Bulan: Maret 2009

Menagih Profesionalisme Guru

Duta Masyarakat, 30 Maret 2009

Oleh Moh. Yamin, Mahasiswa program studi pascasarjana Universitas Islam Malang

Harapan para guru pegawai negeri sipil (PNS) untuk menikmati tingkat kesejahteraan yang lebih baik akan segera direalisasikan oleh pemerintah April 2009 ini, yakni sebesar 15% (Antaranews, 4/03/2009). Hal tersebut sangat jelas merupakan kabar gembira sehingga kehidupan mereka bisa meningkat dan membaik. Apabila selama ini selalu muncul pandangan di tengah publik mengenai kehidupan kesejahteraan guru yang selalu terpuruk dan mengalami kemiskinan ekonomi sehingga mereka kemudian harus mencari pekerjaan sampingan, maka hal tersebut tidak akan terjadi kembali. Harapan terakhir adalah mereka selanjutnya membangun konsentrasi penuh terhadap pendidikan anak-anak didiknya supaya mendapat pelayanan pendidikan yang layak dan baik.

Lebih tepatnya, menjadi seorang pendidik profesional dalam bidang masing-masing akan dikerjakan dengan sedemikian rupa agar mampu memberikan yang terbaik bagi pencerdasan kehidupan bangsa. Ini merupakan sebuah keniscayaan tak terbantahkan.

Secara lebih tegas, mereka kemudian mampu mengemban amanah tersebut dengan sedemikian kuat dan kokoh. Sebab adanya peningkatan kesejahteraan diharapkan menjadi sebuah semangat dan gairah baru dalam mendorong mereka agar bekerja dengan sedemikian gigih dan rajin. Tanggung jawab yang dipegangnya pun akan semakin dijunjung tinggi. Etos kerja tinggi mereka pun akan semakin membara.

Kemauan kokoh untuk bekerja keras supaya anak-anak didik harus dicerdaskan akan bisa dilaksanakan dengan sedemikian hebat. Kehendak tinggi agar betul-betul menjadi pelayan bagi anak-anak didik pun akan digelar dengan sedemikian maksimal dan optimal. Upaya dan usaha agar mampu memberikan pelayanan pendidikan yang benar-benar menciptakan kepuasan kepada anak-anak didik pun akan coba dipraksiskan secara nyata dan jelas. Bahkan, memberikan sebagian besar waktunya bagi pendidikan anak-anak didik pun bisa ditunaikan dengan sedemikian rupa.

Namun yang menjadi persoalan adalah mampukah peningkatan kesejahteraan akan mendorong sebuah semangat baru bagi para pendidik supaya mereka bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan sedemikian praksis dan kongkrit? Mereka bisa menunaikan tugas sebagai pendidik dengan tetap menjaga komitmen diri dalam upaya mencerdaskan anak-anak didik. Terlepas jawabannya adalah “ya” atau “tidak”, harapan tersebut masih menyimpan banyak keraguan di tengah masyarakat.

Yang jelas, realitas sosial menyebutkan bahwa masih banyak guru PNS di sejumlah daerah mulai dari Sabang sampai Merauke belum dan tidak mampu mengerjakan tugas sebagai pendidik secara serius. Mereka datang ke sekolah, masuk ruangan kelas, menghadapi para anak didik dan memberikan materi pelajaran dengan sedemikian apa adanya, tanpa diupayakan sebuah persiapan rencana pembelajaran sangat matang. Ini ditambah oleh rendahnya pengetahuan para guru sehingga kondisi tersebut semakin memperuwet proses pembelajaran yang ada dalam ruangan kelas (baca: realitas). Ini sangat ironis. Akhirnya, hal tersebut akan memberikan sebuah pelayanan pendidikan yang mencerdaskan dan membuka wawasan baru bagi anak-anak didik, ini pun masih ibarat menegakkan benang basah.

Alih-alih para guru berposisi sebagai para pencerdas anak-anak bangsa, mereka justru melakukan pembodohan terhadap anak-anak bangsa. Para pendidik kemudian menjadi gagal dalam berbuat yang terbaik bagi masa depan pendidikan anak-anak didik. Sebab mereka tidak sepenuh hati berbuat untuk kepentingan nasib pendidikan anak-anak didik yang tercerahkan dan tercerdaskan. Para guru belum dan tidak mampu menjalankan amanah sebagai pendidik dengan sedemikian serius. Oleh karenanya, apakah akan ada hubungan sangat signifikan antara kenaikan kesejahteraan para guru PNS dengan tingkat keseriusan dalam mendidik anak-anak didik nantinya, hal tersebut pun belum mampu terjawab dengan sedemikian serius dan nyata.

Ini masih ibarat panggang jauh dari api. Sehingga dengan demikian, menjadi sangat sia-sia menaikkan kesejahteraan para guru sebab tidak memberikan dampak apapun bagi pembangunan kemajuan kualitas pendidikan anak-anak didik. Apabila hasil prestasi pendidikan anak-anak didik mengalami kemunduran atau tetap tidak bertambah dari waktu ke waktu, maka menyalahkan mereka pun merupakan sebuah kesalahan luar biasa. Justru, yang harus dipersalahkan dalam konteks tersebut adalah para guru yang tidak becus menjadi para pendidik. Mereka belum memiliki kesadaran tanggung jawab untuk menyelamatkan pendidikan anak didik dari lubang kebodohan. Mereka setengah hati dalam menjalankan tanggung jawab diri sebagai para pendidik. Nurani mereka tidak terpanggil untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Pandangan mereka sangat sempit, yakni hanya bertujuan untuk mendapatkan peningkatan kesejahteraan yang tinggi akan tetapi tidak diberangi sebuah perubahan tanggung jawab. Mindset mereka masih sempit, sesempit tujuannya tersebut.

Reformasi Mentalitas Diri

Diakui maupun tidak, menyelamatkan kehidupan pendidikan anak-anak bangsa merupakan tanggung jawab bersama. Guru yang telah didaulat untuk mendidik anak-anak bangsa pun dengan status PNS harus bisa mengerjakan tugas tersebut dengan sedemikian serius dan nyata. Jangan sampai bekerja secara amburadul. Memperteguh prinsip diri untuk berjuang demi kepentingan jangka panjang, yakni demi kepentingan bangsa ketimbang demi kepentingan pendek, yakni demi kepentingan pribadi harus diperkuat implimentasinya.

Apabila kesejahteraan para guru akan dinaikkan, maka mereka pun harus bisa menaikkan semangatnya untuk mendidik anak-anak didik secara kongkrit dan praksis. Dengan kata lain, kewajiban guru sebagai pendidik harus dilakukan terlebih dahulu. Haknya untuk mendapatkan kesejahteraan yang baik pun akan mengikuti. Ini adalah sebuah keniscayaan.

Oleh karenanya, menjadi para guru yang betul-betul memegang teguh prinsip bekerja secara profesional harus bisa dikerjakan secara riil. Menjadi para pendidik yang tidak mengorupsi waktu dan hal-hal lain juga harus digelar. Menjadi para pelayan bagi anak-anak didik pun harus bisa diupayakan implimentasinya dengan penuh tanggung jawab sebab ini berbicara masa depan bangsa ke depan, kemana perjalanan bangsa ini akan digerakkan.