Kompas Jatim, 11 November 2008
Oleh Moh. Yamin, Peneliti pada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Malang
Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) putaran II 4 Nopember 2008 sudah usai. Rakyat Jatim tinggal menunggu hasil resmi pengumuman Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jatim, apakah Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (KaJi) atau Soekarwo-Syaifullah Yusuf (KarSa) yang akan memimpin Jatim 2008-2013. Yang sangat menarik dalam proses pemilihan kepala daerah (pilkada) tersebut adalah Nahdlatul Ulama (NU) selalu ikut serta meramaikan calon, apakah KaJi atau KarSa. Lebih tepatnya, banyak pengurus muda dan tua (kalangan sepuh) NU mulai dari Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang Kota maupun Kabupaten, Pengurus Kecamatan dan bahkan Pengurus Ranting pun ikut berbondong-bondong menjadi tim sukses pemenangan calon tertentu.
Mereka semua berdalih atas nama NU dan kepentingan umat. Sehingga ini kemudian mengesankan bahwa NU menjadi terkomoditaskan. NU dijadikan alat kepentingan sekelompok tertentu demi tujuan sempit dan kerdil. Pertanyaannya adalah atas nama NU dan kepentingan umat versi siapakah mereka berbicara? Sangat susah untuk dicari jawabannya. Sebab yang terjadi di ranah praksis, sebagian besar justru memanfaatkan NU sebagai media mencari keuntungan pragmatis an sich. NU dikomersialisasikan demi mencari duit. Ini sungguh ironis.
Apakah pengurus NU hari ini mulai Pusat hingga Daerah sudah melupakan pesan para pendiri NU, sebut saja Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Sansuri dan lain seterusnya supaya NU harus menjadi rahmatan lil alamin. NU menjadi rumah untuk semua sehingga NU harus dijaga keberadaannya sebagai organisasi kemasyarakatan, bukan organisasi politik mencari kekuasaan dan jabatan.
NU, Barang Dagangan
Realitas politik menunjukkan bahwa seolah NU sudah dijadikan barang dagangan oleh sekelompok orang yang berpengaruh di tubuh NU dan di depan masyarakat nahdliyin. NU dijajakan dengan sedemikian rupa. Ia ibarat perempuan cantik yang bisa didekati dan dinikahi oleh siapapun selama siap membayar dengan mahar sangat mahal. Tidak peduli, apakah ia kemudian dipolitisasi dengan mengorbankan kepentingan umat NU.
Ketika kondisinya menjadi sedemikian kronis, NU tak ubahnya wanita penghibur yang tidak memiliki harkat dan martabat. Ia sangat rendah wibawa dan kehormatan. Kadar wibawa dan kehormatannya menjadi luntur dan tercabik-cabik dengan sedemikian parah. Sangat mungkin, idealisme NU sebagai alat perjuangan sosial-keagamaan pun menjadi tergadaikan. NU menjadi underbow kepentingan golongan tertentu akibat perilaku, sikap dan tindakan oknum-oknum yang memanfaatkan NU demi kepentingan pribadi dan golongan.
Perpecahan di Tubuh NU
Diakui maupun tidak, perpecahan akan muncul ketika sesama pengurus berbeda jalan atau ketika sesama pengurus menjadikan NU sebagai alat pemenangan seorang calon tertentu. Sebab di situlah muncul, sikap saling mendukung calon dengan saling menjelekkan dan menjatuhkan calon lain. Ini merupakan sebuah keniscayaan.
Tatkala atmosfirnya menjadi panas, persahabatan, pertemanan, persaudaraan dan lain seterusnya antar sesama pengurus NU akan mulai hilang. Mereka akan saling membenci satu sama lain. Sehingga ajaran ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) seperti tawasuth, tawazun, tasamuh, i’tidal dan lain seterusnya pun menjadi barang langka untuk dihidupkan. Mereka terlelap di lautan dendam kesumat. Pertanyaannya adalah siapakah yang disalahkan? Semua bersalah dalam konteks tersebut.
Sebab masuk dan menjadi pengurus NU memiliki tujuan mulia untuk berjuang demi kepentingan umat, bukan kepentingan partai politik tertentu, golongan, suku dan lain seterusnya. Berkiprah di NU bukan diniatkan mencari secuil kekuasaan maupun kekayaan namun mengabdi demi kemasalahatan umat dengan setulus-tulusnya. Ini belum lagi berbicara efek langsung terhadap masyarakat nahdliyin yang kemudian berpotensi terpecah belah.
Selamatkan NU
Tragedi yang telah menimpa NU sedemikian jangan sampai terulang kembali. Menyelamatkan NU adalah sebuah keniscayaan tak terbantahkan. NU harus dihadirkan sebagai ormas yang menjaga netralitas dan independensi. Politik aji mumpung harus dibuang jauh-jauh dari sikap dan pikiran para pengurus NU mulai dari Pengurus Besar hingga pengurus Ranting. Apabila ada sejumlah pengurus NU yang ingin bermain politik praktis, berhentilah menjadi pengurus NU secara definitif dan silahkan aktif di partai politik. Sebab ini lebih bijak dan arif sehingga NU tidak dikesankan dipolitisasi. Akhirnya, masyarakat nahdliyin pun tidak terseret-seret masuk gelanggang politik praktis pula.
Tantangan NU 2009
Pemilihan Umum (pemilu) 2009 baik legislatif (DPR Pusat, Propinsi, Kotamadya atau Kabupaten) maupun Presiden-Wakil Presiden sudah di depan mata. Apakah NU akan kembali dipolitisasi? Kemungkinan besar adalah “ya” ketimbang “tidak”. Siapakah mereka? Pertama, para pengurus NU yang mencalonkan diri atau dicalonkan sebagai calon legislatif atau yang berencana ingin jadi RI 1 atau 2. Kedua, para pengurus NU yang menjual NU demi memenangkan calonnya baik di tingkat legislatif maupun eksekutif.
Lebih tepatnya, mereka menjadi broker (makelar) semata selama mendapat keuntungan tertentu di balik itu. Pertanyaannya adalah sampai kapan NU harus berpolitik dan kapan kemudian harus mengabdikan diri demi kemaslahatan umat? Inilah tantangan besar NU ke depan, semoga “yang merasa menjadi pengurus NU” sadar diri dan mau mengambil langkah re-orientasi perjuangan demi kepentingan umat, bukan atas nama golongan dan pribadi. Mereka mengambil pelajaran berharga dari sejumlah realitas momen politik tatkala NU harus berpolitik atau dipaksa untuk ikut berpolitik praktis.
Slut, Selamat Bung
makasih bung
Apa yang engkau pikir tentang POLITIK kawan? NU? Sejak NKRI ini berdiri, NU sudah menjadi bagian penting dalam proses-proses politik. Itulah kenapa, NU memiliki POLITIK KEPELOPORAN. Hanya, dalam perkembangannya, POLITIK KEPELOPORAN NU berubah menjadi POLITIK GENOSIDA terhadap NU. NU betul2 dihancurkan secara sistematis oleh yang namanya lawan2 NU.
CERMATILAH FAKTA-FAKTA BERIKUT:
BIDANG EKONOMI BISNIS: Dihancurkannya basis-basis ekonomi-bisnis Nahdlatu at-Tujjar yang merupakan cikal bakal organisasi NU oleh jaringan ekonomi kolonial. Hal ini kian diperparah dengan proyek DEVELOPMENTALISME Orba.
BIDANG PEMIKIRAN: Dihancurkannya pusat utama pemikir-pemikir dari kalangan nahliyin yang bernama Tasywirul Afkar oleh kekuatan kolonial melalui politik pecah belah. Kini, Tasywirul Afkar hanya menjadi nama jurnal LAKPESDAM NU.
BIDANG MILITER: Dihancurkannya kekuatan militer kaum nahdliyin oleh program rasionalisasi tentara yang digagas Moh. Hatta pada tahun 1948, yang mensyaratkan tentara harus berijazah. Akibatnya, laskar-laskar HISBULLAH dan SABILILLAH yang gigih berjuang memerdekakan dan mempertahankan NKRI tidak bisa menjadi tentara.
BIDANG PENDIDIKAN: Dihancurkannya pusat pendidikan Ma’arif dan Perguruan Tinggi NU melalui ordonansi guru (bantuan pemerintah mempersyaratkan penggunaan kurikulum dan pengawasan pemerintah).
DLL.
BERPOLITIKLAH! KUNCINYA, SESAMA KADER NU HARUS CARE AND SHARE!!!!
Saya setuju, NU harus berpolitik tapi bukan politik kekuasaan namun politik pemberdayaan yang berorientasi pada kemasalahatan umat sebab ia didirikan untuk sosial-keagamaan. Saya setuju pula, NU sejak berdiri tahun ‘26 telah berpolitik namun setelah menjadi partai politik, orientasinya sudah berbeda. Oleh karenanya, bila ada khittah NU ‘26 di Situbondo, maka itu harus dijalankan, bukan sematas jargon semata. Saya sangat peduli sama NU sebagai anak muda yang besar dan dibesarkan di NU. Oleh karenanya, jangan sakiti hati nurani khittah NU, ini adalah amanat para kiai, para pendiri NU: Mbah Hasyim A, Mbah Wahab H, Mbah Bisri S dan sejumlah pendiri lainnya. Sebagai anak muda NU, mari lepaskan NU dari lingkaran cengkraman kepentingan politik kekuasaan yang menjauhkan NU dari khittah NU ‘26. Setuju, kawan?
wah-wah…anak muda NU harus rukun ya….saya kecewa dg NU makannya saya memutuskan untuk hijrah…separuh kehidupan bapak simbokku dihabiskan untuk NU, tapi apa balasannya….”sabar, kita harus iklas beramal…eh tetangga yang punya uang Nyogok salah satu sekolah tinggi NU bisa masuk….(itu salah satu aja) menurut saya organisasi apapun kalau KKN dan fanatisme buta itu tetap dipelihara ya…ingatlah saat-saat kehancuran itu…he..maaf om, itu luapan sekaligus wujud kekecewaan saya pada salah satu oknum saja kok…tapi kasus yang saya amati dan pelajari ternyata “PODO WAE alias Sami mawon atau “SAMA AJA”…salam salut dengan para pemuda yang gagah berani…
Buat Yamin: Khittah harus dibaca dalam konteksnya. Jangan Engkau lepaskan! Nah, hari ini, yang perlu kita lakukan bukan patuh buta pada khittah semacam itu. Bagi saya, khittah dalam konteks kekinian sama dengan “nonton orang berkuasa”. Apa enaknya sebagai penonton kawan? Selamanya, kaum kita akan dikibuli. Kita harus berpolitik!!! Hak sejarah kita yang direbut oleh “mereka” harus diambil kembali…
Buat Agus: Saya hanya ingin mengatakan, rawatlah rumahmu sendiri meski tak sebagus rumah orang lain. Meski buruk rumahmu, tapi RUMAHMU TETAPLAH RUMAHMU. Jangan jadi pemilik rumah yang tak memiliki raya memiliki…. Apalagi, jadi pemilik yang tak punya perasaan berdosa ketika membakar rumahnya sendiri….
Buat Ipung: sepanjang sejarah NU harus tetap melakukan kontektualisasi namun apabila NU yang didirikan Mbah Hasyim A, Mbah Wahab H dan Mbah Bisri S harus dipaksa berpolitik praktis atau merebut kekuasaan, itu telah melukai nurani khittah ‘26 dan mengecewakan beliau2. Haqqul yakin, NU tetap besar dan jaya kendatipun tidak berpolitik. Sangat sederhana bila NU harus berpolitik, seluruh kader menyebar ke seluruh banyak partai politik, lepaskan jabatan struktural dengan NU, namun bawalah nilai2 perjuangan NU. Sangat sederhana bukan…? Semoga kita sebagai anak muda NU, calon penerus bisa tegas dalam memegang prinsip perjuangan NU.
Buat Agus: terimakasih atas masukannya. Saya ingin berpesan, konsistenlah pada satu prinsip perjuangan, janganlah pindah2 karena sebuah faktor tertentu, kecewa adalah sebuah kewajaran, apabila ada masalah tertentu, selesaikanlah secara arif dan bijaksana sebab itulah tanggung jawab seorang penjaga dan penghuni sebuah rumah kebersamaan. Marilah berjuang dm kemajuan bersama kendatipun berbeda rumah…
bos yamin, usulanmu itu sudah lama terdengar dan hari ini sudah dilaksanakan… nyatanya, di situlah problemnya… yg ada hanyalah kehendak memperkaya diri sendiri jika yg berpolitik hanya orang-perorang…
tambahan: marilah kehendak berkuasa ini menjadi kehendak kolektif-organisatoris yang kesemuanya didedikasikan untuk kemaslahatan kaum nahdliyin… bukan untuk orang-perorang… kehendak berkuasa sudah sewajarnya menjadi energi komunal krn qta memiliki hak sejarah yang harus direbut kembali…
Semoga saja kita bisa menjadi anak muda NU yang mampu menyatukan seluruh energi yang berserakan dan berhasil menuntaskan semua persoalan secara jernih.
Maaf om, terkadang terasa ringan kata itu terucap jika tak ada derita yang menyertainya…terasa ringan kaki ini, jika memang tidak ada beban menggelayuti, tetapi “kata” itu akan sangat berat ketika diri merasakan dampak kata itu. Manusia memang egois, ketika melihat rumah orang lain terbakar, simpati dan kata-kata manis berbusa amat ringan terlontar…tetapi, ketika rumah sendiri terbakar, jeritan, sayatan nan menghiba itu acap kali muncul. Bagi saya, tidak ada “kutu loncat” dalam prinsip saya….akidah itu telah menempaku sejak kecil, memilin dan melilitku sedemikian kokoh,..sakit dan teramat sakit memang..ketika ibu kandung mencampakkan begitu saja, anak yang selama paruh usia berbakti dengan sepenuh hati…saya tetap konsisten pada “jalan lurus” yang menempaku…tetapi maafkan saya jika lantas perahu yang kita kayuh berlainan biduknya..entah suatu masa, ketika ibu kandungku menjadi bijak, ringan kaki ini untuk bersujud diharibaan kakinya…amin..jalan menuju Tuhan memang unik dan terkadang terjal, mendaki, menurun tajam, culas, licik, binal, liar, cabul, tetapi apa lantas kita menghindar dari wajah ayu tuhan, wajah perkasa yang tiada tergurat kata apalagi ucapan manusia yang serakah….jalan itu sebenarnya indah…indah sekali..
kata itu
kenapa ringan
ringan
hingga kapas
terasa ringan
taukah kau
sedetik lalu
ia mati
merasakan kata
yang ringan itu
Wah2, sejak kapan jadi penyair? Semoga prinsip tersebut selalu dipegang teguh…
wah… yg ingin ku-KATA-kan: “pejuang” dengan “pengkhianat” itu bedanya tipis kawan… mg2 agus jadi pejuang…
Semoga saja begitu. Tapi waktulah yang akan menantukan siapakah yang tetap berada dalam prinsip2 perjuangan…
jalan islah itu sudah terbuka lebar om…semua pihak menyadari…oknum yang menyakitiku emang udah terbukti korup…saatnya berbakti pada ibu pertiwi..
Sepakat dech…
Awalnya, q hanya ingin tersenyum geli, tapi karena tak terbendung: hahahahahahahahaha!!!!!!!!!
Kita hanya bisa berharap saja……
Ass.
Salam kenal mas Yamin, Mas Saiful dan MAs Agus, and semuanya. Saya Muhibuddin Ciputat, kalo sampean kenal Heri Mantan Ketum PB dia itu kakak angkatan saya.
Begini mas, saya sangat menikmati perbincangan sampean semua di atas, menarik!
Tp aku melihat di kalangan awam, sudah mulai timbul apatisme terhadap NU apalagi partai yang ‘mengaku’ partainya wong NU.
Kadang saya juga membenarkan lahirnya sikap seperti mas agus itu, sebab elit NU yang ngantor di PBNU aja menunjukkan performance yang kurang menarik di hadapan umat nahdliyin.
ya kalo do’a ’semoga’ seperti itu, ya aku juga berdo’a, ttp masalahnya apa selesai dengan do’a???
kayaknya, [mohon maaf] do’a kyai2 NU sekarang juga kurang mujarab, apalagi do’a kyai 2 yang terlibat [money] politik.
kembali saya ingin menegaskan: jika rumahmu rusak, jangan dihancurkan. perbaikilah! jangan pernah ada kata “tak bisa”. jadi umat mesti optimis, kerja keras, dan teguh pendirian. Makasih!
Makasih Mas Muhib dan Ipung, dalam pengamatan saya, itulah realitas saat ini, sebagian besar tanpa harus menyamaratakan, para pengurus NU (sepuh) sudah mulai kehilangan kekuatan kesabarannya untuk tidak berpolitik praktis, saya pun hingga sekarang belum dapat jawaban, mengapa itu bisa terjadi? barangkali, jawaban sementara adalah uang dan kekuasaan, namun ada jawaban lebih mendalam. Mungkin, tingkat kesadaran pendidikan dan tanggung jawab belum dibangun dengan sedemikian kuat baik dalam sikap, pikiran dan tindakan beliau-beliau. Semoga ini menjadi refleksi bersama…
semoga refleksi introspektif teman2 dilanjutkan dengan refleksi prospektif, di mana sumber daya ormas qta bisa dikonversi menjadi kekuatan organisatoris di masa yg akan datang…. kl hanya refleksi introspektif, yg ada hanyalah kekecewaan. padahal, masa depan tidak dibangun di atas rasa kekecewaan berlebih…. marilah berefleksi secara total sebagaimana yg kusebut di komentar paling awal…. terima kasih!
ini ngomongin bola ya. NU-PKNU berapa2? kalo dg PKB? he he he….
memperbaiki rumah..ya kalau si empunya rumah mau dibantu..kalau enggak?…sementara rusuk itu satu-satu kena osteroporosis, lengan kena kutu kurap, sementara dengkul yang untuk sujud, kena kaki karena sering maen bola terus…
Salut dengan Pak Ipung….bijaksana, bersahaja, n setia pada ibu pertiwi…smoga apa yang menimpa temen-temen (termasuk pada aku) tidak menimpa pak ipung pula, coz kalau kena….waduh, meminjam kata pak aal…ampun-ampun deh! apalagi cinta pak ipung udah menderu-deru….tak bisa lekat oleh apapun, ngeri…
kl aq beda gus: semoga tak ada lagi kader hipokrit/munafik!!! itu aja. simple dan kena sasaran.
kepada Yamin, terima kasih telah memfasilitasi saya menyalurkan kebencian pada kader hipokrit….
Oh ya…maaf pak yamin…tempatnya jadi ajang diskusi…oh ya sebelum memanas dan melukai banyak pihak…saya tidak melanjutkan diskusinya…selamat berjuang dan tetap produktif menulis di media…karena akan dengan itu eksistensi kita masih diakui…kagem pak ipung…salut deh perjuangannya…semoga ucapan “kader Hipokrit” itu tidak melukai banyak pihak, Cukup sudah kebencian yang dikonstruk para “pengarep” kita, jangan kita menambai..oh ya kapan ke Jogja? Blandongannya semakin ramai lho…?
haha. melukai? kayak orang lain tak terluka aja tatkala “rumah rusak” (menyimpulkan bahasamu) yg mestinya dirawat ditinggal… ya, tak apalah. secara pribadi, aq hanya bisa berharap, semoga kesadaran organisatoris menjadi bagian dalam nafas orang2 yg sadar sejarah… dan, semoga fenomena “bunglon” tak menjadi preseden buruk bagi kader kaum nahdliyin. iya, nanti qta ngobrol lebih serius sambil ngopi….
buat yamin, terima kasih dan mhn maaf telah “mengotori” blogmu. kl engkau tak berkenan, segera hapus polemik panas ini. mudah dan murah!
catatan:
engkau boleh menghapus polemik ini, tapi mhn jangan hapus sejarah bahwa engkau adalah bagian dari kaum nahdliyin. permintaanku hanya itu. terima kasih dan mhn maaf!!!
ada yang lupa: aq setuju dengan agus, teruslah menulis. jangan seperti aq yg sudah KO. makanya, kl ada reportase “Daun-daun Muda Penulis Jogja”, rekomendasiku: dokumentasikan nama agus dkk itu. biar tak menggugat!
sebagai catatan: menulis di media massa bukanlah satu2nya ukuran pengakuan terhadap eksistensi diri. masih terll banyk aktivitas lainnya yg perlu dihargai…. dunia ini luas! Thank a lot!!!
Saya sangat bersyukur, teman2 menjadikan blogku sebagai tempat curhat. Semoga teman2 semakin produktif. untuk Ipung, ayo semangat menulis, sisihkanlah sebagian waktunya untuk menuangkan gagasan dalam tulisan. Bagi semua kawan juga, Mari berjuang atas prinsip kebersamaan dan kemanusiaan. bangsa ini menunggu kiprah anak muda. Sudah saatnya yang muda berada di depan dan menjadi pemimpin….
Oke pak ipung….maaf komentar terakhir itu juga dikirim orang ke aku ketika aku menulis “menanti sumbangsih Kaum Akademik”. Menurutku SIP lah…karena dosen pembimbingku juga seperti itu…tidak menulis karena alasan membimbing, mengajar dsb…maaf lho pak ipung aku hanya ingin memberi semangat agar engkau sehebat dulu, merajai dunia penulis…he..itu kata temen2 lho..
Makasih!
seneng lihat wajah pak ipung sekarang tambah ganteng…Btw kapan nikahnya????
hehe. jangan gitu lah. saya hanya narsis saja. hehe. kl sesuai rencana, insyaAllah pertengahan 2009 mendatang. mhn kunjungannya. buat semuanya, Met Hari Raya Idul Adha di tahun yang akan segera berakhir ini.
kepada Ipung dan agus, semoga kalian semua segera cepat nikah, termasuk juga aal. Aku nyusul kemudian, deh….