Bulan: September 2008

Ramadhan, Obat Penyembuhan Mental Koruptif

Duta Masyarakat, 9 September 2008

Oleh Moh. Yamin, Peneliti pada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

(Lakpesdam) NU Kota Malang

Mental koruptif selalu menjadi kebiasaan para elit di negeri ini. Menghabiskan uang rakyat demi memperkaya sendiri dan golongannya seolah sudah menjadi rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan dengan sedemikian rupa. Banyak pejabat kita mulai dari tingkat legislatif, eksekutif dan yudikatif sudah melakukan tindakan-tindakan koruptif yang merugikan bangsa dan negara (baca realitas). Sehingga ini kemudian menjadikan bangsa ini ambruk, tidak berdaya apapun, kecuali tersungkur di tengah banalitas politik para elit negeri yang tidak berkemanusiaan dan berkeperimanusiaan.

Ini sungguh ironis. Awalnya sebelum memerintah, mereka akan menjadi pelayan rakyat dan akan memperjuangkan kepentingan rakyat di atas kepentingan sektoral tertentu, janji politik tersebut gagal dilaksanakan secara kongkrit dan praksis. Akhirnya, rakyat menjadi korban dan tumbal politik segelintir orang. Mereka kemudian hidup di atas penderitaan rakyat dan bangsa ini. Oleh karenanya, secara tegas perilaku busuk sedemikian ini menunjukkan bahwa para elit di negeri ini sudah gagal menjalankan amanat politik rakyat untuk mau berjuang demi kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. Nurani kemanusiaan mereka sudah gelap gulita.

Tidak bisa berbuat yang terbaik bagi bangsa dan rakyat yang telah memberikan kepercayaan pada mereka sepenuhnya. Diakui maupun tidak, kejujuran politik mereka untuk bekerja dan berbakti sepenuh hati bagi masa depan bangsa dan rakyat Indonesia ibarat menegakkan benang basah. Komitmen politik mereka untuk mau mengerjakan tugas-tugas kerakyatan ternyata hanyalah isapan jempol belaka. Mereka manis di bibir namun sangat pahit dalam praksisnya. Telah melukai hati nurani bangsa dan rakyat Indonesia tercinta. Sudah mengecewakan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Komitmen mereka untuk bekerja keras menjadi pudar ketika sudah mengenal akrab ”duit” yang bernilai ratusan juta, miliaran atau triliunan rupiah. Komitmen mereka hanya mampu disuarakan dalam perkataan saja namun tidak mampu dipraksiskan dalam bentuk sikap maupun tindakan mereka ketika membicarakan persoalan-persoalan bangsa dan rakyat Indonesia. Lebih ironis lagi, keseriusan mereka untuk mau mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk memikirkan nasib bangsa dan rakyat ibarat buih di tengah ombak lautan lepas. Terombang ambing sesuai dengan irama kepentingan yang lebih dominan, yang lebih disebabkan oleh kepentingan sektarian tertentu.

Bahkan, etos kerja mereka menjadi sunyi senyap ketika kepentingan tertentu menyusup pada diri mereka. Sehingga slogan ”fox populi fox dei” (suara rakyat, suara Tuhan) hanya menjadi pemanis bibir semata. Kehendak dan kemauan politik mereka pun juga begitu. Tidak bisa dan mampu dihidupkan dengan sedemikian membara dalam segala bentuk. Pertanyaannya kemudian adalah sampai kapan genderang musik menyakitkan rakyat dan bangsa ini selalu ditabuh oleh para pejabat berdasi di negeri ini? Sudah waktunya membangkitkan kesadaran politik terbuka yang konstruktif. Bangkit menyongsong bangsa yang baik, mencerahkan, tercerahkan dan lain seterusnya adalah sebuah keniscayaan tak terbantahkan.

Puasa, Upaya Reformasi Mentalitas

Sejak 1 September 2008, seluruh umat Muslim sudah melangsungkan ibadah puasa di bulan ramadhan yang penuh baroqah, magfiroh dan ampunan ini. Tujuan secara normatif adalah sebuah perintah dari Allah SWT. Namun ada tujuan yang lebih substantif yang harus mendapat ruang perhatian lebih utama, yakni membersihkan jiwa dari perilaku-perilaku yang kotor, nista, destruktif, bermental buruk dan lain seterusnya. Bagi para pejabat di negeri ini mulai dari kalangan legislatif, eksekutif dan yudikatif, mereka sudah sejatinya perlu melakukan refleksi diri dan koreksi diri terhadap segala tugas yang telah dijalankannya, apakah lebih melahirkan kesengsaraan ataukah kesejahteraan hidup terhadap masyarakatnya.

Yang jelas, timbulnya kesengsaraan hidup yang dialami rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke diakui maupun tidak merupakan akibat dari segala bentuk kebijakan yang dilahirkan oleh para elit di negeri ini (baca realitas). Sehingga dengan demikian, mereka perlu lebih berbenah diri bagaimana mengupayakan sebuah kebijakan yang lebih merakyat, mengangkat hidup rakyat serta meningkatkan kehidupan rakyat di segala bidang kehidupan ke depannya. Mau merasakan rasa pedih kehidupan yang dialami rakyatnya pun adalah sebuah keniscayaan. Ini sebagai satu upaya untuk ikut menjadi bagian dari kehidupan mereka. Bukan semakin menjauh dari hidup rakyatnya.

Sebab adanya para pejabat yang kemudian bisa menikmati fasilitas negara disebabkan oleh rakyat yang memberikan mandat kepada mereka untuk memimpin negeri secara benar dengan jalan yang benar pula, bukan menyelewengkannya untuk kepentingan pihak tertentu. Oleh karenanya, mereka pun harus memberikan respons baik terhadap rakyat melalui peningkatan kehidupan rakyat yang sejahtera, termasuk menjalankan amanat rakyat secara amanah. Secara tegas, puasa harus dijadikan media untuk membangkitkan kesadaran kerakyatan sehingga mereka kembali kepada jalan yang benar, mengabdi untuk rakyat. Puasa harus membangun sebuah konstruk berpolitik yang berbicara mengenai persoalan-persoalan bangsa dan rakyat. Nurani kemanusiaannya harus dihidupkan. Nalar sosialnya pun juga harus dipertajam. Puasa harus ditujukan untuk menata hati dan jiwa agar menjadi pejabat-pejabat yang pro-kepentingan rakyat. Wallahu A’lam Bisshowab…..

Ramadhan, Pendidikan Nalar Sosial

Surabaya Post, 8 September 2008

Oleh Moh. Yamin, Dosen FKIP Universitas Islam Malang

Sejak senin tanggal 1 September 2008, umat Muslim merayakan puasa ramadhan sebulan penuh. Ini merupakan kewajiban setiap umat Muslim untuk mengerjakannya sebagai hamba Allah SWT yang tunduk kepada segala perintah-Nya. Namun supaya puasa tidak hanya sebuah rutinitas tahunan yang tidak memberikan efek pembentukan nalar sosial, menjadi sangat penting apabila puasa di bulan ramadhan ini harus lebih dipahami sebagai media pembangunan kepekaan sosial di tengah kehidupan manusia yang lebih luas.

Puasa tidak berhenti pada pemenuhan kepentingan diri sendiri namun kepentingan seluruh umat manusia. Puasa merupakan jalan mendirikan kehidupan sosial yang sejahtera. Puasa harus diwujudkan dalam bentuk perjuangan menuntaskan persoalan-persoalan sosial. Puasa ditujukan guna memperjuangkan hak kehidupan mustadafin dan dhu’afa yang selalu terabaikan. Pertanyaannya adalah bagaimana menjadikan puasa di bulan ramadhan ini sebagai pendidikan yang melahirkan nalar sosial?

Secara tegas, puasa jangan ditafsiri sebagai aksi menahan lapar dan haus seharian penuh an sich akan tetapi perlu diupayakan sebagai alat merasakan bagaimana pedih dan sengsaranya ketika hidup dalam kelaparan. Adanya sejumlah orang miskin yang hidup kelaparan adalah sebuah keniscayaan untuk dijadikan bahan refleksi, ternyata menjadi orang miskin itu penuh dengan segala resiko hidup. Hidup miskin dengan sangat susahnya mencari sesuap nasi dan lain seterusnya sungguh sebuah perjalanan hidup yang pahit dan menggetirkan.

Kemiskinan telah menyengsarakan hidup dan kehidupan mereka. Rasa lapar karena tidak memiliki nasi untuk dimakan sebagai penyambung hidup merupakan bencana yang menyebabkan orang-orang miskin nestapa dalam kehidupannya. Sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya bisa menahan rasa lapar dan haus dahaganya. Mereka merana di tengah kelaparan yang semakin menjerat kehidupannya. Mereka sengsara karena tidak ada yang bisa dilakukan untuk keberlangsungan hidupnya di masa mendatang. Selalu menjadi orang-orang yang berkubang dalam dunia kesusahan dan kelaparan.

Bahkan, adanya anak-anak miskin yang hidup di jalanan pun wajib dijadikan bahan renungan bersama. Mereka menjadi masyarakat yang terbuang dan tidak memiliki masa depan yang jelas. Lebih ironis lagi, mereka terkadang harus makan nasi basi yang seharusnya tidak layak dikonsumsi sebab mengandung penyakit. Namun karena terpaksa dan dipaksa oleh keadaan, mereka harus memakannya. Mereka sudah tidak peduli dan tidak berpikir, apakah nasi basi yang dimakannya itu mengandung penyakit atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah bisa menutup rasa perih perutnya.

Ini belum lagi berbicara sejumlah besar pengemis jalanan karena faktor tidak memiliki pekerjaan. Hidup mereka pun sama, selalu mencari nasi yang sudah dibuang di tempat-tempat sampah atau nasi sisa. Ini sangat jelas merupakan potret kondisi masyarakat yang sangat terpuruk dan sangat membutuhkan pertolongan sosial dari masyarakat yang lebih mampu dan berkemampuan secara ekonomi.

Supaya hidup mereka kemudian bisa dibantu, digeser dari miskin menjadi tidak miskin dan lain seterusnya. Mereka pun bisa menjadi orang-orang yang tidak kelaparan sehingga dapat hidup sewajarnya. Tentunya, bagi sekelompok orang kaya, yang berduit, yang memiliki kekuasaan dan lain seterusnya, maka potret hidup orang-orang miskin akan bisa dirasakan dan dialami sendiri di puasa ramadahan ini ketika menjalani puasa. Sehingga mereka pun ikut menjadi bagian dari masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Dengan melakukan puasa, ini akan membangun kesadaran sosial sangat tinggi bahwa hidup dalam lubang kelaparan sangat meyedihkan dan susah. Tidak bisa hidup normal dan baik. Pertanyaan selanjutnya adalah adakah hal-hal yang dapat dikerjakan supaya ketebalan nalar sosial kelompok berduit dan lain sejenisnya itu kian kuat menancap dalam mindset mereka? Yang jelas, hanya merasakan rasa lapar dan haus sebagaimana masyarakat miskin alami sangat tidak cukup.

Ada beberapa hal penting yang wajib dipraksiskan supaya nalar sosial mereka betul-betul terbangun dengan sedemikian kokoh dan kuat. Pertama, sudah waktunya bagi setiap kelompok yang berduit dan lain sejenisnya itu lebih memiliki pandangan terbuka dan meluas. Mereka itu merupakan mahluk sosial yang harus berbagi kehidupan dengan orang-orang lain dalam segala kelas sosial, khususnya yang berkelas sosial menengah ke bawah. Ini sangat niscaya untuk dilakoni sebab puasa di bulan ramadhan ini akan memampukan mereka untuk bisa merubah pandangan hidup sempit atau cenderung individualis menuju terbuka atau sosialis.

Perubahan berpandangan hidup akan tercipta dengan sendirinya tatkala sudah melakukan interaksi dan dialog sosial dengan kelompok di sekelilingnya. Secara tegas, pandangan hidup untuk ikut bertanggung jawab pun akan bisa terbentuk dengan sendirinya. Kedua, selalu berpikiran baik dan secara terus menerus menumbuhkan sikap berpikiran sedemikian dalam puasa ramadhan ini pun akan semakin menambahkan kesadaran sosial yang sangat tinggi.

Sebab berpikiran baik menjadi modal utama untuk berbuat hal-hal baik pula di tengah kehidupan sosial. Ini sangat pasti terjadi. Ketiga, melepaskan pikiran-pikiran buruk selama puasa pun wajib dipraksiskan sebab ini sangat menjadi potensi buruk hilangnya pandangan hidup bersosial. Keempat, banyak melakukan kegiatan sosial di bulan puasa ini juga harus diintensifkan sebagai upaya mengembangkan hidup bermasyarakat di negeri ini.

Jangan menjadi manusia-manusia yang selalu menjauhkan diri dari lingkungan sosial namun harus semakin dekat dan akrab dengan lingkungan sosial. Jangan bersikap sombong di tengah pergaulan sosialnya sebab ini akan menumbuhkan kecongkakan sosial sehingga akan merusak kohesitas sosial. Jangan merasa menjadi orang hebat sedangkan lainnya rendah dan lain seterusnya sebab ini akan menciderai tujuan suci bulan ramadhan sebagai perekat ukhuwah islamiyah.

Keempat, menajamkan nurani sosial pun harus diniscayakan volume intensitas praksisnya. Banyak membaca ayat-ayat Allah SWT baik yang bersifat kauniyah maupun kauliyah pun perlu dilakukan dengan sedemikian aktif. Sebab ini merupakan media untuk semakin peduli terhadap persoalan-persoalan realitas sosial yang ada.

Berpikir Progresif

Diakui maupun tidak, tatkala hal-hal demikian mampu dilakoni dengan sedemikian serius oleh setiap umat Muslim, maka ini akan melahirkan pemikiran progresif. Mereka akan memiliki pandangan-pandangan yang cukup luar biasa mengamati permasalahan-permasalahan sosial yang ada. Sehingga ketika ada sekelompok orang miskin yang sedang ditimpa masalah, mereka pun akan segera tangkas dan cekatan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Tak hanya itu saja, berpikir progresif akan menjadikan umat Muslim berpikir cerdas dan tercerahkan.

Selalu ada gagasan-gagasan cemerlang bagaimana menuntaskan kemiskinan sosial yang ada. Selalu memiliki semangat tinggi untuk memedulikan saudara-saudaranya yang hidup dalam kepedihan hidup. Selalu terpanggil untuk melepaskan mereka dari jeratan masalah yang menimpanya. Seolah ini sudah menjadi beban sosial mereka pula sebagai bagian dari hidup bermasyarakat. Hal tersebut adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa dinafikan maupun diabaikan dengan sedemikian remeh.

Solusi Partisipatif

Diakui maupun tidak pula, ini pun akan melahirkan tindakan-tindakan partisipatif. Apabila awalnya hanya ditujukan memberikan bantuan sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) selama bulan ramadhan berlangsung supaya yang miskin bisa hidup secara normal atau menjalani ibadah puasa secara khusuk, maka ini pun akan lebih berefek secara lebih jauh. Yang kaya akan memberikan lapangan pekerjaan kepada yang miskin supaya bisa hidup secara wajar dalam jangka panjang.

Termasuk pula, memberikan pelatihan pendidikan tertentu yang dapat dijadikan lahan membuka lapangan pekerjaan sendiri, seperti pelatihan menjahit dan lain seterusnya. Bisa pula, memberikan modal usaha kepada masyarakat miskin supaya membuka usaha sendiri dan mandiri demi keberlangsungan hidupnya di masa mendatang. Wallahu A’lam Bisshowab…..

Puasa Reformatif

Suara Karya, 5 September 2008

Oleh Moh. Yamin, Peneliti pada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

(Lakpesdam) NU Kota Malang

Gemuruh bulan suci ramadhan menyelinap ke seluruh lini kehidupan bangsa, termasuk para elit di negeri ini. Bulan ramadhan ini datang untuk memberikan banyak konstruksi kebaikan bagi bangsa Indonesia. Bulan suci ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, magfirah, dan baroqah. Sesama umat Muslim dengan kelas sosial berlainan di bangsa ini kemudian bisa saling membangun tali persaudaraan, dan kekerabatan. Ukhuwah Islamiyah dapat semakin dipererat. Sehingga tidak terjadi blok-blok yang dapat menimbulkan ketimpangan maupun disparitas sosial.

Justru tercipta jalinan kebersamaan bahwa bangsa ini terbangun sangat kokoh disebabkan oleh pelbagai kelompok masyarakat yang begitu varian. Ini diharapkan dapat membawa sebuah pembentukan kedewasaan berpikir, bersikap, dan bertindak. Karena bulan suci ramadhan pula, banyak hal dapat dijumpai. Ambil contoh, elit-elit politik di negeri ini kemudian banyak melakukan kegiatan kemanusiaan yang beraromakan nilai-nilai religiositas. Mereka menyantuni fakir miskin, dan mengadakan buka bersama dengan yatim piatu dan masyarakat sekitar. Elit-elit negeri ini merasa memiliki nurani kebangsaan untuk mengangkat harkat, dan martabat rakyat yang sedang terpuruk. Mereka seakan berdosa secara sosial, dan agama ketika rakyatnya terabaikan.

Yang jelas, hal sedemikian pun menjadi titik awal (starting point) bagi mereka supaya kian serius menjadi pelayan puluhan juta rakyat di pertiwi ini. Namun dalam pandangan saya, hadirnya bulan suci ini kemudian jangan sampai berhenti pada keterpanggilan untuk bisa terjun bersama rakyat. Elit-elit politik di negeri ini harus bisa semakin melebarkan mata pandangan nurani kemanusiaan, dan kebangsaannya.

Melakukan kajian-kajian politik kerakyatan di senayan yang dituangkan dalam produk-produk hukum “bagaimana harus mengeluarkan rakyat dari himpitan bongkahan batu penderitaan, dan kemiskinan” adalah sebuah keniscayaan yang wajib diselenggarakan secara tegas. Elit-elit di negeri ini harus mampu menggelar satu terobosan gagasan pemikiran berbasis praktis, dan pragmatis yang populis.

Jangan hanya selesai dengan buka bersama, dan menyantuni semata. Sebab itu tidak menyelesaikan sebuah persoalan sesungguhnya secara riil. Tebar pesona politik seperti santunan, dan lain seterusnya tidak akan menyembuhkan luka kehidupan rakyat di ibu pertiwi ini. Sudah seharusnya dirubah paradigma berpikir politik kerdil, dan sempit itu. Sebab rakyat tidak membutuhkan, dan sangat bosan dengan itu semua.

Rakyat sedang menginginkan hal-hal kongkrit yang dapat dirasakan manfaatnya secara kasat mata. Ini tentunya harus dipahami secara komprehensif oleh elit-elit di negeri ini. Rakyat sudah lama bergelimang dengan lumpur kesusahan. Bulan suci ramadhan ini harus bisa dijadikan alat penggedor nurani elit-elit politik. Ini suka maupun tidak harus dijalankan apabila mereka ingin membebaskan rakyat dari sejuta kepedihan hidup.

Bahkan pula, menjadikan ramadhan sebagai penggedor nurani elit-elit politik pun bukan hanya dimaknai sebagai proses membelalakkan mata terhadap realitas yang ada. Namun harus lebih dari itu, mereka harus mendesak pemerintah untuk melahirkan kebijakan-kebijakan politik yang berdampak langsung terhadap rakyat. Oleh karenanya, ada beberapa hal yang harus segera digarap elit-elit negeri supaya ramadhan betul-betul menjadi satu pintu utama dan paling utama guna memupuk kepekaaan terhadap realitas bangsa. Pertama; menghilangkan niatan politik yang selalu sektarian di benak pikir mereka. Ini adalah satu keharusan yang harus dilalui.

Mau berpikir arif, dan bijaksana dalam mencermati kehidupan bermasyarakat di tengah anjloknya kesejahteraan bangsa adalah satu keniscayaan. Paradigma berpikir seperti itu sangat penting untuk diimplimentasikan. Berkehendak teguh untuk menyelami realitas secara mendalam sangat diharapkan praksisnya guna bisa mengerti kondisi bangsa, dan rakyat yang sedang terjadi.

Kedua; menyambut kehadiran bulan suci ramadhan dengan merefleksikan banyak hal tentang kejadian yang menimpa bangsa akan kian mampu memberikan sebuah makna tersendiri bagi elit-elit negeri. Sehingga akan kian terbuka untuk memahami bulan suci ramadhan sebagai bengkel berbenah diri bahwa selama ini elit-elit negeri “sangat lamban” dalam merespons persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa tercinta ini.

Refleksi banyak hal seputar kehidupan berbangsa menjadi satu pembuka yang dapat menghidupkan semangat elit-elit negeri untuk mau berjuang demi perubahan bangsa ke depannya. Ketika ini dapat dilakukan dengan sedemikian rupa, sangat niscaya pula elit-elit negeri mampu menunjukkan sosok-sosok pamong praja sesungguhnya.

Ketiga; menafsirkan ramadhan sebagai alat bergerak, berpikir, bersikap dan bertindak menjadi fase inti demi terciptanya perubahan bangsa. Sehingga ramadhan kemudian dapat menciptakan satu dinamika kehidupan berbangsa. Keempat; menjadikan bulan suci ramadhan sebagai wadah pengayaan kepekaan nurani sosial sembari tetap mengaji serta mengkaji fenomena kehidupan berbangsa pun wajib dilakoni secara serius, dan seimbang. Ini penting dirayakan supaya terjadi kesinambungan dalam pelbagai banyak bidang.

Wadah pengayaan nurani sosial bertujuan demi terbentuknya nilai-nilai kerakyatan. Sedangkan pengajian, dan pengkajian fenomena kehidupan bangsa merupakan bentuk pengumpulan bahan pekerjaan yang akan dilakukan oleh elit-elit negeri ini. Yang jelas, saat hal-hal sedemikian dapat dijalankan secara terpadu dan tepat, ini kemudian akan menimbulkan banyak efek konstruktif bagi bangsa ini.

Ini sangat niscaya. Sehingga kehadiran ramadhan pun dalam konteks menjawab persoalan bangsa dapat bisa diharapkan peran praksisnya secara kongkrit. Ramadhan hadir sebagai obat mujarab guna menuntaskan persoalan-persoalan bangsa. Namun pertanyaannya adalah mampukah elit-elit negeri di ibu pertiwi ini bisa melakukan itu? Kita tunggu saja jawabannya di lapangan, apakah mereka mau merubah sikap politik kerdilnya selama ini sebagai penyambung lidah politik golongan maupun personal an sich. Lalu menjadi sosok pengemban amanat rakyat sejatinya.