Banjarmasin Post, 12 Februari 2006
Judul : Menggagas Manusia Sebagai Penafsir
Penulis : Dr. A. Sudiarja, SJ; Prof. Dr. A. Gianto, SJ; Thomas Hidya Tjaya, SJ, MA; Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno; Dr. F. Budi hardiman; Prof. Dr. Alex Lanur, OFM
Editor : Th. Hidya Tjaya, SJ
J. Sudarminta, SJ
Penerbit : Kanisius
Terbitan : Cetakan I, 2005
Tebal : 182 Halaman
Peresensi : Moh. Yamin, Pemerhati Sosial Pendidikan & Pegiat Perbukuan FKIP Univ. Islam Malang
Di tengah belantara posmodernisme dengan berpijak pada pemikiran anti kemapanan. Maka, mainstream pemikiran kita hari ini menjadi aneh dan sangat baru. Kita dihadapkan pada satu metodologi berpikir yang serba membongkar dan memberontak-oriented. Seolah tidak menginginkan adanya bangunan pemikiran yang pro status quo. Pemikiran statis dan jumud. Bahwa konsep kita harus seperti ini dan itu. Termasuk pula, paradigma berpikir sebagai pisau analisis jangan sampai usang dan busuk. Dalam buku ini, secara panjang lebar diuraikan bahwa hermeneutika sebagai kerangka berpikir menjadi satu keniscyaan. Pendek kata, hermenutika adalah basis pemikiran alternatif yang hari ini banyak digandrungi oleh banyak tokoh elit kita, seperti filosof, pengamat, agamawan, akademisi, mahasiswa dan seterusnya.
Karena ia secara telanjang bulat memberikan ruang kebebasan seluas-luasnya pada manusia untuk melakukan kajian-kajian pemikiran. Agar pemikiran kita tidak terpasung dan dipasung. Tidak stagnan. Malahan, pemikiran kita dibiarkan saja mengalir. Ia diberi hak sepenuhnya untuk berbuat apapun. Kemerdekaan untuk menyampaikan gagasan dalam kerangka hermenutika betul-betul dijamin secara taken for granted. Tak ada sesuatu hal yang akan menghambat kebebasan berpikir kita dalam hal tertentu. Seolah, hermenutika menjadi dewa penyelamat bagi dunia pemikiran. Sehingga mau tidak mau hermeneutika menjadi rebutan banyak orang. Ia selalu dipergunakan dan dijadikan fondasi berpikir dalam banyak bidang, semacam filsafat, agama, politik, dan sebagainya.
Disadari maupun tidak pula, hermenutika sebagai metedologi alternatif kemudian mampu mendorong manusia untuk berpikir kritis, radikal dan universal. Sehingga ia mengarahkan manusia menjadi mahluk yang selalu serba gelisah dan tak percaya pada realitas. Realitas bagi dunia hermeneutika adalah sebuah kebohongan dan kemunafikan. Realitas merupakan konstruksi sosial dengan berpijak pada konsensus tertentu. Realitas telah dikebiri oleh sebuah kompromi dan kompromi dari beberapa pihak. Sehingga sangat wajar apabila realitas harus dipertanyakan dan diragukan otentisitasnya. Melihat fenomena semacam itu, hermeneutika menegaskan secara aklamatif.
Bahwa segala hal yang ternyatakan dalam realitas tetap menyembunyikan pesan-pesan tersembunyi (hidden message). Realitas membawa nilai-nilai terselubung. Realitas menjadi sesuatu hal yang semu dan tak bermakna. Hermeneutika menganggap bahwa realitas, seperti teks suci, pernyataan seseorang, kejadian tertentu dan seterusnya selalu syarat akan kepentingan politik dari sekelompok orang. Oleh sebab itu, realitas semacam itu menjadi tidak substantif. Ia jauh dari tujuan realitas yang sesungguhnya. Karena hiper-realitas telah jauh dari realitas. Suka maupun tidak, bagi hermeneutika, realitas telah menjadi teks pro status quo.
Ia telah direcoki oleh paket kepentingan. Sejalan dari itu pula, hermeneutika sebagai paradigma pembebasan pemikiran manusia. Maka, ia mendudukkan manusia untuk mampu menterjemahkan kehendak teks secara sejati. Artinya, manusia sebagai penafsir harus mampu mengetahui latar belakang teks, pencipta teks, dan kondisi teks kekinian. Dengan perkataan lain, bagaimana teks mampu dikelindankan dengan persoalan-persoalan aktual. Sehingga melahirkan makna-makna baru. Teks bisa memberikan semangat baru dan harapan baru bagi kondisi kekinian. Selanjutnya, teks bisa menjelaskan dan memperjelas perannya sebagai sebuah realitas di depan masa kekinian. Jelas, manusia dalam konteks ini diminta-pertanggungjawabannya secara nyata. Oleh sebab itu, manusia sebagai orang yang ditempatkan sebagai sosok penting dalam konteks tersebut.
Maka, ia tidak serta merta harus tunduk dan mengamini atas realitas yang bersifat ekplisit tersebut. Manusia diharuskan melakukan dan menawarkan tawaran pertanyaan demi pertanyaan atas kegelisahan yang dialaminya atas realitas yang ada tersebut. Tak salah apabila hermeneutika menempatkan manusia sebagai penafsir atas sesuatu realitas yang ada di depan mereka (manusia). Manusia sebagai penafsir harus mencari tahu atas sebab musabab yang melatarbelakangi atas realitas tersebut. Manusia harus bisa diposisikan sebagai sosok yang bisa menjawab kegelisahannya itu. Sehingga menemukan titik akhir dari sebuah pertarungan kegelisahan, pertanyaan dan jawaban dari pergulatan tersebut.
Sehingga bisa melahirkan satu penuntasan atas beberapa hal yang tidak terjawab secara ekplisit. Menariknya dalam buku ini pula, Thomas Hidya Tjaya, SJ, MA menyampaikan. Bahwa hermeneutika sebagai basis paradigma pemikiran akan selalu bersangkut paut secara erat dengan kata kebenaran. Dan, ini merupakan satu pertanyaan abadi yang digeluti manusia sepanjang segala zaman. Sangat tepat apabila kebenaran dalam dunia hermeneutika akan selalu diperdebatkan. Suka maupun tidak, maka kebenaran dalam perbincangan hermeneutika akan selalu aktual. Ia tak akan bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Ia bisa menyelinap di manapun. Sangat niscaya bahwa kebenaran akan pasti dipandang dengan banyak paradigma, seperti teori kebenaran korespondensi, teori kebenaran koherensi dan teori kebenaran pragmatik (hal 60-62). Karena kebenaran itu sendiri adalah relatif. Selanjutnya, selamat membaca buku ini……………..!