan pendidikan pada masa itu adalah pembodohan rakyat, bukan merupakan pembebasan manusia.

Pasca penjajahan merupakan kepemerintahan rezim orde lama (Soekarno). Pada masa ini, pendidikan berada di bawah kendali kekuasaan Soekarno yang memberikan ruang bebas terhadap pendidikan. Konsep sosialisme yang mendasari pendidikan pada saat itu memberikan prinsip dasar bahwa pendidikan itu adalah hak semua kelompok masyarakat tanpa memandang kelas sosialnya. Persamaan derajat dalam pendidikan menjadi hal yang dikedepankan.

Grafik pendidikan tersebut menurun secara signifikan seiring kudeta Soeharto dalam pemerintahan. Jika pada Orde Lama pendidikan membuka kebebasan berpikir, pada Orde Baru justru kebebasan berpkir menjadi punah karena otoritas kekuasaan. Pada masa Orde Baru ini, pendidikan direkayasa sedemikian rupa demi sebuah pencitraan tertentu.

Gerbang reformasi terbuka pada 21 Mei 1988. Bangsa Indonesia mencoba memasuki era pembebasan. Perombakan demi perombakan pun dilakukan secara besar-besaran. Tak luput dari hal itu adalah perombakan pada bidang pendidikan.

Buku ini mengajak pembaca untuk melihat realitas pendidikan Indonesia yang dianggap kurang mampu membebaskan manusia. Dengan mengambil pemikiran Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara yang berpendapat bahwa persoalan rendahnya kualitas manusia dikarenakan amburadulnya konsep pendidikan, Moh. Yamin menggugat pendidikan Indonesia.

lebih lanjut di: http://www.koran-jakarta.com/ver02/