Duta Masyarakat, 10 Juli 2009
Oleh Moh. Yamin, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang
Pada tahun ajaran 2009/2010, banyak siswa sedang berburu dan berebut kursi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) baik itu tingkat Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) maupun Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN). Dalam pandangan mereka, masuk RSBI merupakan sebuah harapan agar bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas sebab RSBI dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang maha lengkap, ditunjang oleh para pengajar yang memiliki kualifikasi sangat bagus. Seolah, RSBI menyimpan sekian banyak impian pencerdasan dan pencerahan ketimbang sekolah pada umumnya. Dalam konteks lain, RSBI merupakan lembaga pendidikan yang disiapkan agar para peserta didik kemudian bisa belajar secara aktif dan progresif. RSBI cukup berperan mempercepat kemajuan belajar siswa ketimbang sekolah pada umumnya. Kurikulumnya yang dirancang secara sempurna, dengan pola pengajaran yang sangat baik akan bisa mendorong para siswa bisa sukses belajar. Sehingga mereka tidak ketingggalan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Akhirnya, keinginan menjadi anak cerdas benar-benar terealisasi dengan sedemikian nyata. Akan tetapi lepas dari itu semua, dana yang harus disediakan dan dikeluarkan agar bisa menikmati RSBI sangat besar sehingga siapapun harus memiliki duit sangat banyak.
Kendatipun demikian, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah benarkah kalau RSBI mampu memberikan pendidikan yang memuaskan sehingga para siswa bisa cerdas? Inilah yang perlu mendapat diskusi panjang dan serius oleh banyak kalangan orang tua murid dan para anak didik itu sendiri, termasuk masyarakat secara umum sebelum menjatuhkan pilihan masuk RSBI. Berdasarkan hasil Ujian Nasional (UN) SMPN dan SMAN Juni 2009, banyak siswa RSBI tidak mendapatkan peringkat terbaik, justru peringkat paling hebat kemudian direbut oleh para siswa yang berada di sekolah pinggiran. Sejumlah kota/kabupaten di Jawa Timur yang memiliki RSBI, itu sudah menjadi fakta tak terbantahkan.
Kondisi tersebut juga tidak jauh berbeda dengan hasil UN di sejumlah kota pada beberapa provinsi lain di tanah air. Oleh karenanya, RSBI kemudian bukan sebuah jaminan bahwa para siswa akan mendapatkan pelayanan pendidikan yang berkualitas sebab faktor yang mendorong para siswa dapat dan bisa belajar secara maju bergantung pada inisiatif masing-masing pribadi walaupun lingkungan juga memiliki peran sangat strategis dalam keberhasilan para siswa kendatipun tidak begitu dominan. Sehingga dengan demikian, mitos RSBI yang dianggap paling hebat dalam mendidik para siswa tidak mesti diyakini seratus persen.
Masyarakat, terutama para orang tua siswa harus menggeser paradigma tersebut. Jangan terlalu mendewakan RSBI sebagai jalan paling final guna menitipkan anak-anaknya dalam bersekolah dan mencari ilmu. Sebab bila RSBI dijadikan ujung tombak keberhasilan pendidikan anak-anak didik, hal tersebut sama halnya tidak percaya kepada kemampuan anak didik itu sendiri. Bila semua anak memiliki potensi dan bakat sejak dilahirkan, itu menjadi gagal dijadikan basis agar anak didik dapat menentukan masa depan dirinya.
Bahkan, apabila Allah SWT berfirman, `aku tidak akan merubah nasib suatu kaum bila tidak mau merubahnya`, hal tersebut pun menjadi gagal dijadikan dasar hidup setiap orang tua murid. Yang jelas, terlalu percaya kepada RSBI merupakan sebuah kasalahan total dan besar. Ini sama halnya tidak percaya kepada Sang Maha Kuasa yang memiliki segalanya baik yang berada di langit maupun di bumi. Orang tua murid kehilangan sandaran teologis dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya sebagai hamba Tuhan.
Mereka terjebak pada sandaran rasionalitas an sich yang tidak selalu benar. Kekuatan rasio menjadi kuat bekerja sedangkan kekuatan teosentris menjadi dibuang dengan sedemikian jauh. Ini sangat ironis. Oleh sebab itu, orang tua murid kemudian harus lebih berpikir arif dan bijaksana dalam menyekolahkan anak-anaknya. Jangan terjebak pada pencitraan yang dibentuk oleh publik bahwa RSBI akan bisa mengantarkan anak-anaknya pintar dan cerdas. Di sekolah manapun selama siswa mempunyai kemauan dan keinginan kuat untuk maju, mereka pasti akan menuai prestasi. Ambil contoh, pesantren sebagai tempat para santri belajar justru lebih banyak melahirkan tokoh besar.
Hal tersebut sama halnya dengan sekolah pinggiran dengan fasilitas sangat sederhana yang kemudian dibuktikan oleh hasil UN. Justru yang sangat penting ditekankan adalah peran keluarga amat menentukan keberhasilan pendidikan anak-anak didik sebab waktu yang paling banyak dihabiskan itu ada di rumah, sedangkan sekolah dan kehidupan bersosialisasi di tengah masyarakat tidak begitu banyak membentuk mindset hidup anak didik. Kini menjadi tantangan para orang tua agar memberikan pencerahan kepada anak-anaknya sebelum memilih sekolah.
Berupaya menyadarkan anak-anaknya agar membangun motivasi belajar sangat tinggi harus ditumbuhkan dengan sedemikian rupa. Orang tua harus bisa membuka pandangan hidup anak-anaknya agar bisa terbuka membaca setiap kenyataan hidup. Berikanlah sejumlah banyak masukan, petuah dan wejangan yang bersifat konstruktif kepada anak-anaknya sebab hal tersebut menjadi bekal hidup mereka di masa mendatang.
kelihatannya makin banyak masyarakat yang memandang seperempat mata pada siitem pendidikan nasional kita. sehingga mereka menaruh harapan besar pada sistem pendidikan lain.
ambil positifnya ajalah, dek…
kalau kita semua, bukan cuma guru di kelas, mau bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas pendidikan nasional, ga perlu RSBI atau semacamnya. secara konsep, sistem pendidikan nasional kita udah cukup bagus. pelaksanaannya???? wallahualam.
Bgm kbrnya bro?
bgm kbrnya? met PUASA… kapan ngikuti jejaknya Aal? HEHE….
Selamat untuk kompas jatimnya kamis, http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/27/15225315/mempersoalkan.fatwa.mui.sumenep
semoga saya lekas menyusul
salam
bn