Bulan: Juli 2008

Kontroversi Generasi Pemimpin Muda 2009

Suara Pembaruan, 24 Juli 2008

Oleh Moh. Yamin, Ketua Freedom Institute for Social Reform (FISoR) &

Peneliti pada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Malang

Pemilihan umum Presiden (Pilpres) April 2009 di Republik ini sudah dekat. Banyak kelompok masyarakat, baik pengamat, akademisi, peneliti dan beberapa elemen masyarakat lain membincangkan figur kepemimpinan 2009. Secara umum lebih banyak muncul pendapat bahwa generasi muda sudah waktunya memimpin sebab sejarah kepemimpinan para golongan tua tidak pernah melakukan perubahan bagi kehidupan berbangsa di Pertiwi ini.

Kalangan tua tidak mampu membawa kehidupan bangsa Indonesia ke jalan yang lebih baik dalam segala bidang kehidupan. Kalangan tua sudah uzur baik usia dan pemikiran sehingga sangat wajar apabila mereka tidak pantas memimpin negeri ini. Mereka lebih tepat menjadi penasehat dan bapak bangsa. Sebaliknya generasi muda dianggap mampu melakukan perubahan, transformasi kehidupan berbangsa dan mampu melakukan revolusi kebangsaan.

Sejarah reformasi 1998 dipandang satu contoh telanjang bulat bahwa kaum muda bisa melengserkan kekuasaan rezim Soeharto yang cukup menyusahkan bangsa ini selama 32 tahun lebih. Kaum muda tidak hanya mantan aktivis mahasiswa 1998 namun pemuda-pemuda lain yang ikut mendorong lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan. Ini membuktikan bahwa kaum muda memiliki enerji dan pemikiran luar biasa guna menjalankan tongkat kepemimpinan masa depan.

Mereka dibekali dengan kekuatan kepemimpinan yang terbuka, revolusioner dan visioner. Perbandingannya adalah apabila kelompok tua sempit pandangan, tidak mau dikritik, suka memaksakan kehendak, tidak demokratis, pro status quo, simak saja, bagaimana selama kalangan tua memimpin negeri ini. Mereka terkesan menutup diri, seolah mencari menang sendiri dan suka menyalahkan lainnya. Maka, kalangan muda tidak demikian.

Mereka terbuka dan membuka diri terhadap masukan dari luar selama itu baik demi pembangunan bangsa ke depan. Mereka mampu bersikap demokratis. Oleh karenanya, bila dikelompokkan dalam dua golongan besar, maka kalangan tua disebut generasi konservatif yang tumpul pandangan dan pemikiran, sedangkan kalangan muda disebut generasi progresif, yang segar pandangan dan pemikiran.

Namun yang kemudian sering menjadi hambatan bagi kalangan muda ketimbang kalangan tua adalah faktor pengalaman. Banyak bermunculan pendapat bahwa masih rendahnya pengalaman yang dimiliki kalangan muda dalam memimpin selalu dijadikan isu, alat menjegal mereka sebab memimpin itu tidak semata membutuhkan energi dan pemikiran luar biasa. Memimpin memerlukan sebuah pengalaman cukup panjang dan prosesnya cukup lama, tidak asal potong kompas.

Barrack Obama, Generasi Muda Pemimpin AS

Siapapun akan sangat akrab dengan seorang Barrack Obama, seorang calon Presiden Amerika Serikat (AS). Kemenangannya terhadap Hillary Rodham Clinton dalam perolehan dukungan politik dari warga Amerika Serikat cukup luar biasa untuk mendapatkan tiket masuk bursa tunggal pencalonan Presiden dari Partai Demokrat. Ternyata, seorang Barrack Obama mampu mengalahkan seorang Hillary Rodham Clinton, seorang politisi senior Gedung Putih dan mantan Ibu Negara Amerika Serikat.

Barrack Obama adalah anak muda yang masih cukup hijau dalam dunia perpolitikan dibandingkan para seniornya, ternyata ia sangat dikehendaki oleh warga Amerika Serikat untuk memimpin negara Adidaya tersebut. Dari segi pengalaman kepemimpinan pun, ia masih kalah ketimbang para politisi senior. Sehingga bila dimunculkan pertanyaan, apa yang melandasi hal tersebut? Ternyata, warga Amerika Serikat menganggap bahwa pemimpin muda itu lebih memiliki semangat perjuangan idealisme sangat tinggi.

Idealisme memperjuangkan kepentingan bangsa ketimbang golongan dan pribadi sangat maksimalis. Sebab persentuhan mereka dengan politik kotor dan menjijikkan sangat kecil. Kendatipun ada, tidak sampai membentuk nalar mereka secara kental dan kuat. Hal ini berbeda dengan kalangan tua yang sudah bertahun-tahun bergelimang dalam dunia politik, terlebih lagi politik kekuasaan dan sektarian tertentu. Sehingga sangat wajar, bila mindset mereka pun menjadi menyehatkan bagi kehidupan berbangsa.

Figur Pemimpin Republik Ini

Diakui maupun tidak, apabila mencermati seorang Barrack Obama sebagai calon Presiden AS mampu mendapatkan dukungan politik luar biasa dari warga AS, maka generasi pemimpin muda Republik ini pun sangat yakin mampu melakukan hal sedemikian. Yang terpenting adalah bagaimana para generasi pemimpin di negeri ini harus memberikan serta menawarkan konsep jelas dan kongkrit untuk menyelesaikan persoalan bangsa.

Bila saat ini sudah tampil beberapa figur pemimpin muda, seperti Soetrisno Bachir, Rizal Mallarangeng, Prabowo Subianto, Yusril Ihza Mahendra dan lain seterusnya akan segera menyusul, maka mereka tinggal memberikan keyakinan politik kepada masyarakat Indonesia bahwa mereka tidak sama dengan kalangan tua bila di(ter)pilih sebagai pemimpin Indonesia 2009. Yang jelas, iklan pendidikan politik serta kampanye mereka melalui media massa baik elektronik maupun cetak sangat tidak cukup, diperlukan media dan strategi lain yang lebih menyentuh dan membentuk mindset masyarakat Indonesia.

Pertanyaannya adalah strategi politik apa yang dapat digunakan guna meyakinkan dan memikat masyarakat bahwa pemimpin muda lebih baik dari pada pemimpin tua? Apabila Barrack Obama mengambil isu nasional, seperti biaya kesehatan yang mahal, persoalan ras yang terkotak-kotak serta isu internasional tentang kebijakan politik luar negeri AS dan kemanusiaan pasca penyerangan terhadap negara-negara Timur Tengah, khususnya Iraq, yang kemudian menelan korban ratusan ribu orang baik dari tentara AS sendiri dan Iraq, termasuk kerugian material dan immaterial sehingga hal-hal demikian harus segera mendapatkan penanganan serta penyelesaian serius. Maka, generasi pemimpin muda Republik ini harus cerdas dalam mengambil isu tanah air yang selama ini diabaikan oleh para generasi pemimpin tua.

Iklan

Membongkar Mitos PTN

Suara Karya, 18 Juli 2008

Oleh Moh. Yamin, Ketua Freedom Institute for Social Reform (FISoR) &

Peneliti pada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Malang

Awal Juni lalu, perhimpunan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) menggelar Ujian Masuk Bersama (UMB) bagi calon mahasiswa baru yang ingin masuk perguruan tinggi negeri. Tanggal 2 Juli 2008, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) juga mulai digelar di setiap perguruan tinggi negeri (PTN). Baik yang mengikuti UMB maupun SNMPTN, seluruh calon mahasiswa baru memiliki tujuan yang sama. Mereka berharap diterima di perguruan tinggi negeri yang menjadi pilihannya. Ada mitos dalam pandangan calon mahasiswa baru, perguruan tinggi negeri akan bisa mengantarkan mereka ke gerbang pencerahan dan pencerdasan maha luar biasa. Dengan meraih lembaga pendidikan tinggi negeri, ini adalah sebuah prestasi membanggakan sehingga mereka pun akan digolongkan pintar, cerdas, memiliki kemampuan hebat dan lain seterusnya.

Suka maupun tidak menurut pandangan mereka pula, perguruan tinggi negeri dinilai sebagai lembaga pendidikan tinggi yang akan memberikan banyak kepuasan tersendiri dengan lengkapnya segala fasilitas yang dibutuhkan. Perguruan tinggi negeri dipandang sebagai tempat belajar yang sangat bernilai tinggi sebab dosen-dosennya sangat bermutu. Ini juga ditunjang dengan perpustakaan maha lengkap dan sempurna sehingga mahasiswa baru pun dengan mudah bisa mengakses segala informasi apapun yang dibutuh-perlukannya.

Perguruan tinggi negeri adalah tempat belajar yang juga dilengkapi dengan fasilitas serba maha canggih, seperti internet gratis yang aksesnya sangat cepat, gedung perkuliahan berlantai tiga bahkan lebih dengan didukung lift yang siap mengantarkan setiap mahasiswa baru agar cepat sampai ke ruang kelas. Hal itu juga ditopang oleh manejemen perkuliahan yang sangat profesional, seperti penataan satuan kredit semester (SKS) yang teratur dan tertib dari mata kuliah dasar hingga selanjutnya.

Begitu pula dengan adanya Kartu Rencana Studi (KRS) yang bisa diajukan melalui internet (on line). Ini pula diperkuat oleh adanya lingkungan pendidikan yang kondusif, dinamis dan mendidik. Sehingga mahasiswa baru akan nyaman dan bisa berkonsentrasi penuh untuk belajar. Yang pasti, perguruan tinggi negeri adalah lembaga pendidikan tinggi yang menawarkan sekian banyak kelebihan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh perguruan-perguruan tinggi pada umumnya. Sehingga calon mahasiswa baru yang sangat berobsesi tinggi pada perguruan tinggi negeri akan berandai-andai bahwa perguruan tinggi sedemikian itu akan mampu mempercepat cita-cita mereka untuk menjadi mahasiswa yang cerdas dan cepat selesai di bangku kuliah dengan menggondol gelar sarjana.

Tidak menutup kemungkinan pula dan ini adalah sebuah kekhawatiran publik, kendatipun calon mahasiswa baru sudah meraih dan menduduki perguruan tinggi negeri. Ini tidak menjamin, mereka akan sukses dalam menjalankan akademiknya sebagaimana semestinya.

Karena prestasi tidak selalu berjalan seiring dengan sudah maha lengkapnya perguruan tinggi tersebut di banyak sisi. Prestasi mahasiswa tidak melulu bisa dilahirkan dan digapai dengan adanya keberadaan perguruan tinggi yang begitu hebat baik sarana maupun prasarananya. Prestasi tidak bisa diraih dengan hanya mengandalkan label perguruan tinggi “negeri” an sich.

Perguruan tinggi negeri tidak menjamin seratus persen bahwa mahasiswa akan memiliki prestasi akademik luar biasa dan membanggakan bila mendiami perguruan tinggi sejenis itu. Dalam pandangan nativisme kendatipun paradigma ini dianggap konvensional namun bagi saya sangat penting untuk dikemukakan, prestasi dalam pendidikan adalah pembawaan atau bakat yang inheren dalam peserta didik (Ki Supriyoko dkk; Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional; Pustaka Fahima; 2007). Jadi, menggali bakat atau pembawaan tersebut tidak harus membutuhkan sebuah perguruan tinggi negeri sebab itu bisa dijalani di perguruan-perguruan tinggi yang tidak disebut negeri.

Bakat akademik dapat digali dan mewujud menjadi sebuah prestasi akademik bila mahasiswa memiliki kemauan dan niat kuat untuk belajar, dan itu tidak harus menunggu perguruan tinggi negeri. Dimanapun dan kapanpun prestasi dapat diperoleh kendatipun perguruan tingginya biasa-biasa saja. Melahirkan sebuah prestasi akademik di perguruan tinggi bisa ditempuh dengan membangun semangat belajar yang tinggi, yang ditimbulkan dari dalam diri mahasiswa. Semangat belajar dengan etos kerja tinggi disertai tekad bulat dan komitmen adalah kunci utama guna memeroleh prestasi maha hebat dalam dunia akademik.

Ada kecurigaan yang timbul, jangan-jangan calon mahasiswa baru membidik perguruan tinggi negeri hanya sebagai kedok agar mereka bisa dipandang akademisi tulen di tengah masyarakatnya kendatipun sebetulnya tidak. Mereka tidak ingin dan menghendaki bahwa publik akan menstempel mereka sebagai kelompok yang tidak berkualitas. Atau mereka takut kehilangan legitimasi previlisenya di hadapan orang banyak bila tidak belajar di perguruan tinggi negeri. Status sosial elit, berkelas tinggi dan embel-embel lainnya menjadi kejaran setiap calon mahasiswa baru agar mereka mempunyai kelas sosial yang lebih tinggi dari pada lainnya.

Mereka mendapat respek dari publik. Mereka menjadi orang-orang yang dihargai, dihormati, disanjung-sanjung dan lain seterusnya oleh masyarakat sekitar. Yang pasti, ketika kecurigaan ini adalah jawabannya, mahasiswa-mahasiswa kita sudah patut disebut lebih mementingkan prestise supaya mereka tidak kelihatan bentuk aslinya yang ompong dan tong kosong nyaring bunyinya. Pertanyaannya adalah apakah mereka lebih mengedepankan prestise dengan meraih perguruan tinggi negeri atauhkah perguruan tinggi tanpa harus berlabel negeri namun mampu melahirkan prestasi luar biasa?